Revolusi industri 4.0 telah mendorong percepatan inovasi teknologi yang mengakibatkan perubahan dahsyat (disrupsi) terhadap kehidupan masyarakat. Masifnya internet tak hanya menghubungkan jutaan manusia di seluruh dunia, akan tetapi menjadi basis bagi sirkulasi dan ekspresi keagamaan secara online. Terutama bagi masyarakat yang tak pernah menikmati pendidikan agama sebelumnya. Tiba-tiba berjumpa dengan aneka materi keagamaan yang cepat saji di internet. Hal ini tak jarang melahirkan kesalehan instan, bisa juga disebut sebagai kesalehan hybrid.

Kesalehan Hybrid

Di era digital, internet berperan dalam membentuk kesalehan beragama. Masyarakat milenial menjadikan internet sebagai “ruang suci” untuk mencari pengetahuan keagamaan. Internet menyediakan platform tanpa batas bagi ekspresi keberagamaan, pedoman spiritual, orientasi moral, dan ritual ibadah. Masyarakat milenial butuh materi keberagamaan yang gampang, simpel, mudah dipahami, tidak bertele-tele, jelas dan tegas yang serba instan.

Fenomena spiritualitas instan telah disinyalir hasil penelitian Pew Internet & American Life Project yang bekerjasama dengan Center for Research on Media, Religion and Culture, Universitas Colorado Amerika Serikat, tahun 2004 tentang “faith online” (keimanan online). Riset tersebut mengungkapkan 64% responden menggunakan internet untuk tujuan agama. Ini menunjukkan bahwa internet sangat signifikan bagi agama dan dakwah Islam.

Senada dengan hasil survei nasional tentang “Keberagamaan Generasi Z oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (PPIM UINJ) tahun 2017. Hasil riset yang dilakukan pada siswa dan mahasiswa se-Indonesia ini menunjukan betapa internet berperan penting sebagai rujukan materi agama. Sebanyak 54.87% mereka gemar mencari pengetahuan agama melalui internet seperti blog, website dan media social (facebook, twitter, dan instagram), 48.57% dari buku-buku, dan 33.73% dari televisi.

Penguatan peran internet terhadap pengetahuan agama diperkuat oleh hasil riset Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kerjasama dengan PPIM UIN Jakarta 2018. Dalam riset tentang kontestasi wacana Keislaman di website dan media sosial yang dilakukan selama Juli-September 2017 tersebut ditemukan bahwa website Islam Era Muslim paling banyak dikunjungi 3.173.000. Disusul NU Online 2.195.000 dan Hidayatullah 522.000 pengunjung per bulan.

Berdasarkan beberapa temuan tersebut, internet memberikan ruang bebas bagi kontestasi wacana dan pengatahuan agama hampir tanpa batas. Dunia maya kini menjadi ruang bagi orang-orang yang dulu diam untuk bicara tentang agama, menjadi muncul untuk berkontestasi. Situasi ini sangat memungkinkan untuk menciptakan cara berpikir baru tentang agama. Situasi ini pula yang memunculkan fenomena kesalehan hybrid.

Dampak Pengetahuan Agama yang Instan

Setidaknya dari kondisi di atas, ada beberapa implikasi dari maraknya pengetahuan instan tentang agama di internet bagi spiritualitas dan moralitas masyarakat milenial. Pertama, potensi peyimpangan pemahaman agama. Hal ini dikarenakan orang mencari pengetahuan agama tidak dari kitab dan guru langsung. Lebih-lebih kalau materi keagamaan tanpa sumber yang jelas. Kesesatan pemikiran dan ilmu di tengah hutan rimba internet menjadi ancaman yang berbahaya bagi para pemeluk agama.

Kedua, matinya kepakaran. Semua orang merasa paham dan ahli serta berhak membicarakan agama. Padahal hanya berbekal internet, tanpa disertai rujukan dan ilmu yang mumpuni. Akibatnya, orang yang ahli diremehkan, dan yang tidak ahli merasa menjadi ahli agama, padahal tidak ahli (pakar). Tak jarang mereka mudah menyalahkan pendapat orang lain. Meskipun terjadi ruang diskursif dan dialog yang luas tentang materi dakwah dan keagamaan, tetapi sangat mudah didebat, dipermainkan bahkan dihina.

Ketiga, post truth, yakni kebenaran kehilangan standar kebenaran. Masyarakat bingung dan kacau, karena tidak bisa membedakan mana berita yang benar mana berita yang salah. Kekacauan pengetahuan ini akibat maraknya hoax, yakni ketidakbenaran yang diproduksi secara sengaja untuk menyamarkan suatu kebenaran. Berita atau informasi palsu yang sengaja dibuat ini berbahaya tatkala masyarakat tidak kritis. Ironinya, kebenaran dan sumber informasi tidak menjadi penting, sebaliknya yang penting sesuai dengan selera dan kepentingan.

Mengapa Islam Hybrid Terjadi?

Perjumpaan agama dengan internet adalah suatu keniscayaan. Pengetahuan keagamaan Islam, mau tidak mau harus mengalami perjumpaan paham keagamaan yang  ternyata tidak satu varian. Mulai dari Islam Murni, Islam Moderat (Wasatiyah), Islam Modernis, Islam Tradisionalis sampai Post-Tradisionalis, Islam Puritan sampai Post-Puritanisme, Islam Liberal, Islam Progresif, Islam Transformatif, Salafi, Tarbawi, Wahabisme sampai Jihadis dan seterusnya. Di era internet kesemua corak keagamaan ini dapat dengan bebas berkontestasi di website dan media sosial.

Adalah hasil penelitian oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tentang Arah dan Corak Keberagamaan Kaum Muda Muslim melalui proyek Enhancing the Roles of Religious Education in Countering Violent Extremism in Indonesia (CONVEY) PPIM-UIN Jakarta dan UNDP tahun 2018 penting untuk melihat tren keberagamaan masyarakat milenial hari ini. Menurut riset ini, secara umum, corak keberagamaan Muslim milenial Indonesia adalah moderat, akan tetapi cenderung konservatif, dan sedikit berpotensi radikal.

Hal penting dari riset CSRC selain yang disebut di atas adalah fenomena hibridasi identitas (hybridation of identity). Menurut riset ini masyarakat milenial mengalami proses “persilangan” afiliasi dan orientasi keagamaan. Hibridasi identitas ini melahirkan identitas baru yang bercampur budaya, tradisi, nilai dan prinsip, akibat proses interaksi intensif dan pencarian pengetahuan agama di internet. Keadaan ini menunjukkan betapa masyarakat milenial lebih “akomodatif” terhadap nilai-nilai baru.

***

Menurut riset ini, terdapat empat aspek yang mempengaruhi hibridasi identitas ini: Pertama,  latar belakang keagamaan keluarga tidak diwarisi secara linear oleh kaum muda Muslim. Kedua, organisasi yang mereka geluti juga sering tidak linear, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat lanjut (di sekolah, di kampus, maupun setelah lulus kuliah). Ketiga, karakter urban di mana perpindahan tempat dari desa ke kota, atau perubahan status dari pelajar menjadi mahasiswa, membuat mereka berinteraksi dengan hal-hal baru.

Keempat, lembaga pendidikan maupun pemahaman keagamaan, baik yang diperoleh dari keluarga, lembaga formal, informal, internet, dan media sosial, menunjukkan persilangan nilai-nilai identitas budaya, sosial, dan politik-ekonomi  termasuk yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Dari Kesalehan Hybrid Menjadi Kosmopolit

Hal tersebut dikarenakan kelompok muda merupakan kelompok sosial dalam kegalauan identitas. Mereka terus berproses dalam pencarian jati diri. Krisis identitas tersebut bertemu dengan beragam corak, wacana dan ideologi keislaman di dunia maya. Orang tua, lembaga pendidikan, guru, teman sejawat tidak lagi dapat mengontrol masyarakat milenial mengakses pengetahuan keagamaan.

Identitas masyarakat muslim milenial merupakan identitas yang unik. Mereka dalam proses “masa pencarian”. Karena itu pandangan keagaman bersifat “sementara”,  bukan pemahaman yang konstan. Pemahaman mereka masih sangat mungkin berubah, tergantung akses bacaan, pergaulan, lingkungan, dan dengan siapa mereka mendengarkan ceramah keagamaan.

Fenomena ini tentu saja menjadi sebuah tantangan bagi ormas-ormas dan kelompok keagamaan yang mempromosikan “Islam Murni”. Dengan semakin kuatnya arus informasi di era digital memberikan dampak kuat bagi masyarakat milenial untuk mengakses segala macam corak dan ideologi keagamaan yang mereka suka.

Informasi dan pengetahuan keagamaan dapat didapat dengan mudah dan beragam. Pertanyaannya bagaimana menjaga “Islam Murni”, sementara siapapun tidak bisa membatasi interaksi, pergaulan, serta bahan bacaan, yang dapat dengan mudah didapatkan oleh masyarakat milenial melalui internet dengan sajian ideologi yang beragam?

Kenyataan yang harus dihadapi adalah masyarakat milenial Muslim hidup dalam lingkungan yang beragam dan memiliki keragaman pengalaman dalam pendidikan keagamaan yang diperolehnya. Maka di sini corak “Kosmopolitanisme Islam” menjadi sebuah alternatif keislaman bagi masyarakat muslim milenial daripada kesalehan hybrid. Islam yang kosmopolit berarti berpegang kuat pada sumber murni ajaran, yaitu Alqur’an dan Sunnah. Lalu pada saat yang sama inklusif-toleran dengan berbagai corak keislaman dan corak keagamaan yang lainnya.

*) Artikel ini pernah terbit di IBTimes.ID pada 14 April 2020 dengan judul “Kesalehan Hybrid: Berislam Gado-gado ala Milenial”. Diterbitkan ulang dengan penyuntingan.

Editor: Nabhan