Lomba menulis adalah salah satu jenis kompetisi yang paling banyak diselenggarakan. Jika Anda sering memantau akun perlombaan karena gabut kayak saya, pasti Anda sering menemukan banyaknya kuantitas lomba menulis. Mulai dari lomba menulis blog, membuat artikel, menggubah cipta puisi, dan perlombaan lainnya. 

Akan tetapi, saking banyaknya jumlah perlombaan menulis, cukup banyak orang yang terlena gak karuan. Maksud saya adalah, tak sedikit orang yang terburu-buru untuk mengikuti perlombaan menulis. Yah, mau bagaimana lagi, sebab hadiah yang diiming-imingi adalah posisi juara ataupun masuk ke bagian penulis terpilih. Siapa sih yang nggak mau?

Padahal kalau dipikir-pikir ya, hadiahnya tidak sepadan dengan usaha yang Anda lakukan. Menghasilkan karya termutakhir itu nggak mudah lho! Anda perlu membaca banyak buku atau sumber literatur dulu. Kemudian membuat kerangka tulisan dan menulis. Baru melakukan penyuntingan yang membutuhkan waktu tak sedikit. Masa Anda mau-mau saja usaha Anda dibayar hanya dengan titel bukan cuan?

Nah, biar Anda tidak terjebak dengan praktik lomba menulis yang seperti itu, saya akan membagikan suatu informasi. Yakni 3 Cara Mudah Mengenali Lomba Menulis Abal-Abal. Ini hukumnya nggak wajib ya. Bagi Anda yang mau baca, silahkan, saya sangat senang. Tapi kalau ada dari Anda yang tetap ngotot ikut lomba menulis seperti itu, ya monggo. Saya sudah ingatkan. 

1. Daftar Gratis Tapi Hadiah Super Gede

Siapa sih yang nggak mau ikut lomba menulis yang hadiahnya dapat banyak duit? Pasti langsung tergerak dong buat berpartisipasi kayak saya ini. Apalagi hadiahnya berjuta-juta. Wow, langsung berbinar-binar kembang padma itu kedua mata.

Tapi, coba Anda pikir matang-matang. Apakah wajar ketika ada lomba gratis dengan hadiah yang besar? Memang bisa, penyelenggara lomba memberikan hadiah kepada pesertanya ketika tidak ada modal atau pendapatan? Nah, praktik inilah yang harus Anda waspadai.

Terlebih lagi jika penyelenggara lomba tidak mencantumkan logo sponsor di poster. Atau penyelenggara bukan termasuk lembaga resmi. Ketika ada tanda-tanda seperti ini, sudah pasti Anda one step closer ke terjebak penipuan! 

2. Wajib Membeli Minimal Satu Buku

Mungkin poin kedua ini akan menimbulkan perdebatan. Tapi, mau kalian misuh-misuh, akan tetap saya cantumkan. Nggak mau tahu! Pokoknya, ini demi kebaikan sejagat raya (lebay banget wkwkw)!

Ya, saya berani menegaskan bahwa ketika ada perlombaan yang mencantumkan “wajib membeli minimal 1 buku”, berarti fix lombanya abal-abal! Jangan ikut! 

Ya gini deh. Anda ikut lomba menulis dan alhamdulillah Anda menang. Eh tapi, Anda sebagai pemenang disuruh beli buku. Ya kali! Menang masa keluar duit, bukan malah dapat? Ini mah ibaratnya Anda kerja rodi, terus saat masa gajian malah kena palak.

Biasanya yang mengadakan lomba seperti ini adalah penerbit-penerbit kecil yang membutuhkan penambahan jumlah follower. Dan biasanya juga nih, mereka tidak memberitahu nama dan profil juri lomba. 

Terus ya, kemungkinan besar penilaian naskah lomba itu subjektif dari pandangan penerbit kecil itu aja. Yang padahal kita belum tahu betul kredibilitas mereka. Jadi hati-hati lho. Bisa saja usaha yang Anda lakukan ketika mengikuti perlombaan seperti ini malah jatuhnya sia-sia.

3. Desain Poster Lomba Tidak Meyakinkan

Mungkin tidak sedikit dari Anda sering mendengar kalimat “jangan menilai sesuatu dari sampulnya”. Akan tetapi, tidak selamanya kalimat ini berlaku. Pada kasus tertentu, mau tak mau kita memang harus menilai sesuatu dari sampulnya. Yang dalam kasus ini adalah menilai lomba dari desain posternya.

Menurut saya, desain poster menunjukkan keseriusan penyelenggara lomba. Apakah benar lomba tersebut diadakan secara sungguh-sungguh atau tidak. Biasanya nih mohon maaf subjektif lembaga resmi yang menyelenggarakan lomba itu membuat desain poster yang bagus. Dan sebaliknya, lembaga yang “kurang valid” terkesan membuat poster seadanya.

Saya ambil contoh pengalaman pribadi. Saya pernah mengikuti dua lomba puisi abal-abal yang diselenggarakan lembaga x. Si lembaga x ini pada lomba pertama memasang poster seadanya, dengan banyak hiasan bulat seperti jeruk. Nah, di lomba kedua, desain posternya sama, tapi hiasan bulatnya itu apel. Cuma disunting dikit. Dan tahu-tahu lembaga x ini terbukti menipu. Nah lho?

Penyunting: Halimah
Sumber gambar: Teras Teera