​Menjadi seorang mahasiswa dapat dikatakan sebagai sebuah karunia yang Tuhan berikan. Sebab, tidak semua anak manusia diberikan kesempatan ini. Ketika kalian menyandang title sebagai seorang mahasiswa, sudah pasti kalian orang yang mampu. Mampu berfikir, mampu secara finansial, dan mampu menyikapi segala hal yang akan mempengaruhi masa depan. Seharusnya demikian bukan? sehingga tidak ada yang lantas menjadi alasan kalian gagal di kemudian hari bahkan sampai menyesalinya.

Penyesalan memang senatiasa hadir di akhir, sehingga sebelum itu terjadi semestinya kita menyikapinya sedari dini. Hal ini berlaku juga untuk seorang mahasiswa. Bagaimana dan apa yang harus kita lakukan agar kemudian hari tidak muncul perkataan, “Seharusnya dulu saya begini, semestinya semasa kuliah dulu saya mengikuti ini, tahu begini waktu jadi mahasiswa aku akan memaksimalkan ini-itu,” juga penyesalan-penyesalan lainnya. 

Penyesalan yang dirasakan oleh para mahasiswa

​Penyesalan-penyesalan yang kemudian menimbulkan quarter life krisis ini banyak saya dengar dari mahasiswa-mahasiswa semester tua atau bahkan fresh graduate yang merasa belum selesai dengan apa yang ia cari semasa kuliah dulu. Terlebih di era pandemi saat ini, sudah satu tahun lebih apa yang semestinya masih bisa dilakukan oleh mahasiswa lantas terenggut tanpa dipersiapkan sebelumnya.
Apabila sebelumnya masih bisa bermain, berkumpul, dan bersua dengan banyak orang, berangan-angan setinggi langit. Tiba-tiba saja Virus Corona datang dan memporak-porandakan, tahu-tahu sudah semester tua, tahu-tahu sudah harus menyelesaikan tugas akhir, dan tahu-tahu sudah lulus. Maka, menyikapi hal ini beberapa hal dapat kalian lakukan selagi masih menjadi mahasiswa tingkat diploma atau sarjana.
Sebab, di tingkat inilah peluang kalian sebagai mahasiswa untuk eksplor di non-akademik lebih terbuka dibandingkan di tingkat-tingkat berikutnya yang mana kuliah akan lebih fokus ke bidang akademik. 
Memiliki akademik baik namun minim pengalaman itu rugi. Banyak kegiatan tanpa akademik juga membuatmu tidak jadi memiliki gelar sarjana. Maka, sembari berkuliah dan memperoleh pendidikan akademik, kalian bisa melakukan hal ini agar tidak menyesal di kemudian hari.

Kenali Passionmu dan Temukan Wadahnya

Percaya atau tidak selain nilai akademik dan gelar dari pendidikan kita, ada satu hal berharga yang kita miliki dari dalam diri kita masing-masing, yakni passion. Passion atau gairah, kekuatan besar yang dimiliki oleh diri, kecenderungan yang berasal dari apa yang kita sukai.
Memiliki passion dan menyadarinya sedari dini adalah harta yang luar biasa, sebab acapkali ketika kita berada di dunia karir justru bukan background pendidikan kita yang menjadikan seseorang memilih bekerja di sektor atau menjadi apa, melaikan passion yang ada dalam diri yang mempengaruhi sebagian orang memilih mau berkarir di mana. Misalnya saat ini, di era yang serba digital. Banyak orang bekerja sesuai passion, ketika ia memiliki minat dan gairah yang kuat di bidang kepenulisan mereka akan memilih berkarir sebagai penulis, terlepas dari background pendidikan yang beragam. Ada juga yang memilih berkarir sebagai seniman, content kreator, desain grafis, dan lain sebagainya.
Maka, selagi kalian masih menjadi mahasiswa kenali sedari dini apa sebenarnya passionmu? Apa yang menjadi minat utamamu? Dan apa yang menjadi bakatmu? Bila dirasa kalian sudah mengetahui dan menyadari di mana passion kalian, maka yang perlu kalian lakukan ialah mencari dan menemukan wadah dimana passionmu bisa tersalurkan, kalian bertemu dengan orang sepassion, sehoby, dan bisa sharing ilmu.

