Loading

Penjara hadir sebagai wadah pembina pelanggar hukum. Lewat beragam program pembinaan, napi yang awalnya punya perilaku kurang baik akan dibina secara manusiawi untuk jadi lebih baik.

Pada galibnya, program pembinaan di penjara berfokus pada dua hal: peningkatan spritual yang diharapkan mampu membuat napi menyadari dan meninggalkan perbuatan buruknya, dan peningkatan keterampilan yang berfokus untuk meningkatkan skill keterampilan napi agar menjadi bekal ketika mereka bebas. Jadi, tak ada alasan lagi nantinya buat mereka untuk melakukan aksi kriminal dengan alasan keterpaksaan kondisi kantong yang mencekik, toh sudah ada skill apik.

Namun, program pembinaan yang diberikan kepada napi tak akan semulus mobil pengangkut ikan yang mengaspal pukul tiga dini hari atau tak semudah mengeluarkan upil dari lubang hidung. Banyak juga sandungannya. Salah satunya, berasal dari diri napi itu sendiri yang memang tak ada niatan buat berubah. Makanya, tak jarang ditemui napi yang bolak-balik keluar masuk penjara, karena mereka masih senang berada di zona nyaman yang keliru.

Kenapa napi sulit berubah?

Saya pernah ngobrol dengan seorang napi, dan mencari penyebab mereka (napi) sulit untuk berubah. Menurutnya, persoalan itu disebabkan beragam hal, seperti: keluarga yang sudah tak memberi perhatian, atau bisa sebaliknya, karena keluarga memberikan perhatian yang terlalu berlebihan.

Kurangnya perhatian keluarga membuat napi merasa pasrah dan tidak peduli lagi dengan keadaan mereka. Kesadaran itu membuat mereka sulit untuk keluar dari zona nyaman keliru yang selama ini mereka jalani. Tak ada motivasi lagi bagi mereka untuk berubah jadi baik. Toh, orang terdekatnya tak ada lagi yang peduli dan memberi dukungan positif pada mereka.

Perhatian berlebihan dari keluarga juga menurutnya bisa berpengaruh terhadap sikap napi di dalam menjalani proses pembinaan di penjara. Jika keluarga dengan mudah memenuhi segala kebutuhan napi seperti mengirim duit atau makanan, mereka cenderung merasa nyaman dan tak ada alasan bagi mereka untuk menyesali keadaannya. Program pembinaan kemudian hanya dianggap formalitas. Sekadar gimmick tanpa spirit perubahan. Lalu, menjalaninya dengan rasa tak ikhlas.

Curhatan napi setelah melewati proses pembinaan di penjara

Memang tak mudah mengubah napi untuk jadi lebih baik. Butuh proses panjang. Di dalam rentetan proses itu, ada yang gagal, tapi ada juga yang sukses. Salah satunya seperti yang dialami oleh seorang napi kasus narkoba yang sempat saya ajak ngobrol.

Menurutnya, penjara telah memperbaiki hidupnya. Selama mengikuti program pembinaan, banyak hal yang telah berubah dalam dirinya. Ia lebih giat beribadah, rajin salat, termasuk baca Al-Qur’an.

Ia mengatakan jika sebelumnya, ia sama sekali tak memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Namun setelah ia mengikuti program pembinaan penjara yang bekerja sama dengan kementerian agama di kabupaten, ia mulai merasakan perubahan. Sedikit demi sedikit tertarik dan mulai paham bacaan ayat Al-Qur’an. Hingga sampai saat ini, ia rutin membaca dan sudah tiga kali mengkhatamkan Al-Qur’an.

Selain itu, ia juga mengatakan jika, program keagamaan yang sering ia ikuti juga sangat berperan memantik kesadarannya untuk berubah. Menyadarkan jika apa yang telah ia lakukan selama ini adalah hal keliru dan hanya jadi beban bagi orang tuanya. Berbohong, menghabiskan duit orang tua, sampai mencuri demi menikmati sensasi semu yang ditawarkan oleh obat terlarang, adalah jalan sesat yang selama ini jadi tren hidupnya.

Namun, lewat program pembinaan yang ia ikuti, Ia kemudian mulai belajar ikhlas dan mengambil hikmah dari cobaan yang sekarang ia jalani. Cobaan yang akhirnya mengantarkan ia menyesali perbuatannya. Hasilnya, ia sekarang lebih giat beribadah dan merasa tenang. Kenikmatan yang menurutnya tak ia rasakan sebelumnya. Sebuah kenikmatan paripurna.

***

Nah, jadi, membina dan mengubah napi itu bukan perkara mudah, karena hidayah hanya datang dari Tuhan. Maka penjara, lewat berbagai pogram pembinaanya, hanya berperan menjembatani mereka yang tersesat untuk kembali ke jalan lurus. Berapa kali mereka harus masuk-keluar penjara sampai akhirnya hidayah itu datang, dan merubah mereka jadi lebih baik, tak ada yang bisa menebak.

Dan satu hal yang perlu dicatat. Ini penting untuk diingat. Penjara hanya perantara, bukan penentu. Jangan nyinyir jika ada mantan napi yang kembali berulah. Lalu ngoceh jika penjara tak becus ngurusin mereka semua.

Penulis: Munawir Mandjo

Penyunting: Aunillah Ahmad