Banyak orang bicara soal privilege dalam bentuk warisan harta saham atau koneksi perusahaan besar. Tapi bagi saya, privilege terbesar itu datang dari balik kemudi sebuah mobil berwarna pudar yang setiap harinya membelah kemacetan kota, yakni angkot..

Angkot merupakan salah satu moda transportasi yang cenderung mudah dijumpai di kota. Sebagai anak dari seorang sopir angkot, setidaknya ada tiga pelajaran kehidupan yang saya dapatkan dari sana. Tentunya pelajaran ini tidak saya dapatkan selama saya duduk di  bangku sekolah. 

Uang Jajan harian yang Selalu Fresh dan Double

Ketika anak-anak lain hanya mendapatkan uang saku dari ibu atau bapaknya saja, saya mendapatkan uang jajan dari keduanya, jadi ada double income yang saya dapatkan setiap hari. Ketika pulang narik angkot selama seharian, saya masih ingat uang recehan dari bapak selalu mampir ke kantong saku saya.

Berbeda dengan anak pegawai kantoran atau anak pekerja formal yang gajiannya sebulan sekali, pendapatan sopir angkot itu bersifat harian. Singkatnya, cash flow lancar. 

Memang, pendapatan itu harus disunat dulu untuk biaya setoran ke bos, beli bensin, hingga “uang koordinasi keamanan” alias pungli tak resmi di jalanan. Namun, di masa jaya angkot dulu, uang jajan selalu saya dapatkan dengan sistem harian juga. Inilah mengapa saya sangat bersyukur menjadi anak sopir angkot.

Jalan-Jalan Gratis dan Magang jadi Calo Angkot yang Baik

Setelah lulus sekolah SMK, saya tidak langsung kuliah maupun bekerja. Tapi saya sempat menjadi pengangguran dulu, menjadi kaum rebahan. Tapi, bapak nampaknya memiliki pemikiran lain, ia tidak membiarkan saya bengong dan melamun di rumah saja. Saya justru diajak “jalan-jalan” setiap hari.

Bayangkan, orang lain harus mengeluarkan uang buat keliling kota, saya malah tinggal duduk manis di kursi depan, dikasih uang makan pula. Tapi tentu saja, tidak ada makan siang gratis. Ada harga yang harus dibayar, saya secara tidak resmi dilantik menjadi kenek angkot bapak. Di sinilah saya belajar keterampilan tingkat tinggi, yakni menjadi seorang sales angkot.

Saya belajar berteriak dengan lantang layaknya pemain film Preman Pensiun: “Ciroyom, Ciroyom, Ciroyom!” “Kalapa, Kalapa, Kalapa!” atau “Ledeng, Ledeng, Ledeng!”. Ternyata, dengan menjadi kenek, urat malu saya putus di terminal. Saya jadi mengetahui bahwa berteriak kencang pun tidak menjamin penumpang mau naik. Dari sana, saya belajar satu hal yang paling mahal dalam kehidupan ini, yaitu tentang arti kesabaran.

Kursus Mengemudi Gratis dengan Metode Geplak ala VOC

Zaman sekarang, orang harus merogoh kocek dalam-dalam untuk ikut kursus mengemudi. Ada yang jutaan rupiah hanya untuk beberapa kali pertemuan saja. Sebagai anak sopir angkot, justru saya punya instruktur pribadi 24 jam yang tentunya dapat saya gunakan jasanya secara gratis. Inilah privilege ketiga yang saya dapatkan dari bapak saya yang sopir angkot. 

Melalui bapak, saya bisa belajar mengemudi secara gratis, menggunakan unit angkot pula. Tapi, kursus ini ada risikonya. Jika kursus profesional menggunakan rem tambahan di kaki instruktur, bapak menggunakan tangan sebagai alat kontrol alias main geplak tangan. Salah pindah gigi atau telat injak kopling? Siap-siap saja kena geplak sebagai tanda sayang di pundak dari bapak. Itu adalah metode pendidikan karakter yang membuat saya sedikit bisa mengemudikan mobil angkot.

Itulah privilege saya yang dapatkan ketika memiliki bapak seorang sopir angkot. Melalui tulisan ini, saya ingin bilang bahwa saya sangat bersyukur menjadi anak seorang sopir angkot.

Pekerjaan bapak mungkin dipandang rendah oleh sebagian orang karena dianggap biang macet karena ngetem dan berhenti di sembarang tempat. Namun, dari mobil angkotlah itulah, bapak bisa menyekolahkan saya, memberi makan keluarga, dan mendidik saya menjadi manusia yang seutuhnya.

Editor: Yud

Gambar: Pexels