Dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan terakhir, sekitaran tempat tinggal kita dipenuhi oleh suara tek-tek-tek-tek-tek, baik pagi, siang, sore, atau malam. Suara yang berasal dari permainan dua bola plastik yang diadu dalam kurun waktu tertentu, biasa dikenal dengan Lato-Lato. Tentu meresahkan bagi segelintir orang karena mengganggu aktivitas sehari-hari atau jam istirahat.

Sebagian yang lain menganggap itu menyenangkan, khususnya anak-anak yang pada akhirnya mampu mengalihkan perhatiannya dari gadget. Permainan tersebut biasa dikenal di media atau orang Indonesia pada umumnya sebagai lato-lato. Namun, tahukah kita ketika orang Indonesia pada umumnya meresahkan suara yang dihasilkan dari lato-lato. Saya dan beberapa orang Makassar lainnya cukup terganggu dengan pengalihan kosa kata kami dari Latto’ menjadi lato.

Apakah ini adalah bentuk sikap ngalah bahasa Makassar terhadap penutur bahasa Indonesia? Atau jangan-jangan ini adalah bentuk kekejaman kita terhadap bahasa daerah?

Muncul kembali di Makassar

Sekitar bulan Agustus dan September 2022, permainan Latto’-Latto’ mulai menjadi tren di sejumlah tempat di Makassar. Permainan yang berasal dari daratan Eropa, yang entah bagaimana bisa kembali muncul di Indonesia pada tahun 2022.

Kala itu saya awalnya benar-benar merasa terganggu, pasalnya anak-anak kecil itu memainkan Latto’-Latto’ seakan tidak kenal waktu.

tek-tek-tek-tek-tek.

Bayangkan di tengah malam pun ketika kota mulai dirayapi sunyi. Latto’-Latto’ masih nyaring terdengar. Bahkan pada saat jam harusnya anak-anak itu sekolah, permainan itu masih terdengar bertalu-talu di telinga kami.

Tak jarang saya merasa kumpulan anak itu mengelilingi rumah kami di kompleks perumahan selama 24 jam. Hanya untuk membuktikan siapa yang paling lama beradu. Karena kami mendengarnya dari depan, samping, dan belakang rumah maka tak sedikit diantara kami menegurnya, termasuk saya waktu itu.

Sialannya mereka tidak mau mendengar, terus saja memainkan Latto’-Latto’ tiada henti. Akhirnya kami pun mulai terbiasa dan tidak sedikit teman-teman saya mulai ikutan memainkannya. Bahkan orang tua sekali pun. Sejak saat itu kami sebagai orang Makassar sepakat menerima dan menamai mainan itu sebagai Latto’-Latto’ karena keunikan bunyinya.

Arti dan asal kata Latto’-Latto’

Seperti yang disebutkan banyak media, Latto’ memiliki arti bunyi. Kosa kata ini sejatinya sering kami gunakan sehari-hari. Misalnya kalimat “Pa lattoki dulu belakangku e” dalam bahasa Indonesia berarti bunyikan dulu belakangku atau punggung atau minta dikretek.

Kalau misalnya listrik tiba-tiba mati di rumah, kami biasa berkata,”Mungkin latto’ki saklarnya,” dalam artian mungkin saklar listriknya bunyi karena daya pakai listrik dalam rumahnya terlalu banyak sehingga mati.

Serta masih banyak lagi penggunaan kata latto’ dalam keseharian orang Makassar, yang pada intinya adalah bunyi. Ini sekaligus membuktikan satu hal bahwa kosa kata latto’ yang orang Indonesia banyak ubah jadi Lato itu sudah dipatenkan dan sering digunakan oleh orang Makassar terhadap beberapa hal yang bunyi dan mungkin ikonik. Latto’-Latto’ pun menjadi sasarannya.

Tak heran kami sebagai orang Makassar merasa ganjil ketika kosa kata Latto’ menjadi Lato. Di sisi lain perlu diketahui juga bahwa Latto’-Latto’ di sini adalah bahasa yang kembali muncul dari orang Makassar, bukan Bugis. Apalagi bahasa Bugis Makassar.

Karena tren kehadiran kembali Latto’-Latto’ tahun 2022 lalu bermula dari dataran suku Makassar. Tepatnya di Kota Makassar. Entah orang Makassar mana yang tiba-tiba kepikiran menjual lagi dan bisa mempengaruhi minat anak-anak zaman sekarang. 

Mungkin bahasa Bugis juga memiliki kosa kata Latto’, tetapi, dalam permainan Latto’-Latto’ baru-baru ini jelas bahwa kosa kata itu berasal dari bahasa Makassar. Meski demikian hal ini tidak perlu diperdebatkan, toh Makassar dan Bugis adalah dua suku yang mirip sebenarnya dan sama-sama menopang kebudayaan Sulawesi-Selatan.

Secara kultural hampir sama bahkan beberapa kosa kata bahasa, seperti Latto’ juga digunakan oleh sejumlah orang Bugis. Jadi, tidak peduli siapa yang pertama atau yang mengikuti.

Atau mungkin justru tidak ada perbedaan sama sekali karena faktanya penggunaan Bugis-Makassar zaman dahulu sebenarnya ulah Belanda untuk memecah belah orang-orang di Sulawesi Selatan.

Latto’ menjadi Lato adalah bukti kekejaman penutur bahasa Indonesia?

Namun, yang perlu diperdebatkan adalah kami sebagai orang Makassar dan Bugis kadang-kadang merasa ganjil. Ganjil atau bertanya-tanya mengapa kosa kata kami yakni Latto’ harus diubah oleh media dan penutur bahasa Indonesia menjadi Lato.

Pertama, mungkin satu hal yang kami bisa terima adalah lidah orang Indonesia, khususnya di dataran Jawa lumayan sulit menyebutkan Latto’-Latto’ seperti kami orang Makassar dan Bugis melakukannya. Sehingga supaya mempermudah penggunaannya mereka menggantinya menjadi Lato-Lato.

Bagi sebagian orang mungkin menganggap hal ini biasa. Tetapi, kami sebagai orang Makassar dan Bugis muncul rasa ketidakterimaan. Penulisan kosa kata kami yang begitu khas dan melekat sejak dahulu seakan harus kehilangan ruhnya demi mengikuti suara mayoritas.

Baiklah, mungkin banyak orang Indonesia yang sulit menyebut Latto’-Latto’ sebagaimana orang Makassar dan Bugis melakukannya. Namun, dalam bentuk tulisan seperti yang ditulis oleh kebanyakan media. Muncul rasa rada tidak terima di sejumlah orang Makassar.

Pernyataan paling parahnya, ini seperti bentuk kekejaman atau tidak adanya bentuk penghargaan penutur dan mungkin penulis bahasa Indonesia terhadap bahasa daerah yang minoritas.

Meski demikian, kami masih agak bernapas lega karena Latto’-Latto masih belum dipatenkan sebagai bahasa baku untuk menyebut permainan tersebut. Kita belum melihat ini di KBBI dan berharap jangan sampai itu terjadi.

Meski demikian arah ke sana tampak sudah muncul ketika saya membaca postingan Instagram Kemendikbud baru-baru ini, yang mana membahas soal Latto’-Latto’. Mereka menulisnya bukan seperti orang Makassar menuliskannya, tetapi seperti orang mayoritas Indonesia melakukannya. Dari Lato-Lato menjadi Latto’-Latto’.

Konten Instagram Kemendikbud itu berbunyi “Benarkah Lato-Lato berasal dari Indonesia?” Tentunya ke depan kami sebagai orang Makassar berharap ini menjadi perhatian khusus jika pada akhirnya kosa kata Latto’ akan dibakukan ke bahasa Indonesia untuk penggunaan permainan Latto’-Latto’.

Jika tidak bisa dalam penyebutan, minimal dalam penulisan Latto’-Latto’ diutamakan ketimbang Lato-Lato.

Editor: Saa

Gambar: DetikNews