Mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan, pernah tidak kamu hanya ingin menjelaskan apa yang kamu rasakan, tapi pasanganmu menganggap kamu terlalu rewel? Kata ampuh pasanganmu adalah “cerewet”. Padahal kamu cuma butuh konfirmasi atas perasaanmu. Tenang! Kamu tidak sendirian. Kita sebagai pasangan sadar betul kalau perasaan itu tidak bisa ditebak. Kalau kitanya minta mereka peka, nanti dibilang childish. Sebaliknya saat menyampaikan kegeilisahan kita secara jujur, dibilang cerewet. Repooot betul. Hahha
Note: Tulisan ini cocok buat kamu yang saat ini sedang dalam hubungan atau sudah lama tak punya pasangan.
Affa Iyaaah Diam Adalah Bentuk Kedewasaan?
Diskursus dalam sebuah hubungan pada mayarakat saat ini, mengamini diam adalah bentuk kedewasaan. Seolah-olah kalau diam dan tidak membahas ‘persoalan itu’, maka masalahnya otomatis mengecil. Realitanya tidak semudah itu, mungkin iya suaranya mengecil, tapi bagaimana dengan lukanya?
Ada sebuah teori komunikasi interpesonal yang mengingatkan kita. Relasi dekat bukan sekadar dua orang yang kebetulan bersama. Melainkan, sesuatu hal yang dibentuk dan dipelihara melalui percakapan. Dalam hal ini, komunikasi bahkan dipandang menciptakan dan mempertahankan hubungan. Dimana cara memandang “menyampaikan sesuatu” bukan hanya sekadar mengeluh atau bicara, tapi makna yang hadir di sana. Makna yang tentunya dibalut oleh harapan dan kedewasaan. Sehingga tidak perlu menebak secara abstrak pikiran pasangan kita, cukup dengan menyampaikannya secara jujur dan dewasa.
Teori PeDeKaTe dengan Metafora Bawang Bombay
Em Griffin dalam bukunya A First Look at Communication Theories mempopulerkan Social Penetration Theory, dikembangkan oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor (1973) tentang kedekatan relasional tidak terjadi secara mendadak dan acak. Sebaliknya, perkembangan hubungan interpersonal digambarkan sebagai proses yang bertahap dan teratur (konsisten).
Teori ini menggunakan metafora bawang bombay, dimana kepribadian seseorang digambarkan berlapis-lapis seperti bawang bombay. Lapisan paling luar adalah informasi yang bersifat ringan, seperti hobi, pekerjaan, musik favorit dan sebagainya. Semakin ke dalam akan membahas nilai hidup, ketakutakan terdalam, harapan, bahkan rahasia. Melebarnya topik pembahasan ini disebut peningkatan breadth (lebar topik yang dibahas) dan depth (kedalaman emosional dari pengungkapan tersebut).
Rute utama dalam pedekate yang lebih dalam adalah self-disclosure verbal. Pengungkapan diri secara sukarela dan sadar tentang pikiran, perasaan, pengalaman, hingga rahasia terdalam. Hal ini tentu perlu adanya timbal balik (reciprocity), yang mana ketika seseorang membuka dirinya secara sukarela, pihak lain juga melakukan hal yang sama dan imbang. Jika tidak ada respons yang sebanding, hubungan tersebut cenderung stagnan di lapisan terluar saja, alias yaudah basa basi doang.
Lalu apa hubungannya dengan dunia perkencanan ini? Hubungan yang sehat, bukan terdiri dari hubungan yang minim pembicaraan, ataupun tenang seperti air. Sebaliknya, hubungan yang berkembang secara sehat ditandai adanya ritme komunikasi secara sadar. Dalam hal ini butuh kemampuan;
- Mengetahui kapan saatnya membuka diri lebih dalam
- Memberi ruang ketika pasangan membutuhkan privasi atau jeda emosional
- Menegaskan kebutuhan pribadi tanpa rasa bersalah berlebih
- Menavigasi momen krusial (pas lagi mode war) dengan empati dan tanpa penghakiman.
Bab Asertif: Bukan Banyak Omong, Tapi Bentuk Tanggung Jawab Seseorang dalam Sebuah Hubungan.
