“Ada yang pernah mencie-ciekan?”
“Ada yang pernah dicie-ciekan?”
Atau ada yang ingin segera dicie-ciekan?” “Cieee….”
Siapa, sih, yang belum pernah di-cie-kan? Atau mungkin, kamu adalah tipe orang yang hobi banget men-cie-kan orang lain? Atau yang paling tragis, kamu adalah jomblo yang sedang menanti kapan giliranmu untuk di-cie-kan?
Bagi siapa saja ketika mendapatkan godaan “cie” dari seseorang pasti memberikan sensasi tersendiri. Ada rasa malu-malu kucing, pipi merah merona, sampai bikin salah tingkah yang tak keruan.
Tapi, pernahkah kamu bertanya-tanya dari mana asal-usul kata “cie” itu? Siapa orang pertama yang mencetuskannya?
Asal-usul Kata “Cie”
Banyak yang meyakini bahwa kata “cie” adalah sebuah akronim dari bahasa Inggris, yaitu Cause I’m Envy (karena aku iri/cemburu). Makna sederhana kata cie, ketika seseorang merasa iri atau cemburu melihat kebahagiaanmu, lalu mengungkapkan lewat godaan 3 huruf tersebut.
Kata “cie” ini mulai populer di Indonesia pada era 90-an. Saking mendarah dagingnya kata cie, dalam percakapan sehari-hari, kata “cie” akhirnya resmi masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di sana, “cie” didefinisikan sebagai kata seru yang digunakan untuk memuji atau menggoda seseorang agar tersipu.
Fase Mengatakan Kata “Cie” Kepada Orang Lain
Menurut saya pribadi kata “cie” sebagai senjata ampuh untuk menggoda, memuji, sekaligus merayu, hingga membuat si orang itu tersipu malu. Biasanya, kata sakti ini meluncur dalam tiga situasi ini.
1. Urusan asmara
Punya pacar adalah impian banyak jomblo. Begitu status berubah dari “single” menjadi “double“, teman-temanmu pasti langsung beraksi dengan ucapan seperti ini:
“Cie, yang sudah punya gandengan baru. Kapan jadiannya, nih?”
“Cie, yang sudah nggak jomblo lagi. Pajak jadiannya mana, dong?”
2. Prestasi pribadi
Menjadi juara adalah dambaan setiap orang, baik di kelas maupun di ajang bergengsi lainnya. Ucapan selamat sering kali dibumbui dengan godaan:
“Cie, yang dapat peringkat satu di kelas dan dapat juara umum di sekolah, selamat yaa!”
“Cie, yang baru menang sebagai penulis pilihan bulan ini, traktirannya donk!”
3. Momen pernikahan, puncak segala godaan
Inilah puncak dari segala kata “cie”. Pernikahan adalah momen sakral yang paling dinanti setiap pasangan, terutama oleh para pejuang mahar. Godaannya pun biasanya lebih berani dan cenderung nakal.
“Cie, yang sudah sah jadi suami-istri. Semoga cepat dapat momongan, ya!”
“Cie, yang lagi persiapan malam pertama, semoga sukses ya!”
Kata “Cie” yang Paling Perih Bagi Sang Mantan
Namun perlu kalian ketahui, ada satu kata “cie” yang levelnya sudah masuk kategori tragis, yaitu kata “cie” yang diucapkan oleh mantan yang nekat datang ke kondangan. Ini adalah momen di mana kata “cie” berubah fungsi menjadi pisau belati yang menusuk ulu hati.
Dibibir si mantan mungkin berkata, “Cie, selamat ya”, tapi di balik matanya yang berkaca-kaca itu, terselip penyesalan dan menyanyikan lirik lagu galau dalam hati:
“Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia.”
Cie ini bukan lagi bersifat godaan, ini adalah sebuah statement kekalahan yang dibalut dengan senyum palsu demi menjaga harga diri di depan prasmanan dan sang mantan di pernikahan.
Akhir Kata untuk Kaum Jomblo, Jomblowati, Jomblo Ngenes yang Mendambakan Pernikahan
Bagi para jomblo, jomblowati, jomblo ngenes dan para pejuang mahar yang belum juga kunjung ke pelaminan dan belum juga dicie-ciekan, mohon bersabar yaa! Hidup ini memang tentang antrian. Sekarang mungkin Anda yang mencie-ciekan orang lain. Kedepannya justru anda yang bakal dicie-ciekan orang lain.
Karena, semua akan indah pada waktunya. Dan semua akan dicie-ciekan pada akhirnya.
Editor: Hafidz
Gambar: Pinterest

Comments