Hari ini hari apa nih, sobat milenialis? Yak betul sekali, Hari Kartini! Siapa tidak kenal dengan Pahlawan Nasional Indonesia yang satu ini? Perempuan yang bernama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat dan lahir pada tanggal 21 April ini merupakan sosok yang memperjuangkan hak perempuan dan kesetaraan gender, terutama dalam bidang pendidikan. Kegigihan beliau memang patut untuk menyanding gelar pahlawan dan diperingati seluruh Indonesia setiap tahunnya. Tapi ingat, perjuangan Ibu Kartini tidak boleh berhenti begitu saja lho! Kita, para perempuan muda, bisa menjadi kartini-kartini lain di era milenial ini dengan cara meneladani pahlawan kita yang satu ini lho! Apa aja sih? Yuk, check it out!

1. Mandiri dan Independen

Membicarakan kesetaraan gender dan anggapan mengenai perempuan itu lemah, tentu tidak terlepas dari konteks perempuan yang dianggap bergantung pada laki-laki. Step pertama menjadi kartini milenial adalah dengan mandiri dan tidak sedikit-sedikit aleman –manja dalam bahasa jawa. Mandiri dimulai dari hal-hal kecil seperti setidaknya bisa pergi tanpa diantar-jemput, makan tidak harus selalu ditemani keluarga atau teman, sampai mandiri secara ekonomi.

2. Cerdas Akademik dan Sosial

Ingat bagaimana cerita Kartini mendirikan sekolah khusus perempuan? Usianya kala itu baru 24 tahun, dan ia sudah mengajar sejak muda. Tentu, kecerdasannya jangan diragukan. Kartini tidak hanya perhatian pada emansipasi wanita, namun juga masalah sosial umum seperti otonomi dan persamaan hukum. Kartini milenial tentu harus meneladani yang satu ini, karena kunci dari perubahan adalah cerdas di keduanya; akademik dan sosial.

3. Melek Budaya, Literasi, dan Teknologi
Siapa tidak tahu buku Kartini yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”? Buku ini dikumpulkan dan dibuat dari hobi Kartini yaitu surat-menyurat. Di surat tersebut, Kartini banyak menceritakan observasinya tentang kondisi masyarakat di daerahnya yang melarang perempuan pergi bersekolah. Kartini juga gemar membaca buku-buku seperti karya Max Haveelar dan surat kabar milik ayahnya. Lewat sikap kritis terhadap budaya, buku bacaan, dan kemampuan menulisnya, Kartini membawa perubahan besar bagi para perempuan di seluruh Indonesia. Di era sekarang, kamu punya lebih banyak kesempatan dan kebebasan untuk kritis melihat fenomena, membaca banyak buku, meyuarakan opini lewat tulisan, dan melek teknologi. Manfaatkan kesempatan-kesempatan itu untuk menjadi kartini versi 2019!

Oleh: Halimah

Kredit