Belakangan ini isu dan fenomena Fatherless kembali mencuat dan menjadi perbincangan publik. Secara sederhana Fatherless yaitu kurang hadirnya peran seorang ayah di dalam rumah baik secara fisik maupun psikis.

Sebenarnya fenomena Fatherless bukanlah hal yang baru lagi termasuk di Indonesia. Beberapa penelitian mengenai Fatherless sudah banyak dibahas melalui kajian ilmiah dan penelitian.

Tugas pengasuhan yang terlalu berfokus pada peran seorang ibu saja membuat sosok ayah kurang keterlibatannya dalam menemani tumbuh kembang anak. Hal ini tentu saja memberikan pengaruh yang kurang disadari secara utuh.

Pentingnya Sosok Ayah

Padahal dengan terlibatnya peran sosok ayah dalam mendidik anak bisa membawa dampak yang sangat positif. Karena pada dasarnya sikap dan perilaku yang bisa diajarkan pada anak pun tentu saja berbeda antara seorang ibu dan ayah.

Dengan keterlibatan utuh seorang ayah dalam pola pengasuhan anak bisa menyeimbangkan perkembangan anak menuju fase dewasa. Psikologi laki-laki dan perempuan yang jelas berbeda bisa saling melengkapi untuk membentuk kepribadian anak di masa mendatang. Dengan itu anak bisa mengenal kedua figur yang berbeda dalam hidupnya

Fatherless Pengingat Peran Orangtua

Isu Fatherless ini tentunya menjadi pengingat bersama tentang keberadaan dan keterlibatan peran ayah dalam mengasuh dan mendidik anak. Banyak hal mempengaruhi adanya Fatherless misalnya peran ayah yang hanya fokus untuk menafkahi.

Keseimbangan untuk mengatur peran ayah antara memberikan nafkah dan terlibat dalam tumbuh kembang anak tentunya tidak mudah. Manajemen waktu dan kedekatan secara emosional sangat dibutuhkan dalam proses ini.

Menyambung hal yang sudah dijelaskan di atas  bahwa psikologi laki-laki dan perempuan jelas berbeda, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan untuk saling melengkapi satu sama lain. Oleh sebab itu pengalaman dan pengajaran yang diterapkan ibu dan ayah pada anak juga berbeda.

1. Melalui Ayah, Anak Belajar tentang Keberanian Mengambil Keputusan dan Tanggung Jawab

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang laki-laki diberikan kelebihan melalui logikanya pada saat mengambil keputusan dan tanggung jawab. Dari seorang ayah, anak akan belajar tentang cara berpikir yang terstruktur dan masuk akal sehingga sangat bermanfaat ketika di masa yang akan datang anak memerlukan pertimbangan untuk menentukan sebuah pilihan.

2. Perkembangan dan Pengalaman Sisi Emosional Anak Diberikan oleh Seorang Ibu

Kasih sayang tulus dan penuh empati tercermin dari kesabaran seorang ibu saat mengasihi anaknya sejak masih berada dalam kandungan. Seorang ibu yang menerima ketika sang anak dalam keadaan rewel dan susah diatur tapi ia tetap mengasihi anaknya sepenuh hati. Melalui ibu anak bisa belajar untuk mengelola sisi emosional sekaligus mengenalkan rasa empati.

Kedua point tersebut hanya sebagian pengalaman pengajaran yang diberikan oleh ibu dan ayah pada anaknya. Dengan keseimbangan peran antara ibu dan ayah akan memberikan pengalaman dan pengajaran yang beragam pada anak.

Editor: Assalimi

Gambar: