“Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku yang sudah ia pinjam.”

Gus Dur

Kalimat Mbah Gus Dur ini membuat saya kecewa bukan kepayang. Kalimat tersebut sangat menohok sekaligus mengingatkan pada kebodohan yang saya lakukan. Ya, kebodohan sudah meminjamkan buku. Tidak tahu harus berbuat apa namun hati terus diselimuti perasaan menyayangkan. Dalam batin saya “Wis susah-susah ngumpulke duit gawe tuku buku. Eh, malah bukune dijilih ora mbalik. Ojo-ojo iki sek jenenge karma!”.

Berawal dari menjadi peminjam tidak bertanggungjawab

Entah sejak kapan, saya lebih suka menghabiskan waktu dengan membolak-balik lembar buku. Seingat saya kebiasaan ini ditularkan oleh kakak saya yang pertama yang kebetulan suka mengoleksi buku-buku sejak jaman SMA. Kami yang hidup dalam himpitan ekonomi, tentu tidak mudah untuk mengumpulkan uang demi berbelanja buku. Memuaskan hasrat pengetahuan dalam keluarga kami sangatlah mahal. Jangankan untuk membeli buku, untuk uang saku sekolah saja kadang ada kadang tidak. Alhasil kakak saya memboyong buku di perpustakaan sekolah ke rumah kecil kami lalu tidak dikembalikan.

Saya tidak tau hukumnya bagaimana, entah halal atau haram. Yang jelas menurut saya ini hal yang merugikan bagi sekolah. Buku yang diboyong pun tidak sedikit. Waktu menempuh pendidikan di SMA cukup terbilang lama. Kalau dihitung one day one book saja, satu tahun tentu sudah banyak buku. Tapi saya tidak mau menyoroti soal memboyong buku ini. Hal ini biar menjadi urusan kakak saya dengan pihak sekolah. Yang jelas, berkat kakak saya memboyong buku-buku ini, saya menjadi sedikit jatuh cinta dengan buku.

Tentu pengalaman perbukuan saya tidak cukup sampai disini. Daya literasi ini juga didorong dengan adanya buku-buku Pak Lek saya yang dititipkan di rumah saya. Sebagai mubaligh muda di ranting yang tidak mengenyam bangku pendidikan sama sekali, buku-buku ini cukup membantu Pak Lek saya dalam belajar. Saya pun menjadi peminjam rutin buku-bukunya. Mulai dari buku-buku agama hingga keluarga yang tersedia, hampir tuntas saya konsumsi.

Ternyata pengalaman pacaran dengan buku ini pun terus berlanjut sampai saya menempuh SMA. Ya, walaupun kadang-kadang putus tanpa kepastian. Perpustakaan baru yang ada di sekolah, memberikan magnet untuk menghabiskan waktu istirahat di sana. Seakan seperti ilmu turunan, saya pun akhirnya mengikuti kebiasaan lama kakak saya. Yah memboyong buku ke rumah. Tapi jumlahnya tidak banyak kok, hanya sekitar 5 buah buku saja. Saya tetap teringat bahwa itu perbuatan menyimpang dan masih ada sedikit niat untuk mengembalikan. Selebihnya tidak.

Saya tidak mau gila, namun tetap saja bodoh

Nampaknya memboyong buku sudah menjadi kebiasaan dalam diri saya. Sejak awal saya kuliah, saya pun kerap menyambangi perpustakaan untuk melihat buku-buku terbaru. Rutin menjadi peminjam dan berakhir dengan memajangnya. Satu minggu berlalu, mengembalikan buku ke perpus dan meminjam lagi.

Suatu saat pernah saya tertarik dengan buku biografinya Soe Hok Gie, meminjam buku itu dan naasnya saya lupa mengembalikannya. Berakhir tragis dengan didenda uang beratus-ratus ribu untuk membayar dendanya. Yang lebih mengesalkan adalah, saya meminjam buku selama itu sekaligus membayar denda sebanyak itu namun tidak pernah mengetahui isi buku itu. Buku biografi Soe Hok Gie hanya menjadi pajangan di rak buku kecil di kamar kos saya selama bertahun-tahun. Coba bayangkan kalau uang sebanyak itu digunakan untuk membeli buku?

Sejak saat itu, saya mulai menyisihkan uang saku saya untuk membeli beberapa buah buku. Lagi-lagi saya takut untuk meminjam di perpus dan nantinya lupa mengembalikan. Beberapa buku berhasil saya beli. Namun lagi-lagi soal ekonomi yang tidak bisa memuaskan hasrat pengetahuan ini.

Saya pun mengganti kebiasaan saya, dari meminjam di perpus, lalu meminjam ke teman. Tetap saja, kebiasaan saya tidak membaca tuntas buku yang saya pinjam sungguh jelek. Satu, dua lembar dibuka paling banyak dua bab yang di baca, lalu menyimpannya dan saya lupa mengembalikannya. Ini terus berulang. Kalau saya tidak diingatkan mengembalikan buku yang sudah saya pinjam, maka tidak akan pernah kembali. Sungguh, saya peminjam buku yang menyebalkan bukan?

*

Tentu apa yang saya lakukan adalah mengamalkan kata Mbah Gus Dur di atas. Orang yang bodoh yang meminjamkan buku, dan hanya orang gila yang mengembalikan. Karena saya nggak mau dibilang gila, jadi saya tidak mau mengembalikan kalau tidak ditagih.

Saya memang tidak mau gila. Namun saya tetap mau bodoh. Rasa kasihan sekaligus tidak enakan membuat saya akhirnya merelakan teman saya meminjam buku-buku koleksi saya yang sangat sedikit jumlahnya. Tapi karena mereka tidak mau dianggap gila. Alhasil buku saya tidak pernah kembali sampai hari ini.

Dan ini yang membuat saya kecewa dengan diri saya. Betapa sesuatu hal sekecil apapun akan selalu dibalas. Seperti meminjam buku lalu tidak mengembalikannya. Saya tidak tau kisah ini akan berhenti sampai dimana. Yang jelas akhir masa studi kemarin, menjadi momen untuk bertaubat sekaligus mengembalikan buku-buku yang pernah saya pinjam. Walaupun masih ada beberapa buku yang belum saya kembalikan. hehehe