Salah satu tujuan diturunkannya Islam pada Nabi Muhammad saw adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tak heran, kalau perintah dakwah kemudian muncul sebagai upaya menebarkan ajaran Islam yang merupakan rahmat.

Islam mendorong para pemeluknya untuk senantiasa mengamalkan perintah Allah swt dan sunnah Nabi Muhammad saw, dua hal itu merupakan manifestasi rahmatnya Islam, serta diyakini oleh muslim sebagai kebaikan. Sehingga bisa dikatakan kalau Islam senantiasa menyuruh pemeluknya untuk menebar kebaikan, bukan teror atau kekacauan.

Dalam bukunya “KH. Maimoen Zubair: Nur Nabi Muhammad Saw”, Amirul Ulum menguraikan pandangan Kiai Maimoen Zubair, “Setiap perkara yang telah dikerjakan makhluk tatkala hidup di dunia kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Mereka akan dibalas sesuai dengan perbuatannya. Jika ada orang yang mengerjakan perbuatan baik, maka dia akan dibalas Allah dengan kebaikan….”

Berbuat baik untuk dirinya sendiri

Sebagai muslim sepatutnya senantiasa berupaya melakukan kebaikan. Kebaikan itu akan dibalas oleh Allah swt. Betapa Maha Pemurah dan Kasih Dia, saat kebaikan muslim dibalas dengan surga, padahal entah manusia mau berbuat baik atau tidak, hal itu tak akan berdampak sama sekali pada Tuhan. Muslim harus insaf bahwa kebaikan yang dilakukannya bukanlah untuk Tuhan, melainkan untuk dirinya sendiri plus agar tersebarnya rahmat (ketentraman hidup).

Kalau Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, maka ber-Islam haruslah dengan penuh cinta kasih. Sebab, itu merupakan manifestasi dari rahmat. Bagaimana mungkin akan ada rahmat kalau cinta kasih saja tak ada?

Dengan cinta kasih lah rahmat ditebarkan ke seluruh alam.

Sesama manusia tidak boleh saling menghina

Menurut Kiai Maimoen Zubair–berdasarkan uraian dari Amirul Ulum dalam bukunya, “Manusia yang satu dengan yang lainnya tidak boleh saling menghina. Kita semua adalah sama-sama ciptaan Allah.” Artinya, sesama manusia seharusnya tak boleh saling hina-menghinakan, benci-membeci, celaka-mencelakai, apalagi sampai bunuh-membunuh tanpa adanya alasan jelas. Sesama manusia seharusnya saling menebarkan rahmat.

Sehingga bijaklah dalam menyikapi perbedaan dalam ber-Islam, perbedaan paham bukan alasan untuk saling membeci.

Bahkan pada non-muslim sekalipun muslim tetap harus berupaya menebarkan rahmat, jangan lihat statusnya sebagai non-muslim, namun pandanglah dia sebagai manusia ciptaan Tuhan. Itulah Islam, agama dengan ajaran penuh cinta kasih.

Sebuah ungkapan bijak berbunyi, “Cintailah yang ada di bumi (makhluk hidup), agar yang di langit juga mencintaimu.”

Kalau kita coba melihat sikap Nabi Muhammad saw, maka semuanya penuh dengan cinta kasih. Mungkin tak berlebihan jika saya ingin berkata bahwa sunnah Nabi Muhammad saw adalah cinta kasih, cinta kasih dalam menjalani kehidupan yang terimplementasikan dalam 3 jalur, yaitu cinta pada Tuhan, cinta kasih pada sesama manusia, dan pada alam (termasuk makhluk hidup seluruhnya).

Nabi Muhammad saw menyuapi seorang Yahudi yang memaki-maki dirinya, menjenguk orang yang sering meludahi dirinya saat orang itu sakit, serta senantiasa memberi makan pada mereka yang kelaparan meski dirinya sendiri sedang kelaparan. Kalau pun beliau pernah berperang, perang itu untuk menyelamatkan umat muslim yang terancam keselamatannya oleh serangan non-muslim kala itu. Aslinya, Nabi saw tak ingin perang, makanya dalam peristiwa Fattuh Makkah (Penaklukkan Makkah)Nabi saw memaafkan semua non-muslim Makkah, tak ada pertumpahan darah yang membuat nyawa melayang saat peristiwa itu. Semua kekejaman yang pernah dilakukan masyarakat Makkah terhadapnya dimaafkan. Seakan tak ada dendam dalam dirinya, yang ada hanya cinta kasih.

Saling menyayangi makhluk hidup yang lain

Tak hanya manusia, namun seluruh makhluk hidup lainnya semua merasakan bagaimana cinta kasihnya ajaran Islam. Memetik atau memangkas tumbuhan serta membunuh hewan bisa dibenarkan dengan alasan yang juga dibenarkan. Semisal, membunuh hewan dengan alasan untuk dikonsumsi (yang dihalalkan), maka dibenarkan, sebab menghantarkan pada kebermanfaatan diciptakannya hewan itu. Memetik sayur-sayuran untuk dimakan juga dibenarkan, karena membawa sayur-sayuran pada kebermanfaatannya.

Sehingga ajaran cinta kasih Islam meliputi seluruh alam. Ber-Islam ya dengan cinta kasih, itu merupakan manifestasi atas Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wallahu ‘alam.

Editor: Nawa

Gambar: STID Simarasa