“Lagu-lagu Nadhif itu bagus, cuma lirik dan nadanya bikin galau mulu”, sedikit testimoni saya setiap mendengar lagu-lagu Nadhif.

Semua orang pasti sepakat, lagu-lagu Nadhif Basalamah itu enak didengar, liriknya nancap di hati, nggak heran jadi playlist favorit di spotify.

Namun, kalau kita mau jujur dan sedikit jahat, Nadhif sebenarnya punya dosa besar dalam mendukung kegalauan anak muda masa kini. Bukan dosa dalam artian kriminal ya, tapi dosa karena ia berhasil membuat kesedihan terlihat begitu estetik sampai-sampai kita lupa caranya untuk bahagia.

1. Menciptakan Standar Baru Bernyanyi Sambil Bisik-Bisik

Dosa pertama Nadhif adalah mempopulerkan gaya bernyanyi yang sangat intim terlalu intim, malah. Suaranya itu bukan tipe yang mengajak kita bangkit dari tempat tidur, melainkan suara yang memaksa kita menarik selimut lebih tinggi.

Gaya vocal ini membuat lirik yang sebenarnya biasa saja jadi terdengar seperti wasiat terakhir. Dampaknya? Gen Z jadi berpikir bahwa kalau galau itu suaranya harus pelan, lemah, dan tidak berdaya. Padahal ya kalau diputusin, ya nangis saja yang kencang, habis itu makan soto. Jangan malah bisik-bisik ke tembok.

2. Meromantisasi Status Penjaga Hati

Lagu Penjaga Hati adalah puncak dari segala dosa. Di lagu ini, Nadhif seolah memberi validasi bahwa menjadi orang yang selalu ada meskipun tidak dianggap itu adalah tindakan heroik. Hebat dari mana? Itu namanya menderita secara sukarela.

Gara-gara lagu ini, banyak anak muda merasa keren jadi penjaga hati gebetannya yang sudah punya pacar. Mereka merasa puitis saat menunggu ketidakpastian. Padahal di dunia nyata, penjaga hati itu seringnya cuma berakhir jadi tempat curhat saat si gebetan lagi berantem sama pacar aslinya, lucu memang.

3. Aransemen yang Mematikan

Coba perhatikan dengan mendalam di setiap mendengarkan lagunya, instrumennya itu minimalis, manis, tapi mematikan. Ini adalah jenis musik yang kalau didengarkan saat kamu lagi ngerjain skripsi atau deadline kantor, tiba-tiba akan mendayu-dayu nggak jadi semangat.

Nadhif adalah musuh utama produktivitas karena membuat pendengarnya betah berlama-lama melamun daripada bekerja.

4. Membuat Kesedihan Jadi Sebuah Keindahan

Inilah dosa paling nyata, Nadhif membuat kegalauan menjadi sebuah keindahan. Berkat dia, galau bukan lagi sesuatu yang harus disembuhkan, tapi sesuatu yang harus dipamerkan di instagram story dengan latar belakang hitam putih.

Kita menjadikan kegalauan sebagai keindahan karena rasanya keren. Kita menikmati rasa sakit itu seolah-olah kita adalah tokoh utama di sebuah film. Padahal, hidup tidak seindah video klipnya Nadhif, kawan.

5. Diksi yang Terlalu Pasrah

Nadhif jarang sekali menulis lirik tentang cara move on atau memaki mantan dengan elegan. Hampir semuanya tentang penerimaan. Hal ini secara tidak langsung mendidik pendengarnya untuk menjadi lembek. Kita jadi generasi yang kalau disakiti sedikit langsung bikin kutipan puitis, bukannya memperbaiki diri.

Nadhif membuat kita lupa bahwa kadang-kadang, obat dari kegalauan bukanlah lagu akustik yang mendayu-dayu, melainkan berhenti bersikap bodoh karena cinta.

Nadhif Basalamah memang musisi berbakat, itu fakta. Tapi, mendengarkan lagunya setiap hari tanpa jeda adalah tindakan pembajakan mental. Membuat kita betah di zona nyaman kesedihan.

Jadi, saran saya, setelah dengerin Nadhif, coba imbangi dengan dengerin lagu-lagu koplo atau metal. Biar kita sadar bahwa hidup ini butuh tenaga, bukan cuma sekadar bisik-bisik tentang rindu yang tak sampai.

Lagipula, mau sampai kapan kamu jadi Penjaga Hati kalau yang dijaga saja tidak tahu kalau kamu itu ada? Hiyaa.

Editor: Hafidz

Gambar: Pinterest