Seiring berkembangnya zaman, ilmu yang dulu bisa dinikmati dan diakses oleh para akademisi kini bisa diakses semua orang. Kelas-kelas yang dulu terbatas kini bisa diakses semua kalangan baik daring maupun luring. Begitu pula ilmu tentang berkeluarga, ada banyak yang bisa diakses dan menjadi persiapan penting untuk dipersiapkan oleh milenial yang ingin berkeluarga.

1. Landasan Berpikir (Filosofis)

Landasan pemikiran dalam berkeluarga akan menentukan kemana arah dan tujuan keluarga, visi misi keluarga. Berkeluarga bukan sekadar menghindari zina, pacaran halal, meneruskan generasi, dan tuntutan sosial. Berkeluarga berarti siap untuk menjadi bagian dari peradaban, siap untuk mendidik titipan Tuhan.

Milenials harus paham apa itu kebenaran, berpikir secara rasional dan ilmiah. Hal tersebut dibutuhkan ketika mengambil keputusan keluarga dan dalam mendidik anak. Berpikir rasional juga mencegah kita bersikap impulsif dan irasional.

Metodenya kita bisa mulai dengan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana. Tiga pertanyaan ini termaktub dalam tulisan Charlotte Mason tentang mendidik anak. Namun 3 pertanyaan tersebut sebenarnya perlu digunakan untuk segala situasi. Misalkan kita ingin membeli rumah, awali dengan pertanyaan. Apa pentingnya rumah? Apakah uang kita mencukupi? Mengapa harus membeli rumah? Mengapa tidak mengontrak? Bagaimana cara membeli rumah? Kredit atau tunai?

Dengan bertanya demikian, kita bisa mengambil keputusan dengan benar. Selain itu kita juga bisa ikut kelas filsafat yang sudah banyak diselenggarakan oleh berbagai lembaga dan komunitas. Semua orang bisa mengakasesnya dan bisa mempelajarinya.

2. Spiritualitas

Spiritualitas memiliki peranan penting dalam menyelaraskan jiwa dan pikiran. Seringkali pikiran dan jiwa kita tidak sejalan, atau seringkali diri kita terkalahkan oleh nafsu. Spiritual lah yang mampu mengendalikan diri kita. Misalkan kita tahu bahwa berbohong itu salah, namun tak menutup kemungkinan bahwa kita bisa saja berbohong. Dengan spiritulialitas kita bisa mengendalikan diri kita agar tetap dalam jalur yang benar.

Metodenya bisa dengan meningkatkan kesadaran ibadah dan ritual keagamaan. Bisa dengan mengikuti berbagai kelas meditasi, kesadaran, tarekat, riyadhah, dll. Kelas meditasi dan yang lainnya bisa diakses oleh semua orang, kita bisa mencari yang paling cocok dengan diri kita.

3. Mental Health Awareness (Kesadaran Kesehatan Mental)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam masalah mental

a. Inner Child

Anaak kecil dalam diri kita sebenarnya tidak pergi, apa saja yang terjadi saat kita kecil terekam dalam memori kita dan mempengaruhi bagaimana kita bersikap selama ini. Inner child yang terluka bisa jadi masih menyisakan trauma hingga dewasa bahkan ketika kita memiliki anak. Misalnya dirundung teman, dipukul orang tua, ditinggalkan orang tua, dipukul kerabat, dll.

b. Luka masa lalu

Luka yang terjadi dalam masa yang tidak lama dari masa sekarang. Misalnya dihina, difitnah, tidak dihargai, korban kekerasan, korban pencurian, dll. Semua itu bisa menimbulkan luka dan trauma

c. Post partum depression

Kondisi depresi dengan banyak tekanan setelah memiliki anak. Bisa dialami ayah maupun ibu, namun banyak terjadi pada ibu. Seorang perempuan yang menjadi ibu mengalami banyak perubahan dalam dirinya, mulai dari perubahan fisik, proses kehamilan dan melahirkan yang menyakitkan, perubahan aktivitas, dan perubahan kehidupan. Semula ia bisa makan dengan tenang, tidur cukup, bekerja atau beraktivitas, kini ada bayi yang kehidupannya bergantung padanya.

Hal ini menimbulkan banyak tekanan dan kuncinya adalah kerja sama dan pendampingan pasangan serta meminta tolong pihak lain seperti asisten untuk mengurangi pekerjaan ibu.

d. Tekanan dari lingkungan dan orang tua

Seringkali lingkungan dan orang tua juga memberi sumbangan tekanan pada keluarga kita. Mulai dari komentar belum punya rumah dan mobil, komentar soal pekerjaan, juga pengasuhan. Komentar tentang anak yang belum bisa berjalan, makan sendiri, dan belum bisa bicara.

Kondisi seperti ini mengharuskan kita memilih lingkungan dan support system. Tinggalkan semua orang yang hanya akan membuat kita tertekan. Kita perlu mencari linkungan yang kondusif dan mendukung, bukan mencela.

e. Self Love dan Self Acceptance

Banyak orang tidak bisa menghargai dirinya karena tak bisa menerima dirinya apa adanya. Hal ini karena kita belum bisa mencintai diri sendiri. Ibaratnya kita mencintai orang lain, apa pun cela padanya, fitnah tentangnya, tak lantas membuat kita membencinya. Begitu pula diri kita, jika kita sudah bisa mencintai diri kita, apa pun yang dikatakan orang lain tak akan mengganggu kita.

Kita bisa mengambil berbagai macam kelas tentang kesehatan mental, kelas ini banyak tersebar baik online maupun offline. Jika kita mengalami luka dan trauma kita juga bisa berkonsultasi pada ahli, misalnya psikolog. Kita bisa juga mengikuti berbagai kelas healing, mengafirmasi dan mengapresisasi diri, serta mencari pendampingan dan dukungan.

4. Komunikasi Pasangan

Komunikasi bertujuan untuk mengenali pasangan, setiap hal yang tidak cocok harus dikomunikasikan. Masalah tidak akan selesai dengan minta maaf tanpa tahu permasalahannya apa. Masalah akan selesai jika dikomunikasikan dan dicapai kesepakatan bersama.

Banyak orang takut membahas sesuatu karena takut dianggap sedang mencari masalah, padahal komunikasi bertujuan untuk saling memahami bukan menyalahkan atau membela diri. Masalah yang tidak diselesaikan hanya akan menjadi luka batin yang suatu saat akan meledak.

Kita bisa mulai dengan pillow talk, obrolan setiap malam sebelum tidur, mengungkapkan hal-hal yang dirasakan seharian, mengungkapakn ketidaknyamanaan atau fisik yang sakit. Dilanjutkan dengan deep talk yang berisi diskusi dan evaluasi.

5. Parenting

Anak-anak itu hanya titipan. Pertama titipan Tuhan. Keduan titipan dari umat manusia, khususnya bangsa dan negara. Kepada kedua pihak itulah, orang tua akan mempertanggung jawabkan anak-anak hasil didikan rumah tangga mereka. Apakah menjadi kemuliaan atau hujat bagi Tuhan? Apakah mereka akan jadi berkat atau kutuk bagi dunia? (Charlotte Mason).

Memiliki anak bukanlah konsekuensi, melainkan pilihan. Kita bisa memilih tidak memiliki anak meski sudah menikah, dan jika kita memiliki anak maka itulah pilihan kita. Maka kita pun harus bertanggung jawab terhadap pilihan kita.

Tugas paling berat adalah mendidik manusia, karena jika gagal, kita tak bisa mengulangnya lagi. Tak seperti penelitian di laboratorium yang bisa diulang ratusan kali jika gagal. Maka dari itu kita perlu mengikuti berbagai kelas parenting, membaca buku parenting, berdiskusi dan ikut berbagai komunitas orang tua untuk belajar menjadi orang tua.

6. Support System

Sebagai keluarga milenial kita harus bisa menjadi support system bagi keluarga yang lain. Kita harus menghindari toxic positivity dan sikap judgemental. Support system yang baik bisa mencegah aborsi, depresi, dan bunuh diri.

Editor: Nawa

Gambar: popbela.com