Jogja tidak hanya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan seperti klaim Joko Pinurbo, tetapi juga hidangan gratis buka puasa selama bulan puasa ramadan. Riuh rendah jamaah masjid berebut makanan adalah suasana yang paling ngangeni sejak masa pandemi mengharuskan kita semua menanggalkan baju koko dan meninggalkan masjid berbulan-bulan lalu.

Di Jogja, satu masjid yang selalu dianggap sebagai pelopor dalam menyajikan makanan untuk berbuka jamaah adalah Masjid Jogokariyan.  Bahkan dua teman saya yang lahir sekira 30 tahun lalu, besar, dan hidup hingga kini di Jogja, pun tidak tahu pasti kapan budaya itu dimulai. Berdasarkan jejak digital yang saya telusuri, tradisi buka puasa gratis di Masjid Jogokariyan telah ada sejak tahun 1973.

Ketenaran Masjid Jogokariyan juga lebih cepat merambat lagi karena program Kampoeng Ramadhan Jogokariyan yang konon telah ada sejak tahun 2004.  Selain ribuan hidangan berbuka puasa gratis, ada juga pasar sore dan serangkaian kegiatan sebelum bedug maghrib. Nah, kalau lagi berkah, biasanya banyak juga penjual yang menggratiskan dagangannya dan nggak mau dibayar saat waktu berbuka tiba. Lucky!

Selain santapan berbuka puasa gratis, sekira dua atau tiga tahun terakhir masjid-masjid di Jogja juga gemar menyediakan makan sahur gratis. Jumlahnya memang tidak seberapa dan seringnya berasal dari inisiatif salah satu jamaah yang hobi sedekah. Namun, ada juga masjid besar yang sengaja menyediakan dana dan ruang khusus untuk makan sahur, salah satu yang paling terkenal adalah Masjid Suciati Saliman (MSS).

Lebih dari itu masjid-masjid di Jogja juga selalu menyediakan makanan Jumat berkah diluar bulan ramadhan. Bahkan MSS juga rutin menyediakan sarapan bagi para jamaah tiap kajian Minggu pagi, sementara di beberapa masjid lain di Jogja seringkali ada makanan ringan pasca kajian subuh. Dalam pengamatan saya sebagai anak pantura yang pertama kali merasakan buka puasa gratis di kota rantau, budaya buka puasa gratis di Jogja berbanding lurus dengan jumlah jamaah masjid.

Tahun 2019 lalu saya sempat turut jadi relawan ramadan di MSS. Kegiatannya ya nggak jauh-jauh dari mempersiapkan segala keperluan jamaah saat kajian, berbuka, dan makan sahur. Saya mengamati betul bagaimana perbedaan antara jamaah berbuka dan sahur.

Dalam pengamatan saya sebagai anak pantura yang pertama kali merasakan buka puasa gratis di kota rantau, budaya buka puasa gratis di Jogja berbanding lurus dengan jumlah jamaah masjid. Teori tersebut terutama berlaku pada para mahasiswa atau milenial rantau yang baru pertama kali datang ke Jogja.

Selain itu, kalau mau dibandingkan dengan demografi jamaah sahur dengan buka puasa, dalam contoh kasus ini di MSS. Bedanya ternyata cukup kentara. Mereka yang berbuka puasa di masjid populer, biasanya memang merencakanan untuk pelesiran. Ingin merasakan suasana menjelang buka puasa di MSS atau Jogokaryan.

Sementara jamaah makan sahur di MSS, umumnya memang warga sekitar yang jamaah tetap masjid. Selain itu, ada pula beberapa musafir yang kebetulan lewat dan kepo pada rame-rame di depan masjid.  Tentu saja mayoritas tetap diisi anak muda yang sepertinya sekedar ngekos di sekitar MSS.

Saat ramadan tahun 2019 sebelum pandemi, malahan kita bisa bikin jadwal mau giliran buka puasa dimana dengan rincian menu yang telah terpublikasi lewat akun sosmed masjid. Sebenarnya momen buka puasa gratis di Jogja adalah salah satu peluang besar bagi para sales dan tim marketing perusahaan.

Terutama untuk produk makanan olahan yang tentu saja bisa bekerja sama dengan takmir masjid dalam menyediakan menu berbuka yang beragam. Membayangkan berbuka puasa di Jogokariyan dengan menu bratwurst, nugget, bakso ikan, hingga dim sum sepertinya memang hanya akan jadi angan-angan yang akan terwujud entah kapan.

Kini, kita memasuki ramadan kedua setelah pandemi. Meskipun dimana-mana salat Jumat telah kembali diselenggarakan, ramainya kampung ramadan di berbagai masjid area Jogja belum tentu bisa dipastikan. Akan selalu ada yang berubah bahkan kelak setelah pandemi ini berakhir. Dan buka puasa gratis di Jogja adalah salah satunya.

Meskipun demikian, menurut perkiraan saya, interelasi antara jumlah jamaah masjid dengan hidangan yang disediakan akan terus menguat. Terutama kelak saat pandemi ini berlalu, gelombang besar mahasiswa rantau akan kembali, memilih menghabiskan dua per tiga ramadan di Jogja. Dan tentu saja mulai merayakan Minggu pagi berhimpitan mencari ruang diantara kerumunan Sunmor di Bulaksumur yang cerah tak berawan.

Editor: Nawa

Gambar: twitter.com