Akhir Januari lalu, kita dikagetkan dengan munculnya serial dokumenter dari Netflix yang bertajuk Conversation with a Killer: The Ted Bundy Tapes yang berisi empat episode kisah perjalanan si pembunuh yang pernah menggegerkan Amerika pada tahun 1970-an sebagai peringatan 30 tahun kematian Ted Bundy. Kemudian menyusul film garapan sutradara Joe Berlinger yang menceritakan kembali kisah Ted Bundy yang diperankan oleh Zac Efron berjudul Extremely Wicked, Shockingly Evil, and Vile yang sempat menjadi kontroversi karena ‘Hei, masa Zac Efron harus memerankan pembunuh kejam banget itu sih?’. Namun, siapa sih sebenernya Ted Bundy ini? Kenapa orang-orang sampai enggak percaya kalau dia itu pembunuh? Siap-siap kaget sekaligus merinding karena kisah ini!

Ted Bundy lahir dengan nama Theodore Robert Conwell pada 24 November 1946 di Burlington, Vermont. Bundy pada masa kecilnya dikenal sebagai anak yang pendiam dan mengalami kesulitan berbicara, hal itu pula yang menyebabkan ia menjadi sasaran bullying semasa sekolahnya. Di sebuah wawancaranya dengan Stephen Michaud yang juga menerbitkan buku berjudul Ted Bundy: Conversation with a Killer, Bundy kerap berbohong dengan mengatakan bahwa semasa kecil, Bundy tidak pernah memiliki teman. Pernyataan Bundy tersebut dibantah oleh Sandi Holt dalam dokumenter Bundy, dimana Holt merupakan tetangga sekaligus teman bermain Ted semasa kecil. Holt mengatakan kalau sedari kecil Bundy telah memiliki kecenderungan untuk menyakiti dan menakut-nakuti orang lain, sementara di sisi lain Bundy juga anak yang pemarah.

Kebohongan tersebut membuat orang-orang tidak percaya dengan latar belakang seperti itu membuat seorang Ted Bundy bisa disangka seorang pembunuh. Seperti bagaimana Bundy mengatakan jika ia hebat dalam atletik dan memiliki banyak teman ketika masuk ke sekolah menengah atas terlebih lagi di universitas. Lagi lagi hal itu juga dibantah Holt yang mengatakan sebaliknya, bahwa Bundy tidak lebih dari orang yang selalu berusaha membatasi orang lain untuk mengenalnya.

Pada tahun 1974 sampai 1978, publik Amerika (terutama Seattle) dikejutkan dengan hilangnya para mahasiswi dengan rentang umur 18-22 tahun saat itu. Dan ketika ditemukan di Gunung Taylor, para korban naasnya sudah menjadi tulang belulang walaupun selanjutnya ada yang menyebut jika sebelum membunuh dan memutilasi korban, Bundy secara jahat memperkosa mereka. Bundy dipenjara pada tahun 1976 namun melarikan diri sebanyak dua kali kemudian kembali melakukan pembunuhan hingga diyakini korban yang terakhir adalah seorang gadis cilik berusia 12 tahun bernama Kimberly Leach yang diculik sesaat setelah gadis itu pulang dari sekolah. Motif yang diduga kuat menjadi alasan Bundy membunuh adalah masa lalu Bundy ketika Bundy memiliki seorang pacar, Stephanie Brooks, yang dianggap membuat Bundy terobsesi dengan Brooks sebelum Brooks memutuskan hubungan mereka berdua. Rasa sakit hati itu disinyalir sebagai dasar Bundy menjadi pembunuh berantai ketika hidup. Sakit hati dan kemarahan membuat Bundy mengincar gadis-gadis yang dianggapnya ‘mirip’ dengan Brooks.

Pelarian Bundy harus berakhir pada 24 Januari 1980, sembilan tahun setelah keputusan terakhir dalam sidangnya yang membuat Bundy harus dieksekusi di kursi listrik. Ketika hari eksekusinya, para keluarga korban menyambut dengan gembira karena pada akhirnya si pembunuh berantai yang merisaukan Amerika itu telah mati. Penampilan Bundy yang selalu rapi ditambah lagi wajahnya yang ganteng membuat publik sempat enggan percaya kalau pria itu pembunuh berantai. Ditambah lagi, latar belakang akademik Bundy yang sempat belajar di Hukum dan Psikologi di bangku kuliah semakin membuat masyarakat bertanya-tanya, benar atau enggak sih dia seorang pembunuh?

Ngeri banget kan ya? Siapapun bisa jadi orang yang mereka enggak inginkan tanpa kita sadari. Ingat, waspadalah, waspadalah!

Penulis: Saraswati N. D.