Membaca Ulang Dilema Cinta Wartini dalam Cerpen Ave Maria Karya Idrus

“Syam, dapatkah seorang perempuan mencintai dua orang laki-laki sekaligus?”

Pertanyaan itu terlontar dari mulut Wartini kepada Syamsu dalam cerpen Ave Maria karya Idrus. Sekilas, kalimat tersebut tampak sederhana, bahkan mungkin hanya bagian kecil dari percakapan dua tokoh yang terjebak dalam hubungan rumit. Apabila kita merenung lebih jauh, pertanyaan itu sesungguhnya menyentuh salah satu persoalan paling tua dalam kehidupan manusia: apakah cinta harus selalu tunggal?

Selama ini masyarakat cenderung memahami cinta sebagai sesuatu yang eksklusif. Ketika seseorang mencintai satu orang, maka tidak seharusnya ada ruang bagi orang lain. Kesetiaan seringkali hanya dilihat dari kemampuan seseorang memusatkan seluruh perasaannya hanya kepada satu pasangan. Dalam kerangka berpikir seperti ini, pertanyaan Wartini terdengar sebagai bentuk penyimpangan moral. Akan tetapi, Idrus tidak menghadirkan Wartini sebagai sosok yang sekadar ingin membenarkan perselingkuhan. Ia menampilkan seorang perempuan yang sedang bergulat dengan perasaannya sendiri.

Wartini adalah istri Zulbahri, tetapi sebelum itu ia pernah mencintai Syamsu. Ketika Zulbahri pergi meninggalkan rumah demi tugas dan perjuangan, ruang kosong dalam kehidupan Wartini perlahan diisi kembali oleh kehadiran Syamsu. Cinta lama yang belum sepenuhnya padam menemukan jalan untuk hidup kembali. Dalam situasi itulah Wartini mengajukan pertanyaan yang hingga kini masih relevan: mungkinkah seseorang mencintai dua orang sekaligus?

Pandangan Psikologi Modern

Psikologi modern menunjukkan bahwa perasaan manusia sering kali lebih kompleks daripada norma yang mengaturnya. Seseorang dapat memiliki keterikatan emosional kepada lebih dari satu individu karena setiap hubungan memenuhi kebutuhan yang berbeda. Ada orang yang memberikan rasa aman, ada yang menghadirkan gairah, ada pula yang menawarkan pemahaman emosional yang sulit ditemukan pada orang lain. Dalam kenyataan hidup, perasaan tidak selalu bergerak sesuai dengan aturan yang dibuat masyarakat.

Namun, mengakui kemungkinan tersebut tidak berarti membenarkan setiap tindakan yang lahir darinya. Di sinilah letak kecerdikan Idrus. Cerpen Ave Maria tidak memberikan jawaban pasti atas pertanyaan Wartini. Idrus justru membiarkan pembaca menghadapi dilema itu sendiri. Ave Maria mengajak pembaca memahami bahwa cinta dan moralitas tidak selalu berjalan di jalur yang sama. Seseorang dapat memiliki perasaan yang tulus terhadap lebih dari satu orang, tetapi tetap harus berhadapan dengan konsekuensi etis dari pilihan yang diambil.

Kritik Terhadap Cara Pandang Perempuan di Masyarakat

Yang menarik, kita dapat membaca pertanyaan Wartini sebagai kritik terhadap cara masyarakat memandang perempuan. Selama berabad-abad, perempuan sering dituntut menjadi simbol kesetiaan mutlak, sementara kompleksitas perasaan mereka jarang diberi ruang untuk dibicarakan secara terbuka. Ketika seorang perempuan mengungkapkan kebimbangannya terhadap dua cinta, ia lebih mudah dihakimi daripada dipahami. Karena itu, pertanyaan Wartini bukan hanya pertanyaan tentang cinta, melainkan juga tentang kebebasan perempuan untuk mengakui pergulatan batinnya.

Lebih dari tujuh dekade setelah pertama kali diterbitkan, Ave Maria tetap terasa relevan. Di tengah era media sosial, ketika hubungan manusia menjadi semakin kompleks dan batas antara kedekatan emosional serta komitmen sering kali kabur, pertanyaan Wartini masih terus menggema. Banyak orang mungkin tidak mengucapkannya dengan kata-kata yang sama, tetapi mereka pernah merasakan kegelisahan serupa.

Pada akhirnya, mungkin yang paling penting bukanlah menjawab pertanyaan Wartini dengan “ya” atau “tidak”. Yang lebih penting adalah memahami bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang sederhana. Kadang-kadang manusia terjebak di antara kenangan masa lalu, kenyamanan masa kini, dan harapan tentang masa depan. Dalam ruang itulah lahir pertanyaan yang membuat cerpen Idrus tetap hidup hingga sekarang:

“Syam, dapatkah seorang perempuan mencintai dua orang laki-laki sekaligus?”

Dan mungkin, sampai hari ini, setiap pembaca masih berusaha menemukan jawabannya sendiri.

Editor: Salman
Gambar: Pexels