Tanggal gajian adalah hari yang paling dinanti pekerja muda. Namun, sering kali kebahagiaan itu hanya mampir sebentar saja. Notifikasi transfer masuk, lalu tagihan langsung menyedotnya keluar. Bagi kita yang bergaji UMR atau di bawahnya, ini realitas pahit. Kita bekerja keras, tapi sisa uang sering kali pas-pasan. Rasanya ingin sekali “healing” seperti orang-orang di media sosial.
Kita melihat teman-teman pamer liburan ke Bali atau luar negeri. Mereka menyeruput kopi mahal di kafe estetik setiap sore. Istilah “healing” seolah dibajak menjadi gaya hidup konsumtif mewah. Seakan-akan obat stres itu harus dibeli dengan harga mahal. Padahal, kondisi dompet kita sedang teriak minta tolong. Memaksakan diri ikut tren hanya akan menambah beban pikiran baru.
Ekonomi modern memang makin tidak ramah bagi dompet anak muda. Harga kebutuhan pokok naik, tapi kenaikan gaji merangkak lambat. Kita terjepit di antara kebutuhan hidup dan kebutuhan waras mental. Stres di tempat kerja menumpuk tanpa ada saluran pembuangan. Kita butuh pelarian, tapi kita tidak punya dana liburan.
Lantas, apakah kita tidak bisa untuk bahagia dan tenang?
Ubah Strategi
Jawabannya tentu saja tidak. Kita hanya perlu ubah strategi. Kita perlu mendefinisikan ulang makna “healing” yang ramah kantong. Ada dua sahabat lama yang sering kita lupakan sekarang. Mereka adalah film yang bagus dan buku yang bermutu. Keduanya menawarkan tiket perjalanan tanpa perlu ongkos pesawat mahal.
1. Menonton Film
Menonton film adalah cara termudah melarikan diri dari realitas. Dengan modal langganan streaming patungan, kita punya akses tak terbatas. Biayanya mungkin setara dengan harga satu kali makan siang. Namun, durasi hiburannya bisa bertahan sebulan penuh tanpa henti. Kita bisa masuk ke dunia lain yang jauh lebih menarik.
Saat lampu kamar dimatikan dan film diputar, dunia berubah. Kita bukan lagi karyawan rendahan yang dimarahi atasan tadi pagi. Tapi, kita bisa menjadi detektif yang memecahkan kasus di Los Angeles, atau menjadi astronot yang menjelajahi lubang hitam antargalaksi. Masalah hidup kita sejenak terlupakan dan digantikan adrenalin cerita.
2. Membaca Buku
Begitu juga dengan membaca buku, ini adalah investasi termurah. Kita tidak harus membeli buku baru yang masih segel plastik. Toko buku bekas adalah surga bagi pemburu cerita murah. Atau lebih hemat lagi, gunakan aplikasi perpustakaan digital gratis. Aplikasi seperti iPusnas menyediakan ribuan buku tanpa biaya sepeserpun.
Membaca buku memberikan sensasi ketenangan yang sangat berbeda dari film. Saat membaca, otak kita dipaksa untuk melambat dan fokus. Ini adalah antitesis dari budaya scrolling cepat media sosial. Kita diajak menyelami pikiran karakter kata demi kata. Imajinasi kita bekerja aktif membangun visual di dalam kepala.
Manfaat yang Harus Kamu Tau
1. Fakta Menarik Studi dari University of Sussex
Ternyata, aktivitas sederhana ini punya dampak ilmiah yang kuat. Sebuah studi dari University of Sussex membuktikan hal ini. Dr. David Lewis, seorang neuropsikolog, menemukan fakta menarik pada 2009. Membaca buku selama enam menit saja bisa menurunkan stres 68%. Angka ini lebih tinggi daripada mendengarkan musik atau berjalan-jalan.
Fakta ini adalah kabar baik bagi kita kaum gaji UMR. Kita tidak perlu spa mahal untuk menurunkan detak jantung. Cukup enam menit tenggelam dalam novel fiksi yang seru. Otot-otot yang tegang akan kembali rileks secara otomatis. Ini adalah metode terapi mandiri yang sangat efisien biaya.
2. Bisa Baca Tapi Gak Paham. Paham?
Selain hemat, hobi ini diam-diam meningkatkan kualitas diri kita. Di era digital, kemampuan literasi anak muda makin merosot. Banyak orang bisa membaca, tapi tidak paham apa yang ia baca. Mereka kesulitan menangkap inti masalah dan mudah termakan hoaks. Membaca buku melatih kita untuk berpikir runtut dan logis.
3. Gak Perlu Ikut Kursus Bahasa
Kosakata kita akan bertambah tanpa perlu ikut kursus bahasa. Kita jadi lebih pandai menyusun kata saat berbicara atau menulis. Ini skill mahal yang berguna di dunia kerja profesional. Atasan akan lebih menghargai karyawan yang komunikasinya jelas dan terstruktur. Jadi, membaca buku juga bisa menjadi jalan menaiki tangga karir.
4. Pencitraan di Medsos? Apa itu?
Menonton film berkualitas juga melatih kepekaan visual kita. Kita belajar memahami bahwa setiap gambar punya makna tersirat. Warna, pencahayaan, dan sudut kamera adalah bahasa tanpa kata. Kita jadi tidak mudah tertipu oleh pencitraan visual di medsos. Kita paham mana yang estetik murni dan mana yang manipulatif.
5. Tau Rasanya Tanpa Mengalaminya
Lebih dalam lagi, fiksi mengajarkan kita tentang filosofi kehidupan. Kita belajar tentang moralitas dari konflik dari tokoh cerita. Kita melihat konsekuensi dari sebuah pilihan buruk tanpa mengalaminya sendiri. Film dan buku adalah simulator kehidupan yang paling aman. Kita bisa belajar bijaksana dari kesalahan karakter fiksi tersebut.
Misalnya, kita menonton film tentang perjuangan hidup yang keras. Kita jadi merasa tidak sendirian dalam menghadapi sulitnya ekonomi. Ada rasa solidaritas imajiner yang menguatkan mental kita kembali. Kita belajar bersyukur melihat ada tokoh yang nasibnya lebih buruk. Perspektif kita terhadap masalah sendiri jadi lebih proporsional.
Healing Jos Tanpa Boncos
Bagi kita yang bergaji pas-pasan, ini adalah hiburan cerdas. Kita tidak menghamburkan uang untuk kepuasan sesaat yang semu. Uang sisa gaji bisa dialokasikan untuk tabungan atau investasi. Sementara kebutuhan jiwa tetap terpenuhi lewat layar dan kertas. Keseimbangan finansial dan mental bisa terjaga dengan baik.
Jangan remehkan kekuatan duduk diam sambil menikmati sebuah karya seni. Sebab, ketenangan adalah barang mewah di tengah hiruk pikuk kota. Kita bisa menciptakannya sendiri di kamar kos yang sempit. Sedangkan, cangkir kopi sachet dan satu film bagus sudah cukup untuk menciptakan ketenangan. Itu adalah kemewahan yang tidak perlu validasi orang lain.
Kita harus berhenti membandingkan hidup kita dengan influencer kaya. Karena gak cuman mereka yang punya cara sendiri untuk menikmati uang mereka, kita pun punya cara sendiri untuk menikmati waktu kita. Tidak ada yang salah dengan gaya hidup sederhana dan hemat. Justru, itu menunjukkan kedewasaan kita dalam mengelola prioritas hidup.
Jadikan film dan buku sebagai sahabat setia dikala sepi. Mereka tidak akan pernah menuntut kita untuk tampil sempurna. Justru mereka menerima kita apa adanya, dengan segala kelelahan kita. Bahkan, mereka siap menghibur kapan saja kita butuh pelarian sejenak. Tanpa tiket masuk, tanpa reservasi, dan tanpa drama sosial.
Mulai sekarang, cobalah kurangi waktu menatap layar media sosial. Scroll tanpa tujuan hanya akan menambah rasa cemas dan iri. Gantilah dengan menonton satu film utuh sampai selesai. Atau, bacalah satu bab buku sebelum tidur malam ini. Rasakan perbedaannya pada kualitas tidur dan ketenangan pikiranmu.
Literasi visual dan tekstual adalah senjata rahasia masa depan. Maka, orang yang banyak membaca akan selalu punya wawasan luas, dan orang yang paham film akan punya rasa empati tinggi. Kedua hal ini tidak bisa dibeli dengan uang instan, melainkan hanya bisa didapat lewat proses menikmati karya.
Stop Merasa Rendah Diri!
Jadi, jangan merasa rendah diri karena gaji masih UMR. Karena kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah saldo rekening. Bahagia itu sederhana, sesederhana hanyut dalam cerita yang bagus. Biarkan imajinasimu terbang bebas melintasi batas tembok ekonomi. Karena di dalam pikiran, kita semua adalah orang yang merdeka.
Mari kita rayakan kesederhanaan ini dengan penuh rasa bangga. Karena kita adalah generasi muda yang tangguh dan cerdas menyiasati keadaan. Dan kita memilih untuk “healing” dengan cara yang membangun jiwa, bukan dengan cara yang merusak tabungan masa depan kita.
Ambil remotemu, atau buka halaman pertama bukumu sekarang juga. Kemudian, matikan notifikasi ponsel yang berisik dan mengganggu itu, serta izinkan dirimu beristirahat dari kejamnya dunia nyata sebentar saja. Selamat berpetualang di dunia fiksi yang indah dan murah. Kamu berhak mendapatkan kedamaian itu malam ini.

Comments