Kata Google aI, asertif adalah kemampuan berkomunikasi secara tegas, jujur, dan langsung untuk menyampaikan pendapat, kebutuhan, atau perasaan, tanpa melanggar hak atau perasaan orang lain. Sikap ini menyeimbangkan antara menghargai diri sendiri dan menghormati orang lain, membantu menetapkan batas pribadi, serta mencegah perilaku agresif maupun pasif.
Kalau menurut penulis, asertif bukan berarti siapa yang menang debat. Juga bukan sebuah cara meluapkan emosi, menggebu-gebu. Asertif adalah kemampuan menyampaikan. Menyampaikan apa yang dirasakan, dibutuhkan hingga diharapkan. Sampaikan aja kalau memang kamu berekspektasi apa terhadap pasanganmu, meski tidak tercapai. Dengan begitu kalian bisa menemukan titik tengah itu.
Contoh kalimat yang bukan asertif, “kamu tuh selalu ..,” ini namanya agresif. Ada juga yang “yaudah nggak apa, terserah. . .,” terus sambil ngedumel dalam hati, nah ini namanya pasif.
Contoh kalimat yang asertif, “aku sedih waktu kamu cancel mendadak kemarin, padahal aku udah effort banget meluangkan waktu buat kamu. Sebenarnya kalau memang ga bisa bilang aja, aku hanya butuh dikabarin lebih awal, atau minimal jelasin alasannya, kalau kamu tiba tiba menghilang kayak kemarin ga ada kabar, di sini akunya juga khawatir, takut kamu kenapa napa, ada masalah apa di jalan, jadinya malah kepikiran yang macem macem”.
Kalimat seperti ini bukan cerewet ya. Kalimat tadi itu jelas sekali. Dan kejelasan itu bentuk tanggung jawab emosional. Karena itu bentuk kamu meenyampaikan perasaan dengan kata-kata, bukan dengan kode-kode abstrak. Nanti kalau dikit-dikit kode, khawatir banget tiba-tiba jadi programer.
Kenapa “Jelas” Itu Penting? Karena Manusia Gak Bisa Hidup Dari Menebak, say.
Dalam buku Griffin, Uncertainty Reduction Theory menjelaskan bahwa ketika orang berelasi, salah satu dorongan besarnya adalah mengurangi ketidakpastian. Tentang orangnya, tentang maksudnya, dan tentang “kita ini sebenarnya apa”. Bahkan, meningkatnya ketidakpastian cenderung menurunkan rasa suka. Menurunnya ketidakpastian cenderung menaikkan rasa suka. Semakin tidak pasti, semakin malas pasanganmu hahaha.
Diatas aku sempat singgung ‘adanya timbal balik’. Banyak orang baru berani membuka diri kalau merasa aman. Tentunya, kalau pasangannya juga membuka diri.
Griffin menuliskan bahwa orang cenderung menahan ekspresi nilai dan perasaan, sampai mereka punya gambaran respon lawan bicara. Kalau aku bilang A, pasanganku akan gimana ya responsnya. Tentu pula kalau B,C, sampai Z. Sehingga, membuat kita menyesuaikan apa yang dikatakan sesuai respons pasangan kita aja. Jatohnya, biar ga repot. Padahal dalam hal ini, antar individu butuh merasa aman tetap menjadi diri sendiri, namun juga memahami kebutuhan pasangan.
Hubungan romantis yang dewasa, pertanyaan krusial bukan lagi, “siapa yang lebih banyak bicara?” Atau “siapa yang cerewet?”. Melainkan apakah kedua pihak memiliki ruang dan kemampuan untuk negosiasi saat mode war. Negosiasi secara dewasa dapat diartikan menghormati ritme masing-masing.
Dari sini kita melihat, pasangan yang kamu labeli ‘cerewet’ itu. Sebenarnya sedang melakukan eksperimen emosional, yakni mengurangi ketidakpastian dalam hubungan. “Bagaimana caranya, supaya isi kepala tidak liar, dan jadi berantem? Ya disampaikan saja”. Ia memilih bicara daripada menebak, memilih jelas daripada memendam.
Kalau komunikasi adalah tempat hubungan itu hidup, maka meremehkan komunikasi sama seperti meremehkan hubungan itu sendiri. Jadi, lain kali saat pasangan mulai menjelaskan perasaannya, mungkin respons yang paling dewasa bukan “kamu cerewet”. Justru sebaliknya, “Oke. Aku dengar. Kamu maunya apa, dan gimana kita bisa atur ini bareng-bareng?”.

Comments