Apa kabar para generasi sandwich? Sebagian besar generasi ini bermukim di negara berkembang, salah satunya adalah tanah air kita tercinta, Indonesia. Kenapa disebut demikian?

Karena kue yang satu ini berlapis-lapis dengan aneka varian di dalamnya. Hal ini untuk menggambarkan bagaimana generasi tersebut memiliki tugas untuk menanggung beban finansial banyak pihak dalam waktu yang bersamaan, baik diri sendiri, keluarga intinya, bahkan orang tua. Saking banyaknya beban ekonomi yang harus dicukupi membuat roti lapis cocok menjadi gelarnya.

Memahami Generasi Sandwich

Bagi sebagian orang mungkin istilah generasi sandwich masih kurang familiar. Namun, sebagian besar generasi milenial di negara ini secara riil tengah berada dalam posisi demikian. Mungkin saja, hal ini terjadi karena beberapa faktor dan yang paling utama adanya ketidaksiapan dalam mengatur aset untuk masa depan.

Tidak ayal banyak yang menuduh kegagalan generasi sebelumnya menjadi sumber dari problema generasi sandwich. Terlepas dari siapa yang salah, seharusnya budaya turunan dari generasi ke generasi ini tidak boleh dilanggengkan. Seseorang yang berada dalam kondisi ini akan merasakan beban yang sangat berat karena beban tersebut ditanggung sendirian.

Lantas bagaimana para generasi yang kadung terjebak dalam posisi ini? Meski tidak mudah, tidak dibenarkan pula bila kemudian lepas tanggung jawab terhadap beban yang berat tersebut. Terlebih lagi bila orang tua mereka sudah tidak dapat menghasilkan uang akibat usia yang sudah senja.

Tidak ada cara lain selain menghadapinya, cobalah mencari alternatif agar dapat menghasilkan uang dengan cara yang lebih efektif. Buanglah sementara rasa egois untuk mencari orang yang harus disalahkan akan hal tersebut. Saat semua sudah terlanjur terjadi, maka tidak ada jalan lain kecuali menghadapi.

Budi Rahardjo, seorang perencana keuangan menyatakan bahwa sandwich generation ini terjadi akibat orang tua yang tidak menyiapkan tabungan untuk masa pensiun serta perencanaan yang buruk atau bahkan tidak ada persiapan sama sekali.

Oleh karenanya, jangan sampai generasi model ini terus berlanjut hingga generasi berikutnya. Atasi masalah ini agar tidak terulang dengan cara mulai peduli pada perencanaan keuangan dan tabungan di masa tua. Misalnya, mengatur dana untuk usia tua, dana sekolah anak, dan untuk kemungkinan-kemungkinan lain yang akan datang di hari tua.

Editor: Nirwansyah

Ilustrasi: ArgaPro