Awal sampai pertengahan Desember, saya berada di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Saya ada kegiatan organisasi di kota cantik (julukan Kota Palangka Raya). Kalau bahasa teman-teman organisasi saya, ada panggilan perkaderan. Yah, pangggilan perkaderan, karena saya diminta untuk mengelola training juga mengisi materi dalam training tersebut.

Pelaksanaan training diramaikan oleh banyak mahasiswa dari berbagai penjuru. Hampir setiap pulau besar yang ada di Indonesia meramaikan kegiatan tersebut. Ada yang Sumatera, Jawa, Kalimantan (pastinya), dan juga Sulawesi. Hanya peserta asal Papua saja yang saya tidak temukan dalam kegiatan ini.

Bersosialisasi secara aktif selama dua pekan, pasti semakin mempererat pertemanan. Suka duka bersama, bahkan cinlok (cinta lokasi) pun biasa terjadi dalam training seperti ini. Namun, apabila ada pertemuan, maka ada perpisahan. Begitulah, memang kita harus belajar kepada senja bahwa sesuatu yang terlihat indah itu hanya sementara, tidak akan abadi. (Lah, kok malah jadi puitis?)

Kita kembali ke laptop. Setelah kegiatan selesai, semua peserta dan pengelola training harus pulang ke tempat belajar masing-masing. Sebelum pulang, saya sempat mengabadikan momen foto, mendapatkan kenang-kenangan dari Palangka Raya, dan juga beberapa surat dari teman-teman baru saya.

Mendapatkan surat inilah yang membuat saya menulis artikel ini. Saya mendapatkan surat yang ditulis dengan tangan, bukan yang diketik dengan tangan yah. Lumayan, surat-surat itu bisa menjadi teman bacaan saya selama di perjalanan pulang ke Jawa. Kepada penulisnya, saya ucapkan terima kasih atas berbagai masukan dan doa yang diberikan kepada saya.

Dari beberapa surat yang ada, saya temukan satu surat dengan tulisan tangan yang bagus, rapih, bahkan tidak ada penulisan yang keliru. Sebagai bentuk etika komunikasi, saya pun menjawab surat tersebut. Biar adil, saya juga menulis di atas kertas dengan tulisan tangan, bedanya hanya pada pengirimannya. Saya tidak bisa memberikannya secara langsung, karena sudah berada di Jawa, hanya bisa mengirimkan scan surat tersebut via whatsapp.

Selama proses penulisan surat, saya mengalami kesulitan dalam menulis. Bukan karena kehabisan bahan yang akan ditulis, tetapi lebih kepada estetika penulisannya. Mungkin ini karena saya beriktikad agar bisa membuat surat yang rapih, tanpa penulisan yang keliru, seperti yang sudah saya dapatkan. Namun, ternyata, tidak semudah itu.

Kalau menulis di laptop, ada kesalahan penulisan, kita cukup hapus katanya lalu tulis kembali. Di laptop, tidak ada bekas kalau kita sudah menghapus kata, tetapi tidak kalau menulis dengan tangan. Apabila ada kata yang salah, kita akan mencoret kata tersebut atau menghapusnya dengan tipe-x. Di kertas itu, akan terlihat kalau kita pernah salah dalam menulis kata.

Akibat inilah, saya mulai berhati-hati dalam menulis, tetapi ternyata masih juga ada yang salah. Saya sampai mengganti kertas beberapa kali. Agar mempermudah, saya menulis di hp dulu, lalu setelah itu tinggal menuliskannya kembali di atas kertas. Meskipun sudah pakai cara ini, ketika tulisannya sudah setengah, saya pun sempat salah dalam menulis yang akhirnya kembali mengorbankan satu lembar kertas baru lagi.

Mungkin kamu suka:   Warga Wadas Menderita, Ganjar Sibuk Ngonten di Sosial Media
-->

Tidak ingin terlarut dalam kesalahan penulisan, saya mulai menulis dengan pelan. Tulisan pun selsai dan sudah saya scan dan kirimkan. Sambil merenung, saya kembali melihat tulisan tangan saya. Saya merasakan ada perbedaan tulisan tangan saya yang sekarang dengan yang dulu.

Yah, setelah saya ingat-ingat, kayakya, saya terakhir menulis pakai tangan itu sudah sangat lama. Mungkin, terakhir saat SMA. Saat kuliah, mungkin sekali-kali saja. Karena saat kuliah, saya lebih sering memotret materi-materi yang disampaikan atau meminta file power point-nya. Adapun penugasannya, lebih banyak yang diketik daripada tulis tangan.

Berkat kecanggihan teknologi, tanpa kita sadari kita mulai meninggalkan tulisan tangan. Wajar saja, tulisan tangan orang tua kita lebih bagus daripada tulisan kita saat ini. Lalu bagaimana dengan mereka yang ada di masa depan? Saat ini saja, apa yang kita ucapkan bisa otomatis tertulis di laptop di gadget. Akankah menulis dengan tangan mulai ditinggalkan?

Melihat fenomena saat ini, kemungkinan besar menulis dengan tangan akan mulia diacuhkan. Namun, berdasarkan pengalaman tadi, saya menyadari bahwa menulis dengan tangan melatih kita lebih teliti dan rapih guna tulisan itu dapat dibaca oleh orang lain. Menulis dengan tangan menuntut kita agar lebih kreatif dan tanggap dalam memilih kosa kata yang akan digunakan.

Kita tidak bisa membaca masa depan dengan pasti, tetapi kita bisa mempersiapkan untuk terbiasa dengan masa depan. Semoga masa depan yang semakin mempermudah ativitas, tidak menurunkan kualitas manusia karena kenyamanannya dengan teknologi.

Editor: Ciqa

Gambar : Pexels