Kemarin (10/4) medsos diramaikan dengan bahasan dentuman misterius di Jabodetabek dan sekitarnya. Gunung berapi Anak Krakatau sempat dituduh jadi dalang dentuman itu. Tapi ternyata nggak terbukti, malah seharian Gunung Anak Krakatau ikutan viral.

Karena viralnya Gunung Anak Krakatau, lalu muncul info yang bilang bahwa gunung itu statusnya waspada. Ditambah lagi jajaran gunung se-Indonesia yang sedang berstatus waspada. Lalu warganet geger, ketakutan, sampai “Krakatau” jadi kata kunci yang masuk jajaran trending topics Indonesia.

Nah, memangnya waspada itu apa sih?

Status Waspada

Gunung berapi punya empat level; Level I, Aktif-normal; Level II, Waspada; Level III, Siaga; Level IV, Awas. Status waspada sendiri level II. Artinya ada aktivitas kegempaan dan vulkanisme yang mulai aktif.

Beda dengan status aktif normal, misalnya Gunung Tangkupan Prahu. Gunung ini nggak ada aktivitas kegempaan, juga nggak ada erupsi. Tapi kawahnya mengepul dan bau belerang. Di sekitarnya juga terdapat beberapa sumber mata air panas alami. Ketiganya tanda bahwa gunung Tangkuban Prahu adalah gunung berapi aktif, tapi nggak ada tanda-tanda letusan.

Kalau waspada beda, sudah ada letusan, ada peningkatan kegempaan juga. Tapi tunggu dulu, status waspada nggak semenyeramkan itu. Status waspada itu masih level II, jauh dari status awas (level IV) yang menandakan kalau gunung bisa meletus besar sewaktu-waktu dalam 24 jam.

Ketika status waspada, jalur pendakian ditutup. Tapi, pengungsian belum perlu dilakukan karena aktivitasnya memang belum mengancam kehidupan manusia. Pengungsian baru perlu dilakukan ketika status siaga, dan digencarkan segera saat awas.

Jadi salah kaprah kalau ada yang takut dengan status waspada. Karena kita masih bisa mendekat ke gunung meskipun ada aktivitas kegunungapian, pastinya hanya boleh mendekat di luar Kawasan Rawan Bencana I (KRB I). Contohnya nih, saat ini Gunung Merapi di Jogja yang statusnya waspada masih boleh dikunjungi, dengan syarat berjarak minimal 3 kilometer dari kawah.

Jadi, kita masih boleh main ke Kaliurang atau bahkan ke Kaliadem yang lebih tinggi posisinya—karena berada di luar KRB I. Eh, tapi kalau mau main setelah pandemi corona selesai ya hehehe.

Aktivitas Gunung Berapi

Status yang banyak disebut terkait erat dengan aktivitas gunung berapi. Baik gempa maupun erupsi-erupsi kecil, adalah tanda kalau gunung berapi mulai beraktivitas mengeluarkan material. Gempa menandakan kalau sedang ada aktivitas di kantung magma.

Bisa diibaratkan seperti air yang mendidih dalam panci, pasti ada getarannya. Kalau di gunung berapi, hal ini menghasilkan getaran bahkan gempa-gempa kecil. Sementara itu, erupsi-erupsi kecil menandakan materi yang “dimasak” tadi siap untuk dilontarkan ke luar.

Nah, ketika waspada, energi untuk melontarkan materi tadi belum cukup banyak. Ketika siaga dan awas baru deh energinya cukup untuk terjadi letusan besar. Kelihatan menyeramkan memang, tapi tenang saja. Kita hanya perlu mengamati aktivitasnya baik-baik sembari bersiap kalau-kalau mau melewati wilayah yang hujan abu setelah erupsi kecil.

Harus kita pahami bahwa aktivitas semacam itu normal banget, bahkan jadi pendukung adanya kehidupan di bumi. Bisa dibilang kehidupan di bumi nggak memungkinkan terjadi tanpa bantuan material hasil aktivitas gunung berapi.

Jadi, langkah terbaik yang bisa dilakukan manusia adalah menyesuaikan dengan alam dan memahami aktivitasnya.

 

 

Walaupun Indonesia ada dalam ring of fire (cincin api) karena banyaknya gunung berapi, tapi nggak perlu khawatir. Aktivitas gunung berapi adalah fenomena yang sudah dipahami manusia dengan baik. Lebih dipahami ketimbang gempa bumi yang kita nggak tahu kapan dan di mana terjadi, atau cuaca yang masih sulit banget diprediksi secara akurat.

Ilmu yang ada sekarang bisa memahami kapan gunung berapi mulai beraktivitas, apa alasannya, riwayat letusan puluhan bahkan ratusan tahun lalu, bagaimana tipe letusannya, sampai kapan kira-kira terjadi letusan besar.

Setiap gunung berapi punya karakternya masing-masing yang dan nggak bisa disamakan satu dengan yang lainnya. Penting bagi kita buat belajar tentang hal ini baik-baik, biar paham dan nggak salah persepsi, apalagi sampai ketakutan.

Kata Earl Nightingale, “Kapanpun kita takut, itu terjadi karena kita nggak cukup tahu. Kalau kita sudah paham, kita nggak akan pernah takut.”

 

Penulis: Nabhan Mudrik Alyaum

Ilustrator: Ni’mal Maula

Kredit