Buku “Wabi Sabi: Seni Menemukan Keindahan dalam Ketidaksempurnaan,” telah menjadi buku favorit saya selama kurang lebih empat tahun.

Beth Kempton pertama kali menulis dan menerbitkan buku ini pada tahun 2018. Secara global, bukunya juga dikenal dengan judul “Wabi Sabi: Japanese Wisdom for a Perfectly Imperfect Life,” dalam bahasa Inggris.

Saya pertama membelinya pada tahun 2020, tetapi tidak langsung menghabiskannya dalam sekali baca, karena memang, buku ini belum terlalu relate dengan saya. Baru pada tahun 2022, saya benar-benar jatuh cinta dengan keseluruhan buku ini, dengan setiap deret kata dan cerita di dalamnya.

Selayang pandang buku Wabi Sabi

Sesuai dengan judulnya, buku ini menggambarkan bagaimana filosofi Wabi Sabi benar-benar hadir di tengah kehidupan orang-orang Jepang.

Secara sederhana, Wabi Sabi adalah konsep estetika dan kebijaksanaan dari Jepang yang mengajarkan kita untuk melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan, kefanaan, dan kesederhanaan.

Wabi Sabi mengajarkan kita untuk mengakui ketidaksempurnaan sebagai keadaan alami dari setiap manusia, keadaan, dan segala sesuatu di alam semesta. Namun justru dari sana, kita bisa melihat keindahan dalam setiap bentuk kehidupan.

Apabila kamu mencoba untuk membaca buku ini sendiri, kamu akan memahaminya dengan lebih baik apabila membaca bukunya secara langsung.

Alasan kamu harus baca buku ini

Buku ini bisa dibilang relevan dengan kondisi masyarakat masa kini yang sangat terobsesi dengan pencapaian, produktivitas, uang, dan barang-barang.

Tanpa banyak disadari, kita sering kali terjebak dalam kuatnya arus informasi yang terus mengatur cara hidup kita. Akhirnya, stress datang tanpa diundang. Banyak orang merasa cemas dan tidak bahagia. Tak pernah ada apresiasi terhadap apa yang sedang dihadapi atau dimiliki.

Buku Wabi Sabi membawa pelajaran penting di tengah kondisi ini.

Buku ini mengajarkan kita untuk berani menyederhanakan hidup dan berfokus pada apa yang benar-benar penting. Kita diajak untuk berhenti sejenak membuat keputusan dengan penuh kesadaran.

Buku ini seolah mengingatkan kita untuk kembali pada diri yang autentik di tengah dunia yang penuh standar dan ekspektasi. Kita diajak untuk mengurangi kebisingan dunia untuk kembali terhubung dengan diri sendiri dan alam.

Kedengarannya segar, bukan?

Ya. Saya telah membaca buku ini puluhan kali. Dan kurang lebih, sebanyak itu pula saya jatuh cinta dengan kesegarannya.

Kekuatan magis Beth Kempton

Kalau kamu berpikir buku ini diisi dengan ceramah yang panjang dan teoritis, kamu salah besar. Jika demikian, saya tidak akan secinta itu dengan buku ini.

Beth Kempton tak melulu membicarakan soal konsep. Ia benar-benar menghidupkan filosofi ini lewat cerita pengalaman hidup sehari-hari. Ke dalam lingkungan rumah, karir, pandangan hidup, kesehatan, keuangan, dan hubungan.

”Pertimbangkan untuk membawa alam sungguhan ke dalam rumah kita, melalui bunga, ranting, kulit polong, bulu, daun, kerang, kerikil, kreasi buatan tangan, keranjang anyam, dan sebagainya.” (Kempton, 2018:72)

”Kita bukan diajarkan untuk mendambakan kehidupan yang kemilau dan mulus: rumah, jabatan, mobil, pasangan, keluarga, dan segala sesuatu yang sempurna. Tetapi, ketika kita terfokus dan benar-benar mendengarkan panggilan keindahan, kita menemukan kehidupan yang ditakdirkan untuk kita.” (Kempton, 2018:223)

Kita akan menemukan banyak cara baru untuk melihat alam dan kehidupan dari buku ini. Ini adalah beberapa contoh kutipannya.

”Obat yang diberikan hutan jauh lebih dahsyat ketimbang tren kesejahteraan kontemporer. Manusia sudah hidup di hutan sejak zaman purbakala. Alam mengalir dalam darah kita. Ada dalam tulang kita. Ada dalam jiwa kita sebagai manusia.” (Kempton, 2018:99)

”Ketika terjadi hal yang sulit, penerimaan bisa menjadi sahabat baik. Itu bukan berarti menyerahkan kekuasaan atau membiarkan perilaku tak pantas. Itu juga bukan bersifat pasif melainkan aktif.” (Kempton, 2018:129)

Indah, bukan? buku ini seolah berusaha menjelaskan dengan pelan, bukan menceramahi pembacanya. Kita hanya membaca, meresapi, dan merasakan apa pun yang disampaikan oleh si penulis.

Kesan dan Pujian

Beth Kempton membawa buku ini dengan gaya penulisan reflektif. Rasanya seperti kita seperti sedang ngobrol santai dengan penulis, atau sesederhana membaca cerita perjalanannya selama berada di Jepang.

”Kamar yang saya pilih untuk makan dan tidur rasanya tak tertandingi. Sebuah ceruk persegi besar terbentuk di atas langit-langit putih. Dengan sekali tekan tombol, seluruh atap terbuka, memper-tontonkan langit.” (Kempton, 2018:157)

”Tak jarang saya mendapati diri sendiri telentang di atas tanah hutan berlapis salju, memandangi burung terbang sembari mendengarkan suara air dari kejauhan.” (Kempton, 2018:94)

Latar belakang penulis yang sudah mendalami budaya Jepang selama lebih dari dua puluh tahun, bergelar master bahasa Jepang, dan tinggal di sana selama bertahun-tahun menambah keindahan penulisan buku ini.

Saya cukup terkesan dengan kesederhanaan desain sampul buku ini. Ia sederhana dan menenangkan, tapi tetap menarik.

Sudut pandang penulis memang cukup dominan dalam penjelasannya. Tetapi, itu sangat membantu kita dalam memahami bagaimana filosofi Wabi Sabi ini benar-benar hadir dalam kehidupan seseorang.

Editor: Salman
Gambar: Pinterest