Pernah nggak sih, kamu merasa dunia lagi berisik banget? Bukan cuma berisik karena suara knalpot di jalanan atau notifikasi WhatsApp grup kantor yang nggak berhenti bunyi, tapi berisik di dalam kepala sendiri. Ada ekspektasi yang harus dikejar, cicilan yang harus dibayar, sampai pertanyaan “kapan sukses?” yang terus menghantui.
Saat overthinking kayak gitu, biasanya kita butuh pelarian. Ada yang pilih scrolling TikTok sampai subuh, ada yang milih check-out keranjang belanjaan, tapi ada juga yang memilih untuk “pulang” lewat musik. Dan buat banyak orang (termasuk saya), lagu “33x” dari Perunggu adalah jalan pulang paling syahdu.

Bukan Sekadar Lagu, Tapi “Safe Space“
Awalnya, mungkin kita cuma dengar lagu “33x” karena ketukannya yang enak buat nemenin nyetir atau naik KRL. Tapi, kalau kamu coba pakai earphone, tutup mata, dan benar-benar dengerin liriknya, lagu ini punya “sihir” yang beda. Band yang sering dijuluki “Band Rock Pulang Kantor” ini, bener-benar tahu gimana cara memotret perasaan manusia urban yang lagi di titik jenuh.
Kenapa judulnya harus “33x”? Buat kita yang tumbuh di Indonesia, angka ini pasti nggak asing. Angka 33 identik dengan jumlah hitungan tasbih saat berzikir. Tapi uniknya, Perunggu nggak membungkus lagu ini dengan kesan yang “ceramah banget” atau menggurui. Mereka justru membungkusnya dengan musik rock yang gagah, namun liriknya sangat rapuh dan jujur.
Seni Menghadapi “Kekacauan”
Liriknya dibuka dengan gambaran tentang betapa lelahnya kita menghadapi hari-hari yang monoton. Ada satu fase di mana kita merasa sudah melakukan semuanya, tapi kok rasanya masih ada yang kosong ya?
“Hingga akhirnya aku kembali ke-Mu…”
Kata “Kembali” atau “Pulang” nggak melulu soal pulang ke rumah secara fisik. Ini soal kembali ke titik nol. Kembali mengakui kalau kita itu manusia yang terbatas. Apalagi budaya hustle culture yang maksa kita buat jadi “superhuman”, lagu ini seolah-olah nepuk pundak kita sambil bilang, “Hey, nggak apa-apa kok kalau lo ngerasa capek. Nggak apa-apa kalau hari ini lo ngerasa kalah.”
Bagi anak muda, pesan ini mahal banget. Kita sering merasa harus punya kendali atas segalanya. Padahal, ada hal-hal yang memang di luar jangkauan kita. “33x” ngajakin kita buat melepas ego itu. Mengucapkan doa atau sekadar narik napas dalam-dalam sebanyak 33 kali itu kayak tombol reset buat jiwa yang lagi hang.
Religiusitas yang “Cool”
Satu hal yang bikin lagu ini menarik adalah gimana cara lagu ini menyentuh sisi spiritual tanpa terasa kaku. Anak muda zaman sekarang mungkin agak “alergi” kalau dikasih nasihat yang kaku. Tapi lewat “33x”, Perunggu nunjukkin kalau spiritualitas itu bisa sangat keren dan sangat personal.
Ini bukan soal seberapa suci kamu, tapi seberapa jujur kamu sama Tuhan—atau semesta—saat kamu lagi sendirian di kamar. Lagu ini memvalidasi kalau doa paling tulus seringkali muncul dari rasa sakit dan kebingungan, bukan cuma dari rutinitas.
Kenapa Kita Butuh Lagu Kayak Gini?
Tahun 2026 yang geraknya makin cepat, kesehatan mental jadi isu yang nggak bisa kita anggap remeh. Kita butuh media untuk “buang sampah” emosional. Mendengarkan “33x” adalah salah satu cara buat healing yang paling murah dan efektif.
Lagu ini ngajarin kita kalau kedewasaan itu artinya tahu kapan harus berhenti sejenak dan berserah. Mirip banget sama pembahasan kita sebelumnya soal “Seni Jeda”. Kalau artikel “Seni Jeda” itu teorinya, maka lagu “33x” adalah praktiknya. Keduanya sama-sama bicara soal satu hal: Kewarasan.
Penutup
Jadi, kalau nanti sore kamu lagi kejebak macet, atau lagi pusing liat revisian yang nggak habis-habis, coba deh putar lagu ini. Biarkan musiknya yang kencang itu meredam bising di kepalamu. Biarkan liriknya jadi pengingat kalau sesibuk apa pun kamu, kamu selalu punya tempat untuk pulang.
Karena pada akhirnya, kita semua cuma manusia biasa yang butuh pegangan. Dan kadang, pegangan itu cuma berupa melodi sederhana dan hitungan 33 kali yang menenangkan hati.

Comments