Pernah enggak kamu tiba-tiba merasa bingung saat mau nulis? Tentu pernah, dong, karena writer’s block itu nyata. Seenggaknya begitulah yang kita percaya. Tapi mungkin kamu akan memikirkannya kembali jika saya menyebutkan ulang apa yang Zen RS bilang “Writer’s block itu gak ada, yang ada hanyalah kalian gak punya kosa kata yang cukup untuk menuangkan ide.”

Bagaimana? Apa kamu merasa dua-duanya benar? Kalau begitu, sama. O ya, saya dikasih tahu ucapan Zen RS di atas oleh seorang teman, sesama penulis, yang ikut kelas esai dari Kang Zen. Setelah merasa bahwa eksistensi writer’s block itu ada karena kekurangan saya sendiri, kemudian muncul penyebab lain yang bikin saya tidak produktif menulis. Salah satunya, saya enggak memahami seluk-beluk dunia esai–termasuk bentuk-bentuknya. Sebagai contohnya, saya cuma tahu kalau esai itu seperti tulisan di rubrik “kolom” media daring atau koran.

Solusi untuk mengatasi kelemahan tersebut tentu saja dengan belajar, tapi gimana kalau kita juga kebingungan harus mempelajari apa atau harus mulai belajar dari mana? Dua pertanyaan terus bersarang di kepala saya untuk waktu yang lumayan lama. Sampai akhirnya, saya menemukan cuitan yang menyebut judul buku karya Gus Muh, Muhidin M. Dahlan yaitu Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor.

Singkat cerita, buku ini kemudian saya beli, lalu saya menemukan jawaban dari dua pertanyaan sebelumnya setelah membaca buku ini. Terima kasih pada Gus Muh untuk bukunya.

Wisata di Museum Esai

Tapi yang jauh lebih menarik adalah bagaimana Gus Muh menyampaikan pengetahuannya di dalam buku Inilah Esai. Bagi saya, membaca buku beliau terasa seperti sedang berwisata di museum esai.

Ibarat sebuah museum, buku Inilah Esai terbagi menjadi beberapa ruangan khusus dan Gus Muh yang menjadi tour guide-nya. Sejak pertama masuk, saya sudah diajak ke ruangan kecil yang membahas pengertian esai dari beberapa esais terkenal dari Indonesia dan luar negeri. Dari banyak pengertian, Gus Muh sebagai pemandu memberitahukan satu kesimpulan yang mungkin enggak akan pernah saya lupakan seumur hidup:

“Esai adalah gaya menulis yang ‘bukan-bukan’, bukan puisi dan bukan karya ilmiah.”

Muhidin M. Dahlan

Lebih dalam lagi, pertanyaan tentang jumlah kata yang ideal dalam sebuah esai pun dijawab dalam buku ini. Ternyata esai itu bisa sangat pendek sekitar 100 kata seperti naskah Proklamasi; dan juga bisa seperti Naar de Republic Indonesia dari Tan Malaka yang—meminjam istilah Muhidin—panjangnya luar biasa.

Tapi bukan jumlah kata yang paling penting dari sebuah esai, kata Gus Muh, melainkan efek yang dirasakan pembaca setelah membaca sebuah esai. Esai itu harus bikin pembaca jadi tahu, ikut sadar, atau merasa terhibur. Artinya esai bisa menjadi medium transfer pengetahuan, menunjukan fakta, atau dijadikan sebuah hiburan “singkat” di tengah-tengah kesibukan duniawi.

Bersambung…