Loading

Bagi anak 90-an hingga 2000-an tentu tidak asing lagi dengan permen karet Yosan. Terlalu banyak kenangan yang saya lewatkan bersama permen karet berbungkus kertas ini.. 10-15 tahun lalu permen karet ini ada di kisaran harga Rp 100-an. Harga yang manusiawi yang membuat permen ini dulu selalu bertahan ditengah gempuran jajanan lain.

Belum lagi dengan tato non permanen di setiap bungkusnya. Tato-lah yang pada akhirnya menjadikan saya sebagai busan (budak Yosan)/ Jika Young Lex tatoan tapi tak pakai narkoba, saya dulu tatoan tapi tak pakai sandal, heuheu. Tato yang tidak menambah kesan apapun kecuali bikin repot kalau mandi, belum lagi kalau tatonya ditempel di pintu atau tembok, bikin saya sulit membayangkan betapa sabarnya orang tua dulu. Namun, apa yang membuat anak-anak dulu sangat menggilai permen ini selain harga dan tatonya? jawabnya ada di tulisan bungkusnya.

Huruf N di Permen Karet Yosan

“Rangkailah huruf-huruf  ‘Y+O+S+A+N’,’’ begitulah tulisan di bungkusnya. Tantangan yang berhadiah tas sekolah, sepeda yosan, kaos, ufo, gangsing, tamiya dll, sesuai apa yang tertulis di bungkus huruf ‘N’. Membaca tulisan tersebut saya 15 tahunan lalu dengan naifnya tentu saya sangat optimis mengumpulkan kelima huruf tersebut. 

Nyatanya menemukan bungkus dengan huruf “N” tidak semurah itu. Niat mengumpulkan selalu mentok sampai “Y-O-S-A,” lalu membatin “yaudah, lah”. Level kesulitan mendapatkan hadiah dari permen ini sudah di level legend, jauh diatas level hard sekalipun. Padahal Kalau di jajanan lain, sudah tidak terhitung berapa kali saya mendapatkan hadiah berupa uang dan mainan sampai jam tangan. Tapi Yosan perkara lain.

Selain optimis buta, testimoni teman yang katanya pernah berhasil mengumpulkan kelima rangkaian huruf tersebut membuat saya makin gila. Sebuah cerita yang membuat saya suudzon hingga saat ini, dan saya ragukan kebenarannya saat dia bilang pernah mengumpulkan bungkus dengan rangkaian huruf “Y-O-S-A-N”, komplit! Jangan-jangan sebenarnya dia agen rahasia Yosan yang sebenarnya nggak bener-bener melengkapi kelima huruf, sekadar untuk meyakinkan bahwa huruf N di bungkus Yosan beneran ada? Konspirasi macam apa ini?

Memang kenyataannya huruf “N” bukan khayalan semata. Setahun yang lalu sempat heboh berita seorang pria mendapatkan sepeda dari menukar huruf “N” di permen Yosan. Gimana enggak heboh coba, sejak 1986 saja konon baru ada empat pemenang. Selama ini saya menyesal menertawakan Liverpool dan fans-nya. Ternyata hal yang tidak bisa saya sangkal, sejatinya saya senasib dengan fans Liverpool bahkan lebih lama dari penantian mereka terhadap gelar Premier League, yaitu menantikan keajaiban huruf “N” di bungkus permen karet Yosan.

Strategi Pemasaran yang Ampuh

Padahal kalau dipikir-pikir sebenarnya perusahaan se-legend Yosan kalau mau ngasih hadiah cuma tinggal ngasih hadiah saja. Nggak perlu nunggu bertahun-tahun baru mengedarkan sebiji permen dengan bungkus huruf “N”. kaya mau ngasih kekuatan Shazam saja, harus nunggu bertahun-tahun. Atau pikiran remeh saya salah, kalau semisal Yosan ngasih hadiah sepeda sekelas Xquareone EX9 yang harganya ada di kisaran Rp 100 juta.

Tapi mungkin inilah seninya permen karet Yosan. Selain menjadi strategi pemasaran yang ampuh kala itu, nyatanya kemustahilan huruf “N” ini yang menjadikan permen ini abadi di memori anak-anak hingga dewasa. permen karet Yosan akan dikenang bukan hanya sebagai makanan namun juga sebagai misteri, setara dengan mitos hantu Mr Gepeng.

Ingatan saya tentang jajanan lain yang berhadiah nyatanya tidak sekuat ingatan saya berburu huruf “N” Yosan yang dikenal super sulit itu. Dulu, banyak produsen snack anak-anak yang setiap hari selalu saja ada orang yang mendapatkan uang Rp 2 ribu – Rp 10 ribu, sampai jam tangan demi hidup dalam persaingan antar jajanan. Setelah jarang memberi hadiah, jajanan-jajanan itu mulai ditinggalkan anak-anak. Tetapi Yosan perkara lain, ia tetap digilai pada masanya, sekalipun tetap ngotot tak murahan memberi hadiah.

Mungkin Yosan menguji seberapa sabar kita dengan penantian. Dan tentang bagaimana Yosan yang tetaplah Yosan, walau pudar oleh zaman tetap konsisten menjaga nilai ke-prestise-an huruf N-nya. Walau kini mulai diterpa kesibukan duniawi, serta Yosan yang mulai memudar ketenarannya, pencarian itu tetap berlanjut, walau tak senekat dulu dan hanya sekadar angan, membayangkan seandainya saya kejatuhan bungkus bertulis huruf “N”. Lebih nekat lagi, perjuangan itu kelak harus tetap dilanjutkan bahkan sekalipun harus berganti generasi. Huruf “N” harga mati!