Mungkin kamu sudah tidak asing mendengar tentang Mental illness, bukan? Sekarang sedang ramai dibicarakan oleh kaum-kaum muda.

Mental Illness?

Pernah tidak kamu merasakan kecemasan berlebihan, ketakutan yang luar biasa, berhalusinasi, galau dan sedih berlarut-larut terus tertawa tiba-tiba dan masih banyak lainnya. Kenapa tiba-tiba mental illness menjadi suatu topik hangat yang perlu diperhatikan anak muda sekarang? Ternyata problematika ini masih banyak yang belum mengetahuinya, lebih-lebih kaum milenial.

Mental illness adalah kondisi di mana kesehatan mental kamu terganggu yang menyerang fisik maupun psikis dan berkaitan dengan emosi kamu. Penting dipahami juga kenapa kita perlu merubah stereotipe masyarakat mengenai penderita gangguan mental yang sering disangkut pautkan dengan orang gila. Penderita gangguan ini dapat sembuh jika kita memberikan dukungan yang positif dan kata-kata penyemangat, bukan dengan memberikan vibes negatif dengan cacian dan komentar yang bisa membuat kondisi mental semakin down dan parah.  

Lalu hubungan antara mental illness dengan kaum muda apa? Sobat milenial pasti pernah, kan merasakan beban pikiran yang terlalu banyak, harapan yang tidak tergapai, komentar atau omongan orang lain yang menyakitkan, ketakutan akan kegagalan yang belum terjadi, merasa insecure itulah pemicu stress dan berujung terjadinya gangguan mental.

Hal tersebut umumnya disebabkan oleh pengaruh lingkungan, gaya hidup, sosial media, pentingnya peran orang tua dan masih banyak lain. Kebanyakan mental illness ini dialami oleh anak muda yang belum matang dalam hal usia dan pola pikirnya.

Stress dapat timbul kapan saja itu manusiawi, oleh karena itu aku selalu menerapkan manajemen stress ala aku. Bagaimana sih caranya supaya kesehatan mental kita tidak terganggu?

Ciptakan Bahagia untuk Mengatasi Mental Illness

Banyak hal yang dapat kamu ciptakan supaya pikiran kamu jadi bahagia. Bisa dengan melakukan hobi kamu, seperti menonton film, mendengarkan musik, olahraga, jalan-jalan atau travelling dan sebagainya yang dapat membuat pikiran kita menjadi rileks.

Meluapkan Kesedihan Itu Wajar

Kalau kalian ingin menangis sekencang apa pun itu diperbolehkan, jika itu bisa membuat kalian lebih baik, it’s oke. Ingat, menangis bukan suatu kesalahan sebagai salah satu cara kita meluapkan kesedihan yang ada. Namun, yang perlu diperhatikan tidak boleh berlarut-larut, ya! Bangkit dari kesedihan artinya kamu mampu bertahan dan menantang hidupmu yang penuh misteri atau warna.

Bertanya kepada Dirimu Sendiri

Pasti kamu bingung kenapa bertanya kepada dirimu sendiri, maksudnya di sini adalah kamu berdiri di depan kaca sambil melihat kondisi kamu sekarang dengan bertanya apakah kamu akan terus seperti ini? Apakah kamu tidak mau melihat masa depan kamu seperti apa? Apakah kamu tidak mau melihat atau memeluk orang yang kamu sayangi lagi? Itu sih yang biasanya aku tanyakan pada diriku sendiri dan bisa kamu coba ya supaya kamu tahu tujuan hidupmu yang masih panjang.

Support Terbaik adalah Dirimu Sendiri

Ini poin yang sering aku lakukan, yaitu peluklah tubuhmu sambil bilang gapapa kalau belum berhasil, gapapa kamu tetap cantik/ganteng dengan caramu sendiri, gapapa jika belum terwujud, karena bisa dilain waktu, gapapa kalo cita-citaku belum tergapai, gapapa belum rezekinya, aku sudah melakukan yang terbaik, aku sudah berusaha semampuku, dan sebagainya. Kamu kasih ucapan penyemangat untuk dirimu sendiri supaya kamu jauh lebih baik dan lama-lama akan timbul rasa percaya diri.

Itulah 4 poin manajemen stress ala aku, semoga kalian para sobat milenial yang merasakan kesedihan dan kecemasan bisa lebih peduli dengan kesehatan mental. Jangan terlalu memforsir pikiran kamu untuk terus bekerja hingga kamu melupakan bahwa prioritas kesehatan mental kamu juga penting, ya!

Kamu tidak dapat mengontrol semuanya. Terkadang kamu hanya perlu rileks dan yakin bahwa segala sesuatunya akan berhasil. Lepaskan sedikit dan biarkan hidup terjadi

Kody Keplinger

Editor: Nirwansyah

Gambar: Penulis