Menjelang hari kemerdekaan Indonesia, biasanya saya melihat warga beramai-ramai menghiasi jalanan dan pekarangan rumah mereka dengan atribut-atribut yang bertemakan kemerdekaan. Tiang-tiang bambu biasanya tenggak mengibarkan bendera merah putih. Gapura biasanya dicat ulang menyesuaikan tema kemerdekaan. Hiasan merah putih meramaikan setiap gang sempit yang saya lewati. Tapi, beberapa hari belakangan ini, kemeriahan itu tak begitu kelihatan. Justru yang lagi ramai diberitakan dan jadi obrolan di setiap tongkrongan, malah berkibarnya bendera Jolly Roger milik kru topi jerami dari serial One Piece

Ketika Fiksi Mengambil Alih Cerita

Bagi saya hal ini memiliki makna ironis tersendiri, ketika hari kemerdekaan Indonesia justru disisipi bagian dari serial anime yang merepresentasikan Jepang. Tapi sepertinya itu bukan esensi dari fenomena yang sedang terjadi. Saat fiksi mengambil alih kenyataan, bukan berarti dunia ini udah gila. Justru karena kenyataan ini sudah terlalu absurd buat dipercaya, di situ fiksi mengambil alih cerita.

Ketika kehidupan ini malah bikin pusing, maka cerita One Piece mungkin terasa lebih nyata. Tak heran bila simbol-simbol di dalamnya jadi semacam kompas moral alternatif. Bukan karena One Piece lebih benar, tapi karena ia dirasa lebih jujur dalam membicarakan ketidakadilan.

Jolly Roger nggak seharusnya dimaknai sebagai ancaman serius buat negara. Dia nggak bawa-bawa senjata, mengubah struktur, atau menjatuhkan butir-butir manifesto di bawah kibarannya. Meski begitu, sepertinya bendera ini berhasil memancing perasaan nggak nyaman pemerintah.

Tentang Harapan yang Menyala

Yang harus kita sadari, bukan cuma makna denotasi benderanya. Ada hal yang lebih dari itu, Jolly Roger punya makna konotasi mendalam tentang perasaan, nilai-nilai, dan harapan yang terus dibuat menyala. Pengibaran bendera itu, bukan cuma sekedar ritual ngasih penghormatan perjuangan masa lalu, tapi juga tentang klaim yang ada di masa kini.

Ketika Jolly Roger berkibar di bawah bendera Merah Putih. Itu bukan cuma sekedar penambahan kain, itu menunjukan sebuah narasi. Tentang kehidupan di tengah dunia yang dirasa sudah tak sesuai lagi sama narasi masa lalunya. Kekecewaan itu nggak cuma disuarakan dengan pengeras suara, juga nggak semua hal kritis harus ditulis lewat naskah akademis yang kompleks banget. Bahkan saya kira, nggak harus punya kesadaran penuh sama fenomena yang terjadi. Lewat jalur (Fear of missing out) FOMO juga nggak apa-apa, selama punya efek politik yang nyata. Lagian, ketika  di ruang-ruang akademis tulisan nggak begitu di-notice. Terus, suara toa di ruang-ruang politis juga nggak didengar sama penguasa. Maka, nggak salah kalau orang-orang memilih diam, tapi menggantungkan sehelai kain Jolly Roger di pekarangan rumah atau kendaraan. 

Tidak Sama dengan Mengganti Identitas Bangsa

Fenomena kreatif ini sukses meraba bagian sensitif pemerintah, yaitu masalah identitas bangsa. Identitas kita sebagai suatu bangsa, dikonstruksi lewat sejarah panjang, juga jargon-jargon kebangsaan yang terus dinarasikan. Semua itu mendadak dipertanyakan dengan berkibarnya satu bendera yang berasal dari dunia fiksi. Ini bukan karena Jolly Roger lebih sakral, tapi justru karena bendera itu memiliki makna yang lebih cair. Makna yang bisa diisi sama siapapun yang merasa kecewa dan kehilangan tempat. Bendera ini memberi ruang buat mereka yang merasa nggak mengenali lagi narasi identitas bangsanya: tentang keadilan, kesejahteraan, dan kebebasan yang mereka rasa bukan miliknya lagi.

Identitas itu bukan sesuatu yang tetap, ia adalah sesuatu yang harus terus dibangun lewat narasi atau ritual tertentu, seperti: upacara, menyanyikan lagu, bahkan perilaku dan tindakan. Kalau kita mengikuti istilah kata Judith Butler, identitas itu suatu tindakan performatif yang terus dibentuk dan dipelihara. Ketika identitas bangsa mulai kehilangan citranya, itu bukan karena rakyatnya bodoh atau lupa sama sejarahnya sendiri.

Dalam konteks ini, hal itu terjadi karena terjadi ketimpangan antara narasi bangsa dengan kenyataan yang dihadapi rakyatnya. Identitas bangsa ini masih ada. Hanya saja ia mulai sedikit lupa ingatan saat terbentur kasus korupsi, kebijakan yang aneh, ataupun beberapa peristiwa politik nyeleneh lainnya yang terjadi belakangan ini.

Pertemuan Antara Realita dan Fiksi

Dunia One Piece bukanlah dunia yang nyaman dan tentram, di sana banyak kekacauan terjadi, hukum yang sewenang-wenang, dan kekuasaan yang nggak karuan. Di daratan dunia One Piece, seringkali terjadi penindasan. Makanya lautan jadi semacam simbol kebebasan. Beberapa karakter One Piece punya keberanian untuk berlayar dan terombang-ambing di tengah lautan. Orang-orang yang mengadopsi nilai-nilai di dalamnya, merasa relate dengan posisi yang mereka hadapi.

Di sini kita melihat pertemuan antara dunia real dan dunia fiksi. Kini fiksi bukan hanya tempat untuk berkhayal, melainkan juga tempat untuk beristirahat dan menghibur diri. Semacam pelarian Schopenhauerian, dari realitas yang buta dan dingin banget. Jolly Roger kru topi jerami, menghadirkan citra juga cerita tentang perjuangan akan kesejahteraan dan kebebasan, meskipun fiksi. Jolly Roger bukanlah sebuah solusi, melainkan sebuah alarm saat sesuatu terjadi. 

Banyak orang terwakili Jolly Roger topi jerami. Mereka bukan hanya sedang mengibarkan bendera, tetapi mengibarkan kekecewaannya. Di dalam cerita animenya, kru bajak laut topi jerami bukanlah seorang perampok, tapi pembebas. Melawan sistem penindas, berjuang untuk kebebasan, dan setia menolong teman-temannya. Nilai-nilai ini memang terkesan anggak romantik, bahkan naif. Mungkin justru karena hal itulah, sebagai harapan, nilai-nilai itu dirasa lebih hidup di hati para nakama. Tentu setiap bangsa memiliki narasi terhadap simbol-simbol kebangsaannya, namun saat narasi itu nggak lagi dirasa hidup, maka yang tersisa cuma unsur denotasi kebendaannya doang. 

Rentannya Struktur yang Dibangun Pemerintah

Sebagai respon, pemerintah nggak tinggal diam. Pemerintah paham kekuatan dari simbol, nggak heran kalo reaksi yang muncul adalah sebuah larangan, peringatan hukum, dan upaya pemulihan sistem lainnya. Kita hidup di tengah sistem yang hanya mentoleransi suatu ekspresi, asal enggak mengguncang kekuasaan. Makanya narasi seperti Jolly Roger ini bakal selalu dianggap berbahaya.

Pemerintah paham kalo ancaman itu nggak selalu berbentuk senjata secara eksplisit. Kadang, cukup dengan mengibarkan sesuatu yang seharusnya nggak ada di tempat yang dianggap sakral, semua sistemnya bakal merasa nggak nyaman. Tapi justru inilah letak keanehannya, bendera kru topi jerami ini saja dianggap sebegitu mengancamnya, sampe dianggap bisa memecah belah bangsa, bahkan sempat ada ancaman konsekuensi hukum pidana.

