Sudah menjadi rahasia umum bahwasannya pupuk bisa membantu menyuburkan tanaman. Begitupun dengan bersyukur. Namun, ibarat kaleng Khong Guan yang ternyata isinya kejutan, kata pupuk dijadikan pembuka artikel supaya isinya terkesan berat, padahal topik yang akan dibahas ringan namun renyah yang bisa dinikmati semua kalangan bahkan jadi makanan rebutan, seperti halnya rengginang.

Tidak sedikit yang merasa bosan diceramahi untuk bersyukur, katanya hal tersebut bisa menambah kebahagiaan. Mungkin sebagian besar orang pernah merasakan ketika merasa susah disuruh untuk bersyukur, sedang insekyur disuruh bersyukur, lagi di rumah aja gara-gara lockdown, masih juga disuruh bersyukur, curhat ke temen dapet kata kata bijaknya pasti bersyukur.

Emang ada apa sih sama bersyukur? Sudah mengucapkan hamdalah berkali kali, tetapi tetep merasa biasa aja. Katanya bisa bikin bahagia, kata siapa? Bisa saja rentetan pertanyaan seperti ini muncul di kepala banyak orang, terutama yang masih merasa sangsi dan bosan disuruh bersyukur.

Bersyukur merupakan kegiatan sederhana yang mestinya mampu dilakukan oleh semua kalangan. Namun, sering kali orang-orang hanya sebatas melakukannya sampai mulut saja berupa ucapan “Terimakasih” atau pelafalan “Alhamdulillah” tanpa memaknai apa yang di syukuri dan tanpa menghayatinya sampai hati, sehingga rasanya tetap biasa saja. Sejatinya bersyukur itu ibarat ramuan yang memerlukan racikan ucapan, tindakan dan tentunya kesadaran supaya manfaatnya dapat dirasakan.

Dewasa ini, kesehatan mental mulai dipentingkan masyarakat dan perhatiannya bisa dibilang berbanding lurus dengan perhatian terhadap kesehatan fisik. Tentu saja bersyukur terlibat dalam perhatian ini. Dikutip dari Harvard Mental Health Letter, rasa syukur membantu orang merasakan emosi yang lebih positif, menikmati pengalaman yang baik, meningkatkan kesehatan mereka, menghadapi kesulitan, dan membangun hubungan yang kuat .

Berikut hasil penelitian yang menyebutkan kalau bersyukur bisa bikin hidup makmur. 

Bersyukur Bisa Meningkatan Kesehatan Mental

Rasa syukur dapat meningkatkan kesehatan mental walaupun seseorang merasa dalam kondisi yang kurang baik. Dalam penelitian yang dilakukan Y. Joel Wong dari Universitas Indiana Bloomington bersama beberapa rekannya menunjukkan bahwa mengungkapkan syukur dengan menuliskannya dapat bermanfaat tidak hanya untuk pikiran yang sehat dan dapat menyesuaikan diri, tetapi juga bagi individu yang bergumul dengan masalah kesehatan mental (Jaimee Bell 2020).

Jadi, kalo lagi merasa senang bisa diungkapin lewat dairy, blogging, atau caption media sosial, ya. Sehingga ketika merasa biasa aja atau bahkan sedih, tulisan itu bisa dilihat kembali untuk diingat bahwa masih ada sesuatu yang patut untuk disyukuri. 

Rasa Syukur Membantu Kualitas Tidur Lebih Baik

Bisa dikatakan obat yang paling simple untuk berbagai penyakit fisik, sosial atau mental dalam hidup adalah tidur yang cukup. Orang-orang yang memiliki rasa syukur cenderung hanya memikirkan hal-hal positif yang dilaluinya saat masih tersadar sebelum tidur. Sebuah penelitian menyebutkan intervensi rasa syukur efektif dalam meningkatkan kualitas tidur (Amie Gordon 2015).

Bersyukur Dapat Meningkatkan Mood 

Penelitian menunjukan bahwa menumbuhkan rasa syukur dapat membantu seseorang mempertahankan suasana hati yang positif dalam kehidupan sehari hari dan berperan pada kesejahteraan emosional juga dapat memberi manfaat sosial (Elizabeth Scott 2020).

Jadi, masih enggan untuk bersyukur? Ya itu sih terserah. Allah sudah ngasih tahu secara harfiah dalam ayatnya, bahwasannya yang beryukur, nikmat hidupnya akan ditambah. Manusia sudah mencari pembuktiannya dengan penelitian, bahkan kenikmatan itu kontan dirasakan ketika syukur dilakukan. Kalau syukurnya belum disertai kesadaran, ya no problem bisa latihan.

Rasa syukur memblokir emosi-emosi toxic, seperti iri hati, kebencian, penyesalan, dan depresi, yang dapat menghancurkan kebahagiaan kita

Dr. Robbert Emmons, Professor Psikologi di Universitas California

Editor: Nirwansyah

Ilustrasi: Greatmind