Merindukan Keriuhan Suporter Sepakbola

Merindukan Keriuhan Suporter Sepakbola

Sejak kecil saya sudah gemar menonton pertandingan sepak bola. Walaupun tak pernah terjun langsung ke stadion alias hanya nonton di televisi, tapi euforia keriuhan suporter sepakbola tetap terasa dari layar kaca.  

Di tahun 2020 ini dimana pandemi menyerang dan membuat seluruh aktivitas manusia menjadi terbatas. Sekolah daring, kerja dari rumah, tempat wisata diliburkan, pemilu lanjut, –ehh… yang satu ini memang pengecualian sih. Termasuk juga dunia persepakbolaan. Berbulan-bulan kegiatan di lapangan hijau tertunda. Banyak liga-liga yang dihentikan sementara atau bahkan dihentikan total seperti liga Perancis yang akhirnya menobatkan PSG sebagai juaranya. Lama puasa dengan aktivitas sepak bola, beberapa waktu yang lalu ada kabar baik. Liga-liga top eropa sudah mulai kembali digelar lagi. Tentu saja saya dan mungkin banyak penggemar sepak bola antusias dengan hal ini.

Liga pun dilanjutkan, pertandingan kembali digelar dan mata kami mulai harus beradaptasi menahan kantuk demi nonton pertandingan klub tersayang dimana seringkali pertandingannya baru disiarkan dini hari karena perbedaan waktu yang cukup lama antara Eropa dan Indonesia. Tapi setelah menonton pertandingan sepakbola pertama sejak dihentikan karena pandemi. Ada sebuah perasaan yang berbeda, entah kenapa ada yang kurang.

Setelah diamati, ternyata tribun penonton kosong. Hanya spanduk bertuliskan dukungan dan bergambar pemain atau pelatih. Tak ada manusia satupun di tribun penonton. Tentu ini pemandangan yang janggal dan tak biasa. Stadion rasanya agak sedikit menyeramkan. Bangunan sebesar itu yang biasanya penuh dengan penonton, sekarang hanya berisi para pemain, pelatih, official dan kru televisi. 

Merindukan keriuhan suporter sepakbola

Kini tak ada lagi keriuhan penonton saat idolanya menggiring bola, atau protes yang menggebu-gebu saat pemain klub kesayangannya dilanggar oleh pemain lawan. Apalagi saat gol terjadi. Yang berteriak kegirangan hanyalah beberapa orang saja yang mungkin official klub. Tak ada tawa kegirangan dan perasaan gembira yang bergemuruh lagi. Jujur saja, meskipun tim kesayangan saya menang, tapi rasanya hampa. 

Peran penonton atau suporter memang penting. Mereka bagian yang tak terpisahkan dari sepak bola. Selain sebagai pendukung di sebuah pertandingan, supporter juga merupakan sumber pendapatan dari klub yang mereka dukung. Ambil saja contoh ketika mereka membeli tiket pertandingan, maka itu sudah merupakan pemasukan bagi klub. Apalagi jika suporternya cukup fanatik. Mereka tidak akan segan-segan mengeluarkan uang untuk membeli segala pernak pernik bertemakan klub yang didukung. Sebut saja jersey, bola, bendera, atau benda apapun yang bertema klub. 

Dukungan langsung dari suporter di lapangan juga akan berpengaruh pada psikologis bagi para pemain. Keriuhan suporter sepakbola bisa membangkitkan semangat dalam diri pemain untuk memberi yang terbaik berupa kemenangan klub. Tak ada kado yang lebih indah bagi para suporter daripada kemenangan klub itu sendiri.

Sepakbola tanpa suporter bagai makan mie instan tapi nggak dikasih bumbu

Tak jarang suporter yang menganggap bahwa sepakbola adalah kehidupannya. Bahkan ekstremnya, ada yang sampai menganggap sepakbola itu adalah agamanya. Saya jadi teringat seorang suporter asal Spanyol. Manolo El Del Bombo, dia adalah pendukung legendaris timnas Spanyol. Dikutip dari Liputan6.com, Manolo El Del Bombo bukanlah nama yang sebenarnya. Itu sebuah julukan yang berarti pria dengan drum bass. Peralatan untuk mendukung yang selalu dia bawa. Nama sebenarnya adalah Manuel Caceres Artesero.

Dukungan Manolo bagi timnas Spanyol memang tak main-main. Dia selalu hadir dalam pertandingan Piala Dunia Timnas Spanyol. Sebanyak 10 Piala Dunia sudah dia hadiri, dan jika Tuhan masih memberi kesempatan dia juga berencana untuk tetap mendukung timnas Spanyol pada Piala Dunia tahun 2022. Nama Manolo sudah dikenal seluruh dunia karena dedikasinya. Tentu saya nggak bisa membayangkan rasanya jadi Manolo yang harus menabuh drum dari rumahnya ketika pandemi menyerang begini.

Manolo mungkin hanya segelintir dari jutaan suporter sepakbola yang sangat fanatik di seluruh penjuru dunia. Ada banyak suporter lain yang tak kalah fanatic contohnya seperti Aremania, Bonek, The Jack, Bobotoh dan banyak lagi komunitas suporter lainnya di Indonesia.

Bagaimanapun suporter adalah pemain kedua belas sebuah klub sepakbola. Sebuah unsur yang tak akan pernah bisa terpisah dari jagad sepakbola. Supporter menjadi sebuah magnet tersendiri dalam sebuah pertandingan sepakbola. Jika boleh meminjam kalimat klise, sepakbola tanpa suporter itu seperti kita makan mie instan tapi nggak dikasih bumbu. Bukankah rasanya akan sangat hambar? Semoga saja pandemi segera berlalu dan para suporter kembali memenuhi tribun. Saya sudah sangat merindukan keriuhan sepakbola, dimana gemuruh badai suara sorakan menggema saat terjadi gol. Ahh…. Pandemi… Kapan kamu akan berlalu…..

Oleh Sigit Candra Lesmana

Peminat sejarah, sepakbola dan buku.