Dari kepanikan pemerintah, kita bisa menyadari betapa rentannya struktur identitas yang berusaha dibangun pemerintah. Ketika muncul sesuatu yang nggak sesuai pola, pemerintah buru-buru menganggapnya sebagai ancaman. Sepertinya diam-diam pemerintah kita sadar kalau rakyat di negaranya memang belum sejahtera. Pemerintah tahu, kita belum menikmati keadilan dan kebebasan sebagaimana narasi identitas bangsa yang selama ini dibangun.

Toleransi Semu Pemerintah

Dalam filsafat Herbert Marcuse, ada istilah repressive tolerance. Istilah ini menggambarkan ironi yang kita hadapi. Sebuah fenomena ketika pemerintah ngaku-ngaku toleran sama ekspresi rakyatnya, tapi sebenarnya cuma mentolerir hal-hal yang enggak mengguncang dirinya doang.

Ekspresi yang mengganggu kuping pemerintah – padahal itu cuma simbolik – bakalan dianggap sebagai bahaya laten yang mengganggu persatuan nasional. Padahal nggak ada aksi kriminal, anak-anak anarko juga nggak ngerusuh di jalan, orang-orang barbar juga nggak pada muncul, tapi dicap sebagai ancaman. Ini nggak lebih dari sekedar “toleransi semu”, kita bebas berbicara dan berekspresi asal nggak menyentuh borok masalahnya, supaya kursi kekuasaan nggak goyang dan tetap nyaman.

Di titik ini toleransi malah jadi represi. Juga perlu digaris bawahi, kalo kekecewaan yang terjadi itu bukannya kita kecewa sama bangsa Indonesia itu sendiri. Telunjuk dari ekspresi ini tuh nggak diarahkan ke para pahlawan bangsa, tapi ke para elit politik yang sekarang lagi berkuasa. Ini cuma ekspresi simbolis dari kekecewaan dan keresahan, yang dirasa nggak bisa lagi disalurkan dengan cara yang biasa pada kekuasaan.

Fiksi Terasa Lebih Dekat dengan Rakyat

Di dunia yang nggak linear ini, identitas nggak dibentuk cuma dari satu dimensi saja, tetapi merupakan hasil dari beberapa pertemuan antara yang nyata dan yang fiksi. Orang-orang bisa merasa kalau dia lebih terwakili dan terhubung dengan karakter fiksi buatan Jepang daripada sama elit politik di negerinya.

Bukan karena mereka mau mengingkari sejarahnya atau mengkhianati bangsanya. Hal itu mereka lakuin semata-mata cuma karena terasa lebih dekat dengan kehidupan saat ini, di mana mereka harus menghadapi pajak dan biaya hidup yang naik, nyari kerja sulitnya bukan lagi, sama ketidakadilan yang udah berepisode-episode.

Mau dibilang apapun, penyimpangan ini menyimpan kejujuran yang nyata. Lagian, apa nasionalisme yang nggak sanggup ngasih ruang buat keresahan warga, masih layak dianggap sebagai nasionalisme? Kalo realitas udah jadi ruang yang terlalu sempit untuk bisa dengar, maka kita butuh para penyimpang. Yaitu orang-orang yang berpikir melampaui realitas di mana ia mencari sesuap karbo. Para bajak laut yang berlayar di sisi lain dunia ini, dan menyebrangi lautan fiksi. Mereka yang dengan lantang bercerita tentang tekad dan harapannya ketika kembali ke daratan. Untuk memiliki harapan, kita harus bisa mengimajinasikan dunia yang berbeda. Siapa tahu, di balik fenomena pengibaran Jolly Roger ini, sedang tumbuh imajinasi tentang identitas Indonesia yang lebih manusiawi.

Editor: Yud