Indonesia ini unik banget. Kegemasan nggak cuma muncul dari Freya dan Xabiru tapi bahkan bisa muncul dari para pejabat. Apalagi sekarang di masa pandemi corona, kegemasan mereka meningkat. Sampai bisa jadi bahasan tanpa henti di medsos, khususnya di Twitter yang notabene warganya pada senang ngejulidin pejabat, terutama pejabat-pejabat berikut:

 

Kiai Ma’ruf Amin

Tingkat kegemasan: 70%

Wakil Presiden (Wapres) RI ini berhadapan dengan keadaan di mana sebelumnya kita punya Wapres ideal dalam sosok Pak Jusuf Kalla. Jadinya selalu dibanding-bandingkan deh. Pak JK kan berlatar belakang pengusaha besar, pernah jadi menteri dan ketua partai juga, walhasil perannya waktu jadi Wapres cukup mengimbangi Pak SBY maupun Pak Jokowi. Ya jelas beda dengan Kiai Ma’ruf yang latar belakangnya agamawan.

Salah satu contoh minimnya peran Kiai Ma’ruf, entah dengan alasan apa, Kiai Ma’ruf sebelum masa pandemi corona jarang muncul di berita. Paling muncul sepekan sekali. Nah yang bikin gemas, sekalinya muncul langsung bikin kontroversi. Contohnya saat corona mulai rame, Kiai Ma’ruf mengajak kita untuk qunut.

Ya benar sih kita harus lebih dekat dengan Allah. Tapi usahanya tuh loh Pak Kiai, kan nggak mungkin habis qunut langsung cling! pergi corona-nya.

 

Johnny G. Plate

Tingkat kegemasan: 75%

Bapak yang satu ini adalah Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo). Mengeja namanya pla-tѐ bukan pleit (piring dalam bahasa inggris).

Pak Plate ini melanjutkan tradisi pemblokiran oleh Menkominfo sebelumnya. Nah, kegemasan kita memuncak ketika layanan streaming ilegal macam Indoxxi dan LK21 dibabat habis (tapi ternyata masih banyak situs alternatif hihi). Tapi sebenarnya lebih gemas lagi ketika layanan Netflix sempat diblokir. Saat streaming ilegal dilarang, malah jalur streaming yang legal ikut-ikutan nggak diizinkan. Duh

Nah nggak tau kenapa, kerjanya juga gitu-gitu saja. Padahal Kemenkominfo bisa banget mengurusi jaringan yang masih lelet sementara dunia sudah masuk 5G. Atau mengurus Telkom yang IndiHome-nya terkenal akan permasalahan jaringan dan buruknya pelayanan. Atau mengurus TVRI yang sudah bagus saat diurus Pak Helmi Yahya, tapi malah Pak Helmi Yahya-nya dipecat.

Bukan malah mengurusi pemblokiran, udah capek-capek memblokir tiap hari, eh masih aja muncul situs-situs alternatifnya.

 

Terawan Agus Putranto

Tingkat kegemasan: 90%

Menteri Kesehatan (Menkes) yang sekaligus dokter ini dikenal oleh orangtua kita lewat pesan berantai di WhatsApp dan cerita dari mulut ke mulut. Cerita yang tersebar adalah dr. Terawan punya metode cuci otak yang bisa menyembuhkan stroke. Tapi ini masih jadi kontroversi. Belum terbukti, bahkan juga berisiko. IDI (Ikatan Dokter Indonesia) pun melarang praktik metodenya dr. Terawan secara luas.

Kita skip urusan kontroversi, bagian paling menggemaskan dari dr. Terawan adalah sikap santuy-nya. Suatu saat di awal masa pandemi dr. Terawan sempat menyebut bahwa masyarakat yang nggak sakit nggak perlu memakai masker. Ketika informasi ini sudah tersebar di masyarakat lalu dr. Terawan yang sehat itu muncul di media, dalam keadaan sehat, dan ya—memakai masker.

Ada satu lagi yang gemas banget. Dokter yang satu ini kan Menkes ya, mengurusi kesehatan, medis, rumah sakit, dan semacamnya. Tapi saat corona mulai melanda dr. Terawan menanggapi dengan santai. Imbauan untuk tenang dan hadapi dengan doa.

Mohon maap Pak, bapak ini Menteri Kesehatan atau Menteri Agama yhaa?

 

Luhut Binsar Panjaitan

Tingkat kegemasan: 101%

Pejabat yang satu ini tingkat kegemasannya sampek melampaui batas yang diizinkan!

Pak Luhut di periode pertama Presiden Jokowi menjabat sebagai Menko Kemaritiman. Sekarang masih di Kementerian yang sama tapi tambah keren namanya: Menko Kemaritiman dan Investasi. Beliau ini nggak pernah lepas dari kontroversi, contoh yang terbaru adalah beliau bilang kalau corona nggak kuat dengan cuaca panas Indonesia—padahal jelas-jelas corona bisa mewabah di Indonesia.

Selanjutnya, entah benar atau enggak, Pak Luhut ini disebut-sebut punya kuasa luar biasa. Karena semuanya diurusi sama Pak Luhut, nggak tahu karena terlampau baik atau gimana. Yang jelas, kalau ada kebijakan pemerintah tunggu sehari – dua hari. Kalau nggak ada reaksi dari Pak Luhut insyaAllah aman. Kalau ada reaksi, nah itu tuh yang benar.

Contohnya kemarin waktu Pak Anies mau menyetop operasi bus AKAP keluar-masuk DKI Jakarta, dianulir oleh Pak Luhut. Lalu ada juga imbauan larangan mudik dari Pak Jokowi untuk kepala daerah. Kemudian Pak Luhut muncul, bilang mudik nggak dilarang. Pak Jokowi loh yang bilang, Presiden, orang nomor satu di Indonesia. Ekonom Faisal Basri juga gemas kok.

Sebelumnya Pak Luhut juga dikenal banyak berkomentar, terutama soal investasi yang sekarang jadi urusan beliau. Semua hal jadi dihubungkan dengan investasi, mulai penyampaian aspirasi sampai urusan perbatasan Natuna. Pokoknya tunggu Pak Luhut bertitah, itulah yang bakal jadi keputusan.

Saking gemasnya sampai ada akun tubir yang memberi gelar beliau: King Luhut Binsar Panjaitan, The First of His Name, King of The Nusantara and The First Men, Lord of The Seven Kingdom and Protector of The Realm!

 

Penulis: Nabhan Mudrik A.

Ilustrator: Ni’mal Maula

Kredit