Perguruan tinggi terkait dengan ini sudah banyak memberikan wadah, katakanlah Unit Kegiatan Mahasiswa yang pasti ada di setiap kampus. Adanya UKM ini perlu untuk kalian para mahasiswa manfaatkan sebaik mungkin.
Kalian bisa menyalurkan passion dan hoby kalian melalui UKM, tentu juga sebagai sarana menambah koneksi dan belajar berorganisasi.
Selain itu, jika kalian mampu mengekplor dengan baik dan berproses di UKM dengan baik, sudah bukan hal muskil untuk kalian juga memperoleh prestasi yang berguna untuk membangun fortopolio persiapan jenjang karir.

Masuk Organisasi 

Selain menjadi anggota Unit Kegiatan Mahasiswa, selagi menjadi mahasiswa kalian juga bisa menyoba atau bahkan banyak berkecimpung di organisasi, seperti organisasi intra kampus di himpunan mahasiswa jurusan, BEM tingkat fakultas, BEM tingkat universitas, atau senat mahasiswa. Kalian juga barangkali bisa mengikuti Omek seperti HMI, PMII, GMNI, dan semacamnya.
Terlepas dari prespektif pro dan kontra mengenai baik buruknya mengikuti organisasi kampus, seperti paradigma negatif yang mengatakan bahwa anak organisasi akan lama lulusnya, suka demo, dan banyak mencari gara-gara. Tentu hal itu bukanlah paradigma yang seratus persen benar, tinggal kita sebagai pelakunya, mau menjadi oknum yang membawa organisasi ke arah positif atau negatif. Hal positif yang bisa kalian peroleh dengan mengikuti organisasi mahasiswa, baik organisasi intra atau organisasi non-intra tentunya ada banyak sekali yang akan membawa kalian pada peningkatan diri dan output yang baik ketika lulus nanti.

Kalian bisa memperoleh banyak relasi dengan prespektif tajam dan beraneka yang membuat konsep berfikir kalian lebih luas dan terbuka, tentu hal ini sangat diperlukan di kemudian hari. Sebab, semakin banyak relasi akan semakin mudah jalan kita untuk berkarir. Semakin tajam dan luas kemampuan berfikir juga akan membawa kita pada kemampuan membawa diri dengan lebih baik. Mengikuti organisasi juga menjadi nilai plus ketika kita melamar kerja, karena dengan pengalaman sebagai organisator kita sudah ditempa untuk manajemen konflik, manajemen waktu, hingga teamwork.

Kenali Prospek Masa Depan Perkuliahanmu dan Rencanakan

Saat berada di bangku perkuliahan coba kalian pahami, ada apa saja sajian mata kuliah yang kalian peroleh. Apa yang menjadi fokus perkuliahan kalian dan bagaimana prospeknya masa depan?

Seperti misalnya jika kalian kuliah di Sastra bahasa, kira-kira dari pendidikan kalian ini pekerjaan apa yang bisa kalian lamar? Dan di mana kiranya yang nanti menjadi minat kalian, di bidang pendidikan, kepenulisan (sastra-nonsastra), sebagai editor atau apa? Atau misalnya jika kalian kuliah di pertanian, Agribisnis. Kira-kira kalian ingin banyak berkeimpung di bisnis, pemasarannya, sosial, atau pertaniannya? Kalian bisa mengenali mana prospek yang paling sesuai dan merencanakan sedini mungkin.

Banyak Eksplor Tidak Sekadar Main

Bermain itu bukan suatu kesalahan, bahkan diperlukan untuk healing ketika otak sudah mulai pening. Maka, menurut saya sebagai mahasiswa sangat perlu untuk bermain, menghabiskan waktu dengan teman. Sebab, kapan lagi?
Ketika kalian sudah lulus secara sendirinya pertemanan kalian akan menyempit karena seleksi alam. Maka, selagi bisa perbanyaklah bermain, memperbanyak teman.
Namun, jangan sekadar bermain yang pada akhirnya hanya memberi kesia-siaan. Lakukanlah eksplore sembari bermain, seperti mengenali alam, lingkungan sekitar, atau celah-celah kecil yang bisa dimanfaatkan. Sehingga kenang bukan sekadar berada dalam angan, melainkan benar-benar memberi kesan terdalam.

Editor: Nawa

Gambar: google.com