Indonesia Juara Piala AFF 2020, Apa Saja Syaratnya?

Menyimak kiprah Indonesia di Piala AFF, hanya dua kemungkinan yang terbayang di kepala saya: sial atau sial banget. Bagaimana tidak, Indonesia terhitung lima kali masuk Final Piala Tiger/Piala AFF.

Tahun 2000, kalah melawan Thailand; tahun 2012, kalah lagi melawan Thailand; tahun 2004, kalah melawan Singapura; tahun 2010, kalah melawan Malaysia; tahun 2016, kalah melawan Thailand. Sekarang, Indonesia dalam keadaan tertinggal 0-4 di Piala AFF 2020.

Tipis banget harapan Indonesia untuk bisa menang di Piala AFF kali ini. Tapi, secara umum, setelah memantau jagat media sosial dengan pendapat akun-akun analisis, jurnalis, hingga penggemar bola, sebenarnya Indonesia bisa juara Piala AFF, kok. Terus apa saja, sih, syarat-syaratnya?

Kompetisi dan Pembinaan

Indonesia ngga kurang pesepakbola berbakat, kok. Bahkan beberapa tahun lalu Indonesia sempat berhasil menekuk Korea Selatan di Kualifikasi Piala Asia U-19. Tapi kelanjutan dari kenangan itu berbanding terbalik.

Salah satu pemain Korsel kala itu, Hwang Hee-chan, saat ini jadi pemain Wolverhampton Wanderers yang berlaga di Liga Primer Inggris, salah satu kompetisi terbaik dunia. Sedangkan pemain Indonesia tidak ada yang bermain di liga-liga utama Eropa, bermain di Liga 1 Indonesia pun belum tentu.

Akar dari permasalahan ini adalah minimnya kompetisi yang berjenjang dan berkualitas di Indonesia. Banyak kritik untuk Liga 1 mulai dari pengelolaan, kualitas wasit, konsistensi peraturan, hingga ketertiban administrasi dan pendanaan.

Kompetisi tertinggi saja begitu, apalagi Liga 2 dan Liga 3 yang sarat dengan dugaan pengaturan skor hingga kekerasan. Baru-baru ini bahkan seorang wasit Liga 3 babak-belur dihajar oleh pemain.

Selain kompetisi, pembinaan berjenjang sangat diperlukan. Di Jepang sebagai salah satu kekuatan sepak bola Asia misalnya, pembinaan dilakukan sejak usia dini dan kompetisi nasional konsisten dilakukan sejak usia SMA.

Vietnam yang lima tahun terakhir muncul sebagai kekuatan utama Asia Tenggara, juga melakukan pembinaan sejak usia dini.

Stop Vidcall dan Masuk Ruang Ganti

Selanjutnya, untuk siapapun Pimpinan PSSI maupun pejabat, saat timnas berkompetisi harus mengurang-ngurangi vidcall apalagi sampai mencoba masuk ruang ganti. Daripada ngurusin hal-hal remeh penuh pencitraan, mending dananya dialihkan untuk yang lain.

Misal, menyediakan nutrisi yang lebih baik bagi para pemain. Atau, memberikan fasilitas dan bonus yang lebih baik sehingga berpengaruh pada performa pemain. Syukur-syukur bisa mengalihkan perhatian pada pembinaan jangka panjang alih-alih mencari panggung seperti ini.

Jangan lupa juga, bonus-bonus yang dijanjikan diberikan jika target tercapai. Masalah penghargaan dalam cabor apapun termasuk sepak bola di Indonesia adalah minimnya bonus.

Sudah bonus minim, sering terjadi pula bonus dipotong. Yang begini, kan lebih perlu jadi perhatian daripada sebatas nge-vidcall atau masuk ruang ganti yang sangat simbolik itu.

Kalo Bikin Ucapan, Gambar Paling Besar Ya Pemain dan Pelatih

Bukan seperti yang sering terjadi, poster dukungan untuk timnas maupun ucapan selamat (ngga hanya berlaku di sepak bola) biasanya justru lebih besar gambar politisi atau pejabat.

Padahal yang latihan atlet, yang berlaga atlet, yang berkorban atlet dan pelatih, yang kekurangan anggaran atlet, tapi kok ketika juara malah gambar politisi yang paling besar.

Ini bukan hal sepele, ya. Karena apa yang terjadi pada ucapan ini adalah cerminan dunia nyata. Politisi dan pemegang kebijakan minim banget membantu dalam peningkatan kualitas, tapi saat memberi ucapan dan dukungan seolah paling berjasa dengan gambar paling besar dan paling jelas.

Padahal masih banyak yang harus didukung di level daerah maupun nasional. Di cabang sepak bola, kompetisi usia muda dan fasilitas latihan-sport science yang mumpuni sangat dibutuhkan.

Juga keberpihakan pada peningkatan kualitas wasit dan suporter yang sangat perlu perhatian di daerah manapun se-Indonesia.

Nah, politisi dan pemangku kebijakan mbok berikan perhatian lebih, minimal dalam bentuk anggaran yang cukup dan bebas korupsi, baru setelah itu nge-klaim secukupnya.

Pasang Taruhan untuk Lawan

Satu hal yang rawan terjadi di persepakbolaan Indonesia adalah mafia bola. Dalam sejarahnya, permafiaan hingga sepak bola gajah ini mungkin terjadi di level klub maupun timnas. Nah, karena ngga pernah beres, sepertinya terobosan perlu diperbuat penggemar sepak bola Indonesia.

Misalnya dengan pasang taruhan untuk Thailand di Final AFF kali ini (atau siapapun lawan Indonesia). Bayangkan jika kebanyakan orang mengunggulkan tim lawan, mafia-mafia yang bermain dan tentunya cari untung pasti akan berpihak pada kubu yang tidak diunggulkan. Dalam kasus ini, siapa lagi kalo bukan Indonesia~ hehehe

Nah, jadi gimana, kira-kira bisa ngga syarat-syarat di atas terpenuhi dan Indonesia jadi Juara Piala AFF? ­čÖé

Editor : Ciqa

Gambar: Google.com