Ketika kita melihat seorang yang pendiam, hal pertama apa yang terlintas di benak kita tentang orang tersebut? Apakah kita memandangnya sebagai seorang gadis manis feminim yang menjadi idaman? Atau seorang lelaki yang hampir punah karena dianggap cool, pendiam dan jaga image?

Tahukah kalian, bahwa ternyata yang terlihat demikian sebenarnya bukan seorang yang pendiam? Bahwa sebenarnya mereka adalah orang yang cerewet dengan isi kepala masing-masing. Orang-orang yang terlihat pendiam dan menjaga tingkah laku sebenarnya adalah seseorang yang tak ingin diam dan ingin pula bertingkah bebas. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya sedikit ingin berbagi hal-hal  yang sering dipikul seorang yang pendiam dan jaga tingkah laku di depan umum.

Ingin pula merasa bebas

Sebagai seorang yang pendiam dan hanya berbicara jika hanya diajak berbicara. Rasanya, kami pun ingin mengobrol dengan bebas, bertutur kata semaunya dan tidak terbatas dengan perasaan-perasaan mengganjal yang ada di dalam hati. Sebagai seorang yang pendiam, sebenarnya kita juga perlu mengobrol sebebas-bebasnya. Namun, sering kali hal tersebut tidak dapat dilakukan.

Pertama, teman-teman yang lain lebih mampu mengekspresikan dirinya dan merasa lebih bebas untuk berbicara, hal ini berdampak pada orang-orang pendiam yang berada di sekitar mereka. Bukan berarti seorang pendiam tanda mereka tak punya hal untuk dibagikan kepada siapapun, tapi terkadang situasi tempat mereka berada membuat mereka menjadi canggung untuk bercerita.

Yang kedua, adanya beban perasaan yang selalu saja menahan tutur lisan berucap. Berdasarkan pengalaman pribadi yang saya rasakan, rasa ini seperti sebuah benteng yang menahan lisan untuk mengungkapkan apa yang menjadi bebannya, seperti ada beban yang menahan beban lain tersebut. Kurangnya peduli terhadap kaum-kaum pendiam, menjadikan diri merasa tak berhak untuk bebas bertutur.

Sulit Mendapat tempat curhat

Sebagai seorang yang sudah terlahir pendiam dan didukung oleh lingkungan untuk tak mendapat hak suara. Seorang pendiam juga sangatlah sulit menemukan teman curhat. Memang benar bahwa sebaik-baiknya tempat curhat adalah sama Allah swt., tapi sebagai seorang manusia yang memiliki jiwa sosial, kita pun perlu menemukan seseorang untuk menjadi tempat berkeluh kesah dan membagi beban yang ada.

Namun, berbeda lagi sebagai seorang pendiam, ingin mengobrol bebas saja susah apalagi menemukan teman curhat. Entah mengapa, rasanya sangat sulit menemukan mereka yang mau mendengar, meski memiliki teman, bukan berarti mereka mampu menjadi pendengar yang baik, salah-salah, ujungnya malah orang yang ditempati curhat balik membandingkan beban yang kita alami dengan beban yang tengah ia hadapi pula, dan akhirnya balik lagi kita yang menjadi seorang pendengar untuk mereka, bukan sebaliknya.

Dan, ketika menemukan orang yang dirasa tepat untuk curhat, rasanya sangat lega, seperti beban yang ada selama ini sirna seketika, meski mungkin sewaktu-waktu akan datang lagi yang lebih besar, tetapi dengan menemukan satu saja orang yang mampu mendengar keluh kesah kita, tanpa ia berkeluh kesah kembali adalah suatu kesyukuran yang sangat didambakan seorang pendiam.

Sering dianggap tidak asik

Apakah kalian  pernah tak diajak ke tempat tongkrongan oleh teman kalian dengan dalih ia lebih dulu mengajak orang lain? Tapi, nyatanya tidak. Sering kali sebagai orang pendiam kami dinggap sebagai orang yang tidak seru dan tidak asik, sebab hanya bisa diam dan sesekali berbicara, itupun ketika menjawab pertanyaan. Dan hal tersebut membuat orang lain malas mengajak kami.

Tapi, sebagai seorang pendiam, kami juga diberi bekal indra perasa yang lebih oleh Tuhan, kami mampu merasakan, bahwa kami orangnya tidak asik, dan kami peka akan hal itu. Sebagai seorang yang pendiam dan kadang dianggap sepele dalam suatu perkumpulan, kami pun memiliki kelebihan, rasa kepedulian dan kepekaan biasanya lebih menonjol, karena kebiasaan menyimak situasi sosial yang berlaku di sekitar membuat indra tersebut terlatih dengan sendirinya.

Meski terkadang beban yang ditanggung begitu banyak, mari mulai membuka hati, dengan rasa kepekaan tersebut menemukan seseorang yang dirasa mampu dijadikan tempat berbagi, tak perlu banyak, satu saja cukup. Sebab beban yang dipikul terlalu lama akan menyakiti lebih dalam, tubuh pun perlu istirahat, sama halnya seperti kendaraan yang perlu berhenti di rest area.

Kita tidak berbeda dari orang lain, kita hanyalah orang-orang istimewa yang hanya belum menemukan seseuatu berharga yang kita cari selama ini. Mari membuka diri, agar orang sekitar juga tahu akan keberadaan kita.

Editor: Nawa

Gambar: Google.com