Berkat Corona ini, aku pulang kampung lebih cepat. Ya, kurang lebih 3 bulan aku disini, di kota kecil ini. Cerita pulangku sekarang berbeda dari biasanya. Kalo biasanya pulang kampung sudah disiapkan jauh-jauh hari, sekarang semuanya serba mendadak! Bahkan aku nggak berpikiran untuk pulang kampung sebelumnya. Tapi karena kekhawatiran keluarga, barulah aku memesan tiket di H-1 keberangkatan. Karena serba mendadak itu, aku nggak ada waktu untuk berpikir, “akan kuhabiskan waktu di sana dengan apa yaa?” Sehingga aku melupakan kebiasaan sangu buku dari Jogja.

Selama menjalani self-quarantine, aktivitas yang aku lakukan hanya mengikuti online class, main games, dan scroll sosial media. Sampai kemudian aku mulai merasa bosan dan nggak sengaja melihat status Whatsapp teman-teman yang menyebarkan PDF book  karya beberapa penulis secara gratis. Dari sana baru teringat “Oh iyaa, nggak bawa buku”. Dua hari kemudian, para penulis mulai ramai mengomentari tentang penyebaran e-book ini sebagai pembajakan. Komentar yang kubaca salah satunya dari Tere Liye, yang dari sanalah aku mulai tau ternyata Indonesia punya aplikasi perpustakaan nasional yang bisa diakses secara gratis dan modelnya mirip sosial media—iPusnas, namanya.

 

Nasib Toko Buku

Karena aku lagi kangen-kangennya dengan sastra terlebih puisi, kuputuskan untuk download aplikasi iPusnas. Walaupun buku-buku keluaran terbaru belum ada, setidaknya bisa mengobati rasa kangen ini. Selama membaca di iPusnas, aku mulai berpikir tentang “Beli buku di kota ini dimana ya?”, “Beli via online, ongkirnya berapa ya?”, “Perpus kota apa kabar?”. Dan malam harinya, kucoba bertanya pada temanku.

Kurang lebih jawabannya seperti ini, “Toko buku di sini nggak ada, dulu Gramedia aja sempet buka disini tapi sekarang udah tutup.” Setelah kuingat-ingat, memang dulu waktu jaman SMA pulang kampung ada Gramedia di pingir jalan sih. Tapi, tahun setelahnya, udah nggak tau lagi keberadaanya dimana.

Selain itu, kucoba mencari buku via online dan aku terkejut melihat ongkirnya yang bisa sampai 57.000 rupiah. Dalam hati bilang, “Ini mah kalo di Jogja udah dapet satu buku”. Apa karena corona ongkir jadi mahal ya, pikirku. Akhirnya kuurungkan beli sampai sekarang. Sebenarnya ada sih satu-dua toko buku disini. Tapi koleksinya cenderung untuk mata pelajaran sekolah, jarang sekali menyediakan bacaan umum.

Flashback ke jaman SMP sebelum tau apa itu buku bajakan, aku melihat ada orang yang promosi di twitter, kemudian mulai tertarik karena covernya—Open Your Heart, Follow Your Prophet, judulnya. Itu pertamakali aku ke pasar dengan niat membeli buku bacaan, bukan buku sekolah. Karena nggak ketemu, akhirnya kuputuskan untuk membeli buku online dan inilah pengalaman pertamaku. Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku menemukan satu toko buku yang mulai menjual buku umum seperti novel –ya, meski stoknya sedikit. Tetapi kemudian di bangku SMA aku sadar bahwa ternyata yang dijual di toko itu adalah bajakan. Perpus Kota di sini gimana? Aku ngga tau sih sekarang gimana, sebab terakhir ke sana waktu masih SMP.

Setelah semua ini, aku mulai menyadari bahwa memang kota kecil ini jauh akan namanya literasi. Bagaimana tidak, bahkan toko  sekelas Gramedia aja nggak sampai umur satu tahun dan sudah gulung tikar. Menyerah untuk berjualan disini karena mungkin pemasukannya nggak ada.

 

Apa Penyebabnya?

Berdasarkan pengamatan tersebut, menurutku pribadi kurangnya literasi di masyarakat adalah karena minimnya akses untuk memperoleh buku. Bandingkan dengan Jogja yang toko bukunya melimpah ruah. Sedangkan disini, mencari tempat yang jual buku original aja susah.

Selanjutnya, dukungan pemerintah menjadi hal penting disini. Misalnya, memperpanjang jam operasional Perpustakaan Kota. Coba deh, tujuan adanya perpustakaan kan harusnya untuk dikunjungi sama masyarakat khusunya pelajar. Tapi kalau Perpus buka hanya sampai jam kerja saja kemudian weekend libur, siapa yang mengunjungi? Ada, tapi sebagian besar masyarakat khususnya pelajar tidak bisa ke Perpus karena harus sekolah.

Kemudian sosialisasi tentang keberadaan fasilitas Perpustakaan Kota harus digencarkan. Waktu SMP di kota ini, ada Perpustakaan Keliling (Perpus Mobil) yang menurutku jadi salah satu sosialisasi yang keren kalau terus dilakukan. Tetapi sayangnya, Perpustakaan Keliling itu cuma dua kali datang ke sekolah.

Ketiga adalah kesadaran masyarakat itu sendiri mengenai pentingnya literasi menurutku poin yang cukup penting. Bahkan jujur saja, sedari kecil orang tuaku pun nggak sering membelikan buku anak. Ketertarikanku pada buku diawali dengan menemukan satu space di swalayan kota yang jual majalah Bravo!, dan dari situlah kemudian minat bacaku mulai bertumbuh.

 

Penulis: Ririn

Ilustrator: Ni’mal Maula

Kredit