Politik Indonesia adalah bahasan yang paling membosankan ketika nongkrong ataupun berdiskusi. Permasalahannya selalu berputar di lingkaran yang sama. Berulang-ulang seperti jam dinding. 

Cerita selalu diawali oleh seseorang revolusioner dengan tumpukan kejengkelan yang dipicu dari keadaan buruk yang terjadi karena pemegang kuasa yang tidak amanah. Dengan semangat penuh bara, ia bicara tentang gagasan dan perubahan. Begitu meyakinkan sehingga yang mendengarnya percaya dan memilihnya. Ketika suara yang didapat berhasil mengantarkannya ke singgasana yang didambanya tercapai, maka ia akan melupakan semua harapan yang selama ini telah diberikan.

Semua orang tahu dan sudah hafal pola ini akan terjadi lagi dan lagi –bahkan ketika semua perwakilan sepakat melakukan pengkhianat berjamaah. Rakyat selalu jatuh di lubang yang sama. Sesekali mungkin rakyat akan marah dan meluapkannya. Tapi dalam beberapa saat rakyat akan kembali lupa dan terus melanjutkan menari-nari dalam lingkaran setan. 

Yang menjadi masalah adalah kenapa kita tidak pernah keluar dari pola lingkaran setan ini? Seolah permainan politik adalah kutukan yang terus-terusan menimpa rakyat Indonesia. Bisakah kita keluar dari kutukan ini?

Jawabannya adalah sangat bisa. Untuk keluar dari kutukan ini setidaknya ada tiga tahapan untuk mencapainya.

Pertama, komitmen kuat.

jika memang benar-benar ingin keluar, maka harus ada keinginan dan komitmen kuat dari sejumlah rakyat untuk bersikap adil. Dalam artian, adil tidak hanya ketika memimpin tapi juga adil ketika dipimpin. Hal dasar yang harus disadari adalah tidak mungkin semua orang bisa memimpin sebuah kelompok dalam waktu bersamaan.

Menjadi adil saat dipimpin berarti memberi kepercayaan pada pemimpin sekarang, baik itu sejalur dengan pikiran kita ataupun berlawanan dengan pikiran kita. Sebagai orang yang dipimpin kita hanya bisa memberikan nasihat, saran, dan kritik pada pemimpin. Jika pun nasehat, saran, dan kritik dari kita ditolak kita harus sabar mungkin pemimpin punya pertimbangan lain.

Selain itu, adil saat memimpin artinya kita tidak boleh egois dan hanya mengutamakan suatu kelompok saja. Berlaku tidak adil saat memimpin berarti kembali melanjutkan lingkaran setan yang ada. Jangan sampai pangkat atau jabatan menghilangkan fokus kita untuk menciptakan lingkungan politik pemerintahan yang bersih dari segala kecurangan. 

Kedua, jangan pernah bosan. 

Kita tahu politik adalah permainan dalam kubangan yang kotor. Sekalipun begitu bukan begitu kita harus terus-terusan menjadi kotor. Kita tahu untuk terjun dalam politik berarti akan kotor, tapi bukan berarti kita tidak bisa membersihkannya. Tugas kita adalah mandi sekalipun kita tahu akan kotor lagi. 

Jangan bosan dengan pola ini karena Indonesia adalah negara demokrasi sehingga politik menjadi jalan satu-satunya. Kita tahu hal-hal seperti pengkhianatan, permusuhan, ketidakadilan akan terus terjadi dalam politik, tapi inilah jalan yang kita sepakati dalam berdemokrasi. Sekalipun terjal dan berbahaya, berpolitik adalah satu-satunya jalan. Ingat, tugas kita hanya berpolitik dengan baik sekalipun akan kotor lagi!

Jangan pernah takut untuk beramai sekalipun dalam kubangan politik. Jangan pedulikan kata orang-orang yang mengatakan berpolitik adalah jalan yang hina. Cukup takutlah jika niat untuk membersihkan sistem politik telah pudar dari hati, itu hanya satu persen yang hilang. Buktikan bahwa politik baik dapat menjadi harapan atas terwujudnya nilai-nilai luhur pendahulu.

Terakhir, adalah berdoa. 

Sebesar dan sekeras apa pun usaha kita untuk menghilangkan kutukan ini, tetap saja kita bukanlah apa-apa di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa. Maka dari itu kita perlu bantuan-Nya untuk memudahkan jalan yang terjal ini dan dibesarkan hati agar tetap tabah dalam jalan kebenaran. 

Semoga saja negeri ini terbangun dari mimpi buruknya ini, tersadar dan masih sempat memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

Penyunting: Halimah
Sumber gambar: geotimes