Mitos Pamali yang Masih Dipercaya di Jawa

Mitos Pamali yang Masih Dipercaya di Jawa
Foto: Correcto.id

Sebagai perempuan yang lahir di tanah Jawa, dari kecil saya mendengar berbagi mitos pamali. Entah itu dari orangtua saya sendiri atau dari lingkungan sekitar. Saya sendiri bukan orang yang percaya dan gampang terpengaruh dengan hal tersebut. Walau begitu, saya juga tidak melarang orang di sekitar lingkungan saya untuk mempercayai mitos pamali. Toh, semua itu juga sudah beredar dan ada sejak dahulu kala.

Adanya mitos pamali yang masih dipercaya, membuat saya semakin penasaran. Inilah yang membuat saya mencari tahu alasan di balik mitos yang beredar. Istilah lainnya penjelasan mengenai mitos secara logika. Tujuannya, agar dapat diterima secara wajar oleh kaum milenial. Berikut penjelasan mengenai beberapa mitos yang masih dipercaya.

Mitos Pamali “Nyapu Tidak Bersih Suaminya Brewokan

Orang-orang di masa lampau sangat menyukai pria yang wajahnya bersih. Khususnya perempuan, mereka selalu mendambakan sosok pria yang wajahnya bersih dari brewok. Mitos ini dibuat untuk menakuti perempuan agar mereka menyapu dengan sungguh-sungguh. Agar tidak ada kotoran dan debu yang masih tersisa. Brewok pada masa itu melambangkan hal-hal yang jauh dari kata bersih.

Duduk di Depan Pintu, Sulit Dapat Jodoh

Mitos ini juga di khususkan untuk perempuan atau gadis yang belum menikah. Pemikiran ini sebenarnya berkembang untuk hal baik. Tujuannya pun untuk mendidik perempuan agar berlaku sopan. Sebab, duduk di depan pintu merupakan salah satu hal yang dianggap kurang sopan. Karena secara langsung, menghalang-halangi orang untuk masuk dan keluar dari ruangan.

Makan Menggunakan Tutup Piring

Mitos yang satu ini tidak begitu familiar, namun beberapa orang masih saja sering menggunakan mitos ini dengan tujuan tertentu. Mitos ini berkembang dengan maksud baik. Tutup piring diciptakan bukan dipakai untuk makan. Maksud dari pemahaman ini adalah untuk mengembalikan peran barang sesuai dengan fungsinya.

Bayangkan saja, jika kita makan menggunakan tutup piring. Pastinya makanan kita akan belepotan dan gak karu-karuan. Sebab, tutup piring memang didesain bukan untuk wadah makanan.

Mitos Pamali “Duduk di Atas Bantal Bakal Bisulan”

Poin ini hampir sama dengan poin mitos tutup piring. Mitos ini berkembang sebagai upaya mengembalikan fungsi barang. Bantal memang mulanya dibuat untuk kepala, bukan kaki atau bagian tubuh lain. Kalau diinjak atau diduduki, bantal akan menjadi kotor. Kepala pun juga akan kotor saat bantal itu dipakai.

Gadis Makan Sayap Ayam Bisa Jauh dari Jodoh

Sayap ayam mengandung banyak lemak. Hal inilah yang dikhawatirkan remaja yang hormonnya sedang tidak stabil. Setelah makan sayap ayam terlalu banyak, bisa-bisa menyebabkan jerawat parah. Itulah yang dimaksud jauh dari jodoh. Kalau kulit wajah tidak bersih, banyak yang beranggapan akan sulit mendapat pacar. Namun, lagi-lagi ini soal pemahaman, bukan?

Bersiul di Malam Hari Berarti Memanggil Setan

Orang pada dasarnya memang takut setan. Mitos ini dibuat agar orang-orang tidak bersiul kala malam hari. Alasan logisnya, takutnya akan mengganggu tetangga sekitar. Apalagi jika bertempat tinggal di daerah perdesaan.

Suasana perdesaan amat sunyi ketilka malam hari. Logikanya, jika kita bersiul pada malam hari takut mengganggu istirahat seseorang. Hal ini juga berhubungan dengan asas kesopanan di masyarakat.

Mitos Pamali “Pakai Baju Hijau ke Pantai Selatan Akan Diculik Nyi Roro Kidul”

Sampai sekarang mitos yang satu ini masih sangat dipercaya. Terutama bagi orang Jawa, khususnya daerah Jawa Tengah. Banyak yang percaya memakai pakaian berwarna hijau ke Pantai Selatan akan beresiko diculik oleh Nyi Roro Kidul. Alasannya, karena masyarakat sudah didoktrin bahwa Nyi Roro Kidul menyukai warna hijau.

Sebenarnya ada alasan yang cukup logis dari mitos yang satu ini. Pakaian berwarna hijau dan biru akan menjadi terlihat samar ketika seseorang menggenakannya di pantai. Hal yang ditakutkan, jika ada ombak besar menghantam dan orang tersebut terseret gelombang. Tim SAR akan kesulitan mencari si korban karena pakaiannya hampir sama dengan warna laut.

Banyak yang masih percaya dan juga ada yang masa bodoh dengan mitos yang ada di masyarakat. Namun, yang saya tahu semua mitos yang beredar beramaksud baik. Percaya atau tidak, semua kembali pada diri sendiri.

Oleh Melina Ayu Agustin

Perempuan kelahiran Surabaya, 25 Agustus 1996. Perempuan introvert lulusan Ilmu Komunikasi dari Stikosa-AWS.