Pembuatan karya tulis ilmiah tentu bukan lagi hal yang asing bagi seorang mahasiswa. Menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kami. Mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis serta melakukan riset mendalam seiring dengan proses pembuatan karya tulis ilmiah. Namun, kehadiran AI (Artificial Intelligence) atau biasa kita kenal juga dengan kecerdasan buatan membuat mahasiswa dilema.

Kemampuan AI dalam mengolah dan memproses data dalam waktu yang singkat serta kecerdasannya untuk menyusun sebuah karya tulis seolah-olah dapat menyelesaikan seluruh permasalahan dalam penulisan karya tulis ilmiah. Hal ini menimbulkan pertanyaan baru, apakah AI akan menjadi teman atau musuh dalam pembuatan karya tulis ilmiah bagi mahasiswa?

Penggunaan AI dalam Membuat Karya Tulis Ilmiah

AI memiliki kelebihan yang signifikan dalam proses penelitian. Pertama, Artificial Intelligencememungkinkan pengumpulan data yang cepat dan akurat melalui analisis data besar. Hal ini mempercepat langkah awal dalam riset. Kedua, AI dapat melakukan analisis data yang komprehensif dan efisien, membantu mahasiswa dalam memahami dan menginterpretasi hasil riset dengan lebih baik. Terakhir, AI juga dapat memproses dan mengolah data dengan lebih baik, membantu mahasiswa dalam menyajikan informasi yang lebih terstruktur dan menarik.

Selain itu, AI juga memudahkan penulisan karya tulis ilmiah. Misalnya, alat pemeriksa plagiarisme yang didukung oleh AI dapat membantu mahasiswa dalam memastikan keaslian dan integritas karya mereka. AI juga dapat digunakan dalam penerjemahan otomatis, memperluas akses mahasiswa terhadap informasi yang tersedia dalam bahasa asing. Selain itu, ada juga pembantu penulisan yang didukung oleh AI, seperti aplikasi penulisan otomatis dan koreksi tata bahasa, yang dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas penulisan.

Dilema yang Dihadapi Mahasiswa

Namun, dibalik banyaknya manfaat dan kelebihan dari Artificial Intelligence. Banyak mahasiswa yang khawatir bahwa peran manusia dalam pembuatan karya ilmiah akan tergantikan oleh AI. Mereka merasa bahwa AI dapat menggantikan penelitian yang dilakukan secara manual oleh manusia, mengurangi nilai dari upaya intelektual yang dilakukan oleh mahasiswa.

Tidak hanya itu, juga terdapat perdebatan etika terkait penggunaan AI dalam karya ilmiah. Apakah penggunaan AI dalam penelitian dan penulisan akan mengurangi nilai orisinalitas? Bagaimana dengan penggunaan AI yang dapat menulis artikel atau esai dengan kecepatan yang luar biasa, apakah itu tetap dianggap sebagai karya orisinal?

Selain itu kecanduan yang dirasakan oleh mahasiswa karena terlena dengan mudahnya penulisan karya tulis ilmiah menggunakan AI mampu membuat kemampuan berpikir kritis dan kreativitas menurun. Hal ini  tentu berbahaya karena mahasiswa dididik dan dilatih untuk dapat berpikir kritis serta memiliki kreativitas tinggi salah satunya yakni dengan melahirkan karya tulis. 

Keterbatasan AI dalam Aspek Kreativitas

Selain dilema yang muncul, terdapat juga keterbatasan AI dalam aspek kreativitas. Meskipun AI dapat membantu dalam proses analisis dan penyajian data, kemampuannya dalam menghasilkan gagasan kreatif dan ide orisinal masih terbatas. AI sulit untuk meniru kemampuan manusia dalam berpikir kritis, mengeksplorasi sudut pandang yang berbeda, dan menyampaikan gagasan yang kompleks. Kreativitas merupakan elemen penting dalam pembuatan karya ilmiah yang berbeda dan inovatif.

Mengatasi Dilema: Simbiosis Manusia dan AI dalam Karya Ilmiah

Namun, ada cara untuk mengatasi dilema yang dihadapi mahasiswa. Penggunaan AI dalam karya ilmiah seharusnya tidak menjadi ancaman, tetapi lebih sebagai alat bantu yang digunakan secara bijak. Mahasiswa dapat memanfaatkan keunggulan AI dalam melakukan penelitian dengan lebih efisien dan akurat. Artificial Intelligencedapat membantu mengumpulkan data yang dibutuhkan, menganalisisnya, dan memberikan pemahaman yang lebih baik.

Penting bagi mahasiswa untuk tetap mempertahankan peran kreativitas dan kemampuan manusia. Mahasiswa harus terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif mereka. Mereka perlu mengasah kemampuan dalam menyampaikan ide dan gagasan yang unik serta orisinal. AI dapat menjadi alat bantu yang membantu dalam menulis, tetapi kekayaan ide dan kreativitas tetap harus berasal dari manusia.

Jika digunakan dengan bijak, AI dapat menjadi teman yang membantu dalam proses penelitian dan penulisan. Mahasiswa harus mengembangkan kemampuan kreativitas dan kritis mereka, sambil memanfaatkan keunggulan AI dalam membantu proses pembuatan karya ilmiah. Dalam era AI, manusia dan teknologi dapat bekerja secara simbiosis untuk mencapai hasil terbaik dalam dunia pendidikan dan penelitian.

Editor: Assalimi

Gambar: