Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, setiap tahun menjelang momentum kelahiran Nabi Muhammad saw  (maulid), di setiap daerahnya pasti memiliki euforia yang bermacam-macam. Ada yang memperingati dengan euforia kegiatan pengajian, solawatan, bazar, pesta rakyat, pasar malam, festival, karesan. Atau bagi sebagian milenialis memilih untuk q-time dan atau me-time untuk bersolawat sembari merenung sudah seberapa jauh meneladani sosok Nabi Muhammad saw dan mengamalkan sunnah-sunnahnya.

Bagi masyarakat Yogyakarta dan Surakarta, euforia maulid nabi identik dengan perayaan pasar malam sekaten. Sekaten mempunyai asal kata syahadatain yang berarti dua kalimat syahadat dengan makna kesaksian mengesakan Allah dan kesaksian bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Perluasan makan dari sekaten juga banyak seperti “sekat” yang berarti pembatas, “sakhatain” yang berarti menghilangkan dua watak (hewan dan setan), dan pemaknaan-pemaknaan lainnya. Sehingga bagi sebagian orang sekaten memiliki euforia yang bermakna lebih tidak sebatas mencari kebahagiaan hura-hura belaka. Puncak dari sekaten ialah upacara grebeg maulud yang biasanya digelar oleh keraton tepat pada tanggal kelahiran nabi 12 Rabiul Awal. Akan tetapi, pada tahun ini grebeg maulid digelar pada 13 Rabiul Awal (21 November 2018) dikarenakan beberapa